Intrusi Air Laut Ancam Lahan Pertanian di Pemuteran, Bali

Konten Media Partner
25 September 2021 9:44
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Intrusi Air Laut Ancam Lahan Pertanian di Pemuteran, Bali (333888)
zoom-in-whitePerbesar
Peresmian sumur imbuhan dan pantau, serta persembahyangan untuk mengucapkan terima kasih kepada alam (Foto: Gusti Diah)
Memperingati Hari tani Nasional, pada Jumat (24/9/ 2021), Serikat Petani Suka Makmur di Pemuteran, Buleleng, Bali, meresmikan sumur pantau dan imbuhan untuk mengatasi ancaman intrusi air laut. Acara itu merupakan bagian dari Peringatan Hari Tani Nasional
ADVERTISEMENT
“Kami di Sumberklampok menggunakan air bawah tanah untuk pertanian. Ada cerita dari teman-teman, sekarang setiap dipakai siram tanaman, malah buat tanaman mati karena intrusi air laut,” kata Gede Suryawan, salah-satu petani.
Putu Bawa, Manajer Bali Water Protection (BWP), IDEP Foundation mengungkap, hasil tim riset BWP, Sumberklampok memiliki tanah dengan kandungan kapur yang tinggi, sehingga air laut lebih mudah masuk ke lapisan akuifer.
Intrusi Air Laut Ancam Lahan Pertanian di Pemuteran, Bali (333889)
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi tentang Pertanian, Air, dan Mitigasi Bencana (Foto: Gusti Diah)
Hal itu yang menyebabkan kandungan air tanah di Sumberklampok menjadi asin, atau bisa disebut dengan intrusi air laut.
Ia menjelaskan, sumur pantau dibuat untuk memantau fluktuasi air bawah tanah. Selain dimanfaatkan para petani, sumur ini juga digunakan untuk melihat seberapa tinggi permukaan air bawah tanah yang nantinya akan diukur setiap tahun.
ADVERTISEMENT
Setelah itu ada sumur imbuhan yang dibangun untuk mengisi air kembali ke bawah tanah, sehingga meminimalisir intrusi air laut.
Kedua sumur tersebut merupakan bagian dari kerjasama antara IDEP Foundation dengan serikat petani yang terbentuk dari tahun 1993 ini. Selain membangun sumur imbuhan di kebun kolektif petani, BWP juga membangun sumur imbuhan di beberapa titik sekitar Desa Pemuteran, yakni di Kantor Desa dan Sekolah.

Petani Lakukan Penghematan Air Tanah

Upaya ‘penghematan’ air juga dilakukan oleh SPSM saat ini. Dimulai dari mengganti metode penyiraman. “Untuk penyiraman, petani disini sebelumnya menggunakan sistem kocor dengan pipa, itu yang membuat boros, banyak terbuang airnya,” ungkap Roberto Hutabarat, aktivis lingkungan yang telah mendampingi warga dari tahun 1993.
ADVERTISEMENT
Kekurangan sistem kocor ini juga diakui Rasik--Ketua Serikat Petani Suka Makmur. Selain boros, sistem ini juga telah menguras banyak tenaga. Petani tidak hanya harus membuat saluran yang panjang, tapi juga harus menyambung dan menggeser pipa.
Mereka perlu memantau aliran air hingga proses penyiraman berakhir. Untuk itu, di lahan percontohan, kelompok tani ini kemudian beralih dengan mencoba sistem penyiraman menggunakan sprinkler.
“Kita buat terobosan dengan menggunakan kincir [sprinkler] ini, jadilah tidak boros dengan air, air juga tidak mengalir kemana-mana,” jelas Rasik. Ia pun menambahkan “memang modal lebih nambah, tapi untuk keberlanjutan malah lebih murah dan juga tidak capek,” kata Rasik.
Selain memperbaiki sistem penyiraman, petani juga mulai mencoba merubah sistem pertanian mereka yang awalnya banyak memanfaatkan produk pertanian kimia, menjadi organik.
Intrusi Air Laut Ancam Lahan Pertanian di Pemuteran, Bali (333890)
zoom-in-whitePerbesar
Penanaman bibit tanaman organik di kebun kolektif (Foto: Gusti Diah)
“Ketika kita bicara tentang menghemat air bagi petani, tidak melulu ‘menghemat air dengan menggunakan air secukupnya’ tetapi bisa dengan merubah pola tanamnya,” terang Bawa.
ADVERTISEMENT
Percobaan perubahan pola tanam ini secara perlahan juga diterima manfaatnya oleh petani untuk meminimalisir penggunaan air. Rasik pun melihat perbandingannya.
Ketika kebun dikelola tanpa kimia, air yang disiram tidak langsung terserap. Sedangkan ketika kebun terlalu banyak menggunakan kimia, air sangat cepat menyerap dan membuat tanah kering. “Waktu dikasih rabuk kimia [urea] tanah sangat mudah kering,” kata Rasik.
Selain itu, penggunaan herbisida juga berdampak pada kondisi tanah. “Kalo kita pakai racun rumput, tanah akan ikut rusak, katos dan pecah-pecah,” tambah petani yang telah berulang kali menemui pemerintah untuk memperjuangkan haknya.
(kanalbali/RLS)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020