Konten Media Partner

Batal ke Jepang, 350 Calon Pekerja Migran dari Bali Tuntut Uang Kembali

Kanal Baliverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pertemuan pekerja migran dengan aktivis perempuan Bali Ni Luh Jelantik - IST
zoom-in-whitePerbesar
Pertemuan pekerja migran dengan aktivis perempuan Bali Ni Luh Jelantik - IST

DENPASAR, Kanalbali.com - Sebanyak 350 orang calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Bali yang dijanjikan untuk bekerja ke Jepang minta uang yang telah dibayarkan kepada agen dikembalikan.

Pasalnya, sejak tahun 2019 belum ada satu pun yang diberangkatkan ke negara tujuan oleh PT berinisial MAG sebagai agen perekrut dan penyalur pekerja migran ke luar negeri.

"Pada tahun 2022 perusahaan itu masih sempat merekrut peserta lagi. Sebelum akhirnya pelakunya kabur, dan kantornya tutup," kata salah satu korban penipuan, I Ketut Ratia dalam acara koordinasi penanganan kasus bersama Aktivis Bali, Ni Luh Djelantik, Kamis, (21/9/2022) malam.

embed from external kumparan

Ia mengaku sudah sempat mencari tahu legalitas PT itu di Kantor Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Provinsi Bali pada bulan Februari 2020. Setelah memastikan perusahaan perekrutan terdaftar di Disnaker, ia mendaftarkan diri sebagai peserta pelatihan bekerja ke Jepang.

Aktivis perempuan Bali Ni Luh Jelantik - OST

Namun setahun kemudian, setelah adanya salah satu korban yang rencana bekerja sebagai terapis SPA melaporkan kasus penipuan oleh PT MAG mencuat di media sosial.

Ia pun kembali mendatangi Disnaker Bali untuk memastikan lagi keabsahan perusahaan yang dipercaya dapat memberangkatkannya ke negara tujuan sebagai PMI.

"Petugas di sana bilang, oh perusahaan ini beberapa hari lagi saya akan survey, dia lagi tidak berizin," tuturnya.

Menurutnya, selain dijanjikan bekerja ke Jepang, beberapa dari korban penipuan ini juga dijanjikan bekerja ke Australia. Bidang kerja yang dipilih pun beragam, mulai dari perkebunan, terapis SPA, hingga perhotelan.

"Semua yang dijanjikan kerja ini sudah lulus sekolah, ada yang sudah punya pengalaman bekerja, ada yang sedang mencari kerja, bahkan ada satu orang sebagai Kepala Dusun," jelasnya.

Aktivis asal Bali, Ni Luh Djelantik mengatakan bahwa pada Jumat, (23/9/2022) pagi akan ada pertemuan antara Kepala Disnaker Bali dengan para korban.

"Para korban ini memiliki cita-cita untuk memperbaiki ekonomi keluarganya, karena seharusnya memang Disnaker menjadi rumah  pertama yang bisa menjadi tempat untuk menyeleksi perusahaan layak atau tidaknya," tuturnya. (Kanalbali/LSU)