Pencarian populer

Gung Tri : Pariwisata Berkualitas Bukan Soal Mahal dan Murah

I Gusti Agung Putri Astrid Kartika saat menikmati wisata bawah air di Tanjung Benoa, pekan lalu (kanalbali/IST)

DENPASAR, kanalbali.com -- Polemik mengenai pariwisata Bali terkait dengan penanganan wisatawan Tiongkok ternyata banyak mendapat perhatian pula dari berbagai kalangan di luar Bali. Sebagai anggota DPR RI, I Gusti Agung Putri Astrid pun mendapat berbagai pertanyaan mengenai masalah tersebut.

"Rupanya ini menjadi perhatian nasional," kata politisi yang akrab disapa Gung Tri ini, Kamis, 22/11 di Denpasar.

Kepada pihak-pihak tersebut, dia selalu menegaskan, bawah langkah yang diambil Gubernur Bali Wayan Koster dengan melakukan penutupan sejumlah toko ilegal sudah merupakan langkah yang tepat. Hal itu merupakan bagian dari upaya penegakan hukum yang harus dilakukan.

Sedang mengenai masalah pariwisata murah atau mahal yang menjadi pilihan bagi Bali, menurut Gung Tri, persoalannya adalah masalah kualitas. "Kualitas tidak harus mahal . Tetapi indikatornya yang harus dipenuhi," katanya.yang kini kembali menjadi Caleg DPR RI Dapil Bali dengan nomor urut 3 dari PDI Perjuangan.

BACA JUGA : DPRD Bali Selesaikan 4 Ranperda, Soal Aset Daerah hingga Atraksi Wisata

Pertama, jelasnya, adalah soal legalitas yang memberi jaminan perlindungan bagi penyedia jasa wisata dan bagi wisatawan. Termasuk dalam soal asuransi dan perlindungan bila terjadi masalah yang tak diharapkan.

Kedua, pariwisata berkualitas harus memastikan adanya keadilan bagi siapapun untuk mengaksesnya bagi sebagai wisatawan maupun penyedia jasa wisata."Artinya, tidak boleh ada monopoli pihak tertentu," ujarnya.

Dalam hal ini, tegas mantan aktivis LSM ini, diperlukan adanya pemberdayaan masyarakat lokal sehingga mereka dapat ikut mengembangkan pariwisata. "Disini peran pemerintah diperlukan. Jangan menyerahkan semuanya ke investor," tegasnya.

Indikator ketiga, kata dia, pariwisata itu harus menghormati budaya setempat serta menjaga lingkungan. Jangan sampai, tegasnya, pariwisata dikembangkan dengan merusak kedua hal tersebut. Sebab, keajegan budaya dan lingkungan itulah yang menjadi jaminan bahwa wisatawan akan tetap datang ke Bali. (kanalbali/ADV)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.38