Imbas Corona, Tradisi Omed-omedan Usai Nyepi di Bali Digelar Terbatas

Setelah dikeluarkannya surat edaran Gubernur Bali serta PHDI tentang pembatasan pelaksanaan upacara terkait Nyepi lantaran penyebaran virus Covid-19, tradisi Omed-omedan di Banjar Sesetan Kaja pun dibatasi.
Ritual saling peluk dan tarik-menarik secara bergantian antara dua kelompok muda-mudi, yang rutin diadakan setiap tahun pada hari pertama setelah Nyepi itu, kata ketua Banjar Sesetan Kaja, Nyoman Rizal Tri Lazuardi akan dilakukan secara sederhana.
"Kami telah melakukan rapat dengan para prajuru adat dan hasil dari keputusan itu, upacara omed-omedan akan dilakukan secara prosesinya saja," jelasnya Kamis (19/3).
"Untuk pesertanya juga akan kami lakukan pengecekan kesehatan termasuk suhu tubuhnya, apabila ada yang sakit diimbau untuk tidak ikut kegiatan ini," ujarnya lagi.
"Selain itu, upacara ini hanya untuk kalangan Banjar saja,"tegasnya.
Ritual Omed-omedan ini memang menjadi suatu hal yang sakral bagi warga di Banjar Sesetan. Hal ini lantaran secara tradisi, ritus ini merupakan bentuk tolak bala sekaligus bentuk upaya menjaga tali persaudaraan antar-krama (warga-red).
"Bukan tidak mengindahkan himbauan atau mengabaikan himbauan yang dikeluarkan pemerintah, namun pelaksanaan tradisi ini harus tetap dijalankan," imbuhnya Ritual itu (Omed-omedan) adalah pantang untuk ditiadakan.
"Sebab jika tradisi ini tidak dijalankan, maka akan terjadi suatu peristiwa yang tidak menyenangkan," pungkasnya.
Wayan Dudik Mahendra, Sekretaris Desa Adat Sesetan, menambahkan, untuk tahun ini pasar, panggung hiburan, dan seremonial pembukaannya ditiadakan.
Selain itu, ia juga berharap kepada masyarakat di luar Sesetan untuk tidak datang ke Sesetan untuk menyaksikan Omed-omedan yang akan digelar sehari setelah hari Suci Nyepi.
Dudik juga menjelaskan selain Omed-omedan, pihak Desa Adat Sesetan juga tetap akan melangsungkan upacara melasti seperti tahun sebelumnya. Dengan catatan, jumlah peserta juga akan disesuaikan dan yang sedang sakit untuk tidak diizinkan ikut.
"Sejujurnya hanya itu yang bisa kami lakukan, kenapa? Karena informasi yang kami dapatkan dari pemerintah juga kami anggap kurang, sehingga kalau pun kami ingin bertindak tegas di desa adat juga tidak bisa karena masyarakat pasti bertanya apakah ada warga Sesetan yang suspect corona, jangankan positif, kita ditanya suspect saja kita tidak tahu. Karena data itu kami tidak punya," ujar Dudik.
Sejatinya di masyarakat menurut Dudik juga terjadi dilema, ada sebagian masyarakat yang ingin bertahan untuk tetap melakukan upacara dengan apa yang mereka yakini, ada juga masyarakat kami yang sangat paham dengan resiko penyebaran penyakit virus corona. (KR14/ACH)
