BPBD Bali Upayakan Relokasi Warga di Kawasan Rawan Longsor

Konten Media Partner
23 Oktober 2021 9:33
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
BPBD Bali Upayakan Relokasi Warga di Kawasan Rawan Longsor (11343)
zoom-in-whitePerbesar
Salah-satu rumah yang rusah saat gempa di Bali - IST
DENPASAR – Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Bali tengah meyakinkan masyarakat yang bermukim di kawasan rawan bencana tanah longsor agar bersedia direlokasi ke tempat yang baru pada lahan milik negara.
ADVERTISEMENT
“Opsi relokasi menjadi rencana utama kami karena titik longsor yang saat ini dialami di Kabupaten Bangli dan Karangasem bukan yang pertama kali terjadi hingga memakan korban jiwa dan menimbulkan kerugian material,” kata Kepala Pelaksana BPBD Bali Made Rentin secara virtual dalam acara Jumpa Pers, Jumat, (22/10/2021) malam.
Ia menjelaskan, rencana relokasi harus mendapatkan kesediaan dari masyarakat untuk mau berpindah dari lokasi yang ditempati saat ini. Sehingga masih dibutuhkan waktu untuk melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai bencana yang berpotensi timbul pada lokasi pemukiman warga.
BPBD Bali Upayakan Relokasi Warga di Kawasan Rawan Longsor (11344)
zoom-in-whitePerbesar
Penutupan jalan ke lokasi tanh longsor di Kintamani, Bangli, Bali - IST
“Kami ada beberapa lahan relokasi percontohan yang merupakan tanah milik negara. Salah satu lokasi sudah ditempati oleh masyarakat Bangli yang dulunya sempat dilanda bencana banjir bandang,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
Ia berharap, untuk menjamin ketersediaan lahan yang memadai sebagai tempat relokasi, ke depan lahan-lahan yang berada dibawah pengawasan Pemerintah Provinsi Bali atau tanah negara dapat segera diproses untuk pemukiman warga yang baru.
Made Rentin menuturkan, gempa bumi dengan Magnitudo 4,8 Skala Richter menimbulkan bencana tanah longsor pada 16 Oktober 2021 berpusat di Karangasem mengakibatkan terjadinya kerusakan yang cukup signifikan Hal ini karena magnitude gempa tidak terlalu besar tapi dampaknya terhadap bangunan perumahan mencapai 1.987 unit rumah.
“Ini menjadi perhatian kita semua, karena tingkat kerentanan dan keberadaan bangunan akan berdampak pada keselamatan manusia yang berada di dalamnya,” jelasnya. (kanalbali/LSU)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020