Konten Media Partner

Budidaya Lebah Madu, Bisnis Menjanjikan di Masa Pandemi

Kanal Baliverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Budidya lebah madu petani di Bali - IST
zoom-in-whitePerbesar
Budidya lebah madu petani di Bali - IST

DENPASAR- Membangunan bisnis melalui budidaya lebah madu menjadi satu hal yang patut untuk dicoba karena selain mudah, omset yang diperoleh juga cukup menjanjikan. Apalagi di masa pandemi seperti saat ini.

"Modal awalnya, kita harus belajar mengenai siklus musim bunga karena itu adalah nektar atau sumber makanan bagi lebah," tutur petani yang kini menjadi pembudidaya madu di Bali, Ismail Marzuki, Sabtu (21/8/2021).

Kemudian, seorang yang baru mencoba membudidayakan lebah dapat memulai dengan satu koloni yang biasanya dijual seharga Rp 1,5 juta pada musim paceklik sekitar Desember - Maret. Musim ini koloni dijual dengan harga rendah karena sumber nektar sedikit, sehingga pembudidaya yang punya banyak koloni bingung mencari pakan.

Adapun dalam 1 koloni terdapat 6 sampai 8 frame, potensi madu yang diperoleh 0,6 Kg sampai 0,8 Kg per frame. Jika memiliki 8 frame dengan madu yang dihasilkan 0,8 Kg, maka dalam 1 koloni menghasilkan 6,4 Kg madu.

Sarang lebah madu menjadi produk unggulan - IST

"Biasanya per Kg harga jual Rp300.000 sampai Rp350.000. Madu yang baik dipanen dua minggu sekali, jadi potensi omset mencapai Rp2,2 juta setiap panen untuk 1 koloni," jelas dia.

Kemudian, jenis lebah madu yang baik untuk dibudidayakan salah satunya yakni Apis mellifera asal Eropa. Sedangkan lebah lokal dari indonesia ada tiga jenis, yakni Apis dorsata yang ada di hutan dan tebing, Apis cerana yang sarang di pohon, dan Apis trigona atau kele.

"Saya sendiri lebih memilih membudidayakan Apis Mellifera karena hasil madunya tiga kali lipat dari Apis cerana, dan aktivitasnya bisa dikontrol, sehingga kesehatan dan kadar airnya bisa dijaga," tambahnya.

Apis mellifera ini, imbuhnya, memiliki area kerja mencapai 5 km sehingga petani harus memastikan sumber makanan lebah pada jarak tersebut.

Dalam proses panen, jika madu dalam sarang baru terisi ⅓ persen belum bisa panen karena itu untuk konsumsi lebah sendiri. Panen biasanya dilakukan pada april untuk jenis bunga kaliandra yang berada di Bali sekitar wilayah Bedugul hingga Buleleng dan daerah Besakih Karangasem.

Pada daerah yang lebih sejuk akan mengalami proses lebih lama karena nektar yang ada dalam bunga kadar airnya 60 persen, dan 40 persen glukosa serta fruktosa. Selanjutnya, nektar ini yang masuk ke lambung lebah, disana ada enzim yang membuat madu lebih kental.

Jika kadar air sudah mencapai maksimum 40 persen baru ditaruh di sarang, kalau masih lebih dari itu maka nektar akan diberikan pada lebah lain untuk dicampurkan dengan enzim yang lebih banyak sampai benar benar mengental.

"Kalau belum mengental atau kadar air dibawah 40 persen, maka akan terus diberikan kepada lebah lainnya. Sehingga di daerah sejuk proses pengentalan lebih lama," jelasnya.

Kemudian, setelah madu diletakan pada sarangnya, tugas dilanjutkan oleh lebah jantan. Ia akan mengepakan sayapnya selama 24 jam, dengan tujuan agar kadar air madu berevaporasi atau menguap. Jika suhu diluar tinggi, seperti 33 derajat celcius pada siang hari dan 29 derajat celcius di pagi hari, maka 14 - 19 hari madu siap dipanen bisa panen.

"Waktu maksimum untuk melakukan panen yakni 21 hari dengan asumsi telur ratu menetas pada usia 23 hari," kata dia.

Menurut Ismail, jika panen madu memerlukan waktu lebih lama, kotak atau sarang lebah dibuat bertingkat 2 atau 3. Ratu ditempatkan di salah satu tingkatan paling atas atau bawah, dengan dipasangkan sekat kasa. Sehingga ratu tidak akan pergi ke tingkatan lainnya, dan bertelur di satu tempat saja.

"Teknik ini menyebabkan waktu panen bisa lebih dari 23 hari karena jumlah madu yang belum maksimal. Dengan teknik ini juga pembudidaya dapat memanen madu dan memperoleh lebah baru," ungkapnya.

Ismail merasa sangat senang jika semakin banyak orang yang tertarik dengan budidaya lebah, sehingga semakin banyak madu murni dengan kualitas bagus yang dihasilkan.

Pada akhirnya madu yang memiliki kualitas dibawah standar akan berkurang di pasaran karena produksi madu murni yang banyak akan membuat harga lebih kompetitif, dan masyarakat akan memiliki pilihan untuk memperoleh madu yang bagus.

"Banyak orang yang membuat madu sintetis menimbulkan keprihatinan yang tinggi, karena manfaat madu yang sebenarnya tidak dapat diperoleh, karena supply madu dengan mutu yang bagus tidak mencukupi kebutuhan yang ada," tuturnya. (kanalbali/LSU)