Konten Media Partner

Dalam Topeng Ada Jejak Perubahan Sosial di Bali

Kanal Baliverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dalam Topeng Ada Jejak Perubahan Sosial di Bali
zoom-in-whitePerbesar

TOPENG- Salah-satu topeng Samadi yang saat ini dipamerkan di Bentara Budaya, Bali (kanalbali/IST)

DENPASAR, kanalbali.com -- Keberadaan topeng di Bali tak hanya mencerminkan capaian seni yang tinggi, akan tetapi juga menggambarkan adanya transformasi sosial kultural masyarakat pulau ini. Tidak heran informasi tentang seni topeng juga sudah mengemuka sejak zaman Kerajaan Gelgel (abad 15-16 M).

Bahkan pada masa Kerajaan Bali Kuno, tertera pada prasasti Bebetin 896 Masehi, menyebutkan peristilahan tentang tapel, bukan hanya simbol Bhatara Bhatari, namun kala itu dihadirkan pula dalam ragam seni pertunjukan.

Kesimpulan itu terungkap dalam seri diskusi Bali Tempo Doeloe, pada Minggu, 25 Februari 2018. Narasumbernya adalah Drs. I Gusti Made Suarbhawa (Kepala Balai Arkeologi Denpasar) dan I Ketut Kodi, SSP, M.Si. (Akademisi, Dalang, Penari Topeng).

Dalam Topeng Ada Jejak Perubahan Sosial di Bali (1)
zoom-in-whitePerbesar

I Ketut Kodi, Pengamat Topeng

Warga Bali diyakini telah mengenal berbagai jenis kesenian antara lain: lakon topeng (kala itu disebut sebagai petapukan), pewayangan, dan seni tabuh. Seiring perubahan zaman serta merunut jejak historis dimaksud, topeng-topeng mengalami transformasi bentuk.

Seniman yang juga akademisi ISI Denpasar, I Ketut Kodi, mengungkapkan, dalam proses sejarah yang penjang, dari mulai era klasik hingga kontemporer, kita bisa menyanding-bandingkan antara topeng-topeng mitologis yang diyakini berkekuatan magis dengan patopengan yang biasa digunakan dalam drama tari. "Ada juga topeng-topeng kreasi modern dan kontemporer," ujarnya .

“Seni topeng kini telah bertransformasi, atau bisa saya ibaratkan seperti Tri Wikrama, yang berarti melangkah tiga kali. Dalam hal ini, topeng mengalami perkembangan fungsi dari fungsi semula yakni sebagai topeng tenget, berkembang menjadi topeng ukir, dan topeng beli-belian,” ujar I Ketut Kodi.

Sementara Drs. I Gusti Made Suarbhawa yang merupakan Kepala Balai Arkeologi Denpasar lebih memfokuskan pembahasan pada sejarah dan perkembangan topeng di Bali dari sisi arkeologisnya. (kanalbali/RFH)