Konten Media Partner

Jelang Hari Raya Galungan, Muda-mudi di Denpasar Ikut Lomba Membuat Lawar

Kanal Baliverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah pemuda di Denpasar mengikuti lomba lawar menjelang hari raya Galungan - IST
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah pemuda di Denpasar mengikuti lomba lawar menjelang hari raya Galungan - IST

DENPASAR, kanabali.com - Hari Raya Galungan dan Kuningan disambut dengan suka cita oleh seluruh umat Hindu di Bali. Salah satunya dengan menggelar lomba membuat lawar yang diikuti oleh seluruh pemuda dan pemudi di Kota Denpasar.

"Kegiatan lomba ini dilakukan berkaitan dengan hari raya besar umat Hindu, juga sebagai ajang pelestarian budaya bagi generasi muda," kata Ketua Panitia lomba, Ida Bagus Indra Subawa bertempat di wantilan Pura Petilan Pengerebongan, Kesiman Denpasar, Rabu, (1/6/2022)

Menurutnya, peserta lomba yang membuat lawar terdiri dari 10 tim, dan setiap tim terdiri dari tiga orang. Lawar yang dilombakan ada dua jenis, yakni lawar merah dan putih dengan durasi waktu pembuatan 90 menit.

"Dalam lomba lawar kali ini kami mewajibkan peserta menggunakan daging babi," ungkapnya.

Remaja putri menyiapkan tempat untuk mensajikan lawar - IST

Lawar merupakan makanan khas dari Pulau Dewata yang terbuat dari campuran sayur-sayuran seperti sayur nangka, kacang panjang, dan lainnya. Kemudian ditambahkan dengan daging cincang dan irisan kulit. Semua bahan dicampur dengan bumbu khusus secara merata.

Adapun selain lomba membuat lawar, juga diadakan lomba gebogan bunga dan buah yang diinisiasi oleh pemuda dan pemudi Denpasar.

Dimana peserta dari lomba gebogan buah terbagi dalam 8 kelompok, dan gebogan bunga dibagi dalam 5 kelompok dengan durasi waktu pengerjaan 12 menit.

Gebogan adalah sesaji yang digunakan dalam upacara keagamaan umat hindu. Gebogan terbuat dari buah, bunga, atau jajan yang disusun dalam satu wadah yang disebut dulang.

Salah satu tim lomba membuat lawar, Ni Putu Dian Anggreni dan Desak Putu Diyan Lalita Maharani mengaku memiliki ketertarikan sendiri terhadap proses pembuatan lawar babi ini. Meskipun satu-satu tim perempuan, dua gadis ini mampu membuat lawar dari proses menyiapkan bumbu, memotong daging, membuat adonan hingga penataan.

"Tidak ada pekerjaan laki-laki dan perempuan, semua sama. Kami wanita juga bisa membuat lawar," kata Dian.

Siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ini menuturkan bahwa setiap hari penampahan Galungan, atau sehari sebelum hari raya Galungan. Ia selalu ikut membantu orang tua membuat lawar di rumah. Namun karena dalam situasi lomba, diakuinya ada sedikit perasaan tegang saat meracik adonan.

"Memang ada sedikit rasa tegang saat membuat lawar karena situasinya beda tapi semua berjalan lancar. Kami disini buat lawar nangka merah dan putih dengan menambahkan irisan kulit babi," imbuh Desak Putu. (Kanalbali/LSU)