Buat Peta Rawan Bencana di Desa, Begini Aksi Kelompok Remaja di Buleleng, Bali

Konten Media Partner
26 Mei 2022 14:30
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Wisata lumba-lumba di Buleleng, Bali Utara - IST
zoom-in-whitePerbesar
Wisata lumba-lumba di Buleleng, Bali Utara - IST
ADVERTISEMENT
DENPASAR, kanalbali.com - Bale Resiliensi Indonesia kembali menggelar diskusi mengenia pengurangan resiko bencana di tigkat loka. Acara pada Kamis (26/5) di warung Kubu Kopi, Denpasar menghadirkan pembicara Widi Astawan selaku penggerak kelompok peduli bencana desa Sumberklampok, kecamatan Gerokgak kabupaten Buleleng.
ADVERTISEMENT
Ia memaparkan kisah, bagaimana remaja di desanya melakukan kerja-kerja penanggulangan bencana diawali dengan pemetaan titik rawan bencana kebakaran hutan.
"Desa kami dekat dengan hutan, kalau musim panas sering terjadi kebakaran. Setelah mendapat pelatihan dari IDEP kami melakukan upaya untuk menanggulangi bencana," kata Widi. Pemetaan menggunakan sistem GPS. Dengan cara ini titik-titik rawan kebakaran ditandai dengan kordinatnya.
 Diskusi pengurangan resko bencana Kamis (26/5) di warung Kubu Kopi, Denpasar - IST
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi pengurangan resko bencana Kamis (26/5) di warung Kubu Kopi, Denpasar - IST
Dalam proses pemetaan ini remaja setempat harus masuk ke dalam hutan. Bahkan ada beberapa titik yang harus ditempuh dengan melewati medan terjal. "Kita masuk sampai ke dalam sampai ketemu titiknya, kendalanya biasanya di sinyal. Tapi kita siasari dengan beberapa cara misalnya dibantu dengan sinyal HP," ujar Widi.
Pemetaan titik rawan bencana juga dilakukan di titik rawan bencana longsor dan tsunami. Setelah pemetaan remaja setempat melakukan pemasangan rambu-rambu peringatan dan jalur evakuasi. Untuk saat ini sudah terpasang 30 rambu peringatan di jalur rawan bencana kebakaran.
ADVERTISEMENT
Rencananya ke depan akan dilengkapi dengan rambu bencana di daerah rawan longsor dan tsunami. "Teman-teman bekerja secara mandiri, untuk pemasangan rambu kita lakukan secara bertahap ke depan," ucap Widi.
Sementara itu Wakik Ketua Pengabdian Masyarakat dan Bela negara (abdimas) Pramuka Kwarda Bali Agus Tangkas mengatakan pentingnya memahami potensi-potensi kearifan lokal dalam bencana alam. Dia mengambil contoh bagaimana warga desa dulu mengamati perubahan musim dari pohon ketapang. Jelang musim hujan buah ketapang akan berguguran.
"Dulu kalau buah ketapang mulai jatuh maka orang desa tahu sebentar lagi musim hujan, maka mereka akan membersihkan saluran air supaya tidak banjir," kata Agus.
Dia menambahkan pengetahuan mengenai kesadaran bencana penting disebarluaskan. Pasalnya pemahaman resiko bencana bisa mengurangi potensi jatuhnyua korban. Pemeraan lokasi rawan menurutnya adalah, salah satu bentuk mengurasi resiko tersebut.
ADVERTISEMENT
Menurutnya kesadaran bencana adalah urusan semua orang. Karena siapapun berpotensi jadi korban ketika bencana terjadi. "Orang yang memiliki wawasan bencana peluang selamatnya lebih tinggi. Ancaman bencana tidak bisa dihilangkan tapi yang bisa dilakukan adalah mengurangi atau meminimalisir dampaknya," ucap Agus. (KanalBali/ROB)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020