Jokowi : Melihat Pemerintah Ibarat Mengamati Bulan.

PRESIDEN Jokowi saat membuka temu karya nasional gelar Teknologi Tempat Guna (TTG) XX dan Pekan Inovasi Perkembangan Desa dan Kelurahan (PINDEsKeL), Jum'at (19/10) - kanalbali/KAD
JIMBARAN, kanalbali.com -- Presiden Jokowi menegaskan, untuk melihat sebuah kepemerintahan haruslah dengan cara utuh. Ia mengibaratkannya seperti bulan yang ketika dilihat dari bumi terutama saat terang bulan memang terlihat indah.
"Namun, ketika astronot datang ke bulan mereka menunjukan bahwa di bulan itu berupa bukit-bukit terjal dan padang pasir yang berlubang-lubang," katanya saat membuka temu karya nasional gelar Teknologi Tempat Guna (TTG) XX dan Pekan Inovasi Perkembangan Desa dan Kelurahan (PINDEsKeL).
Artinya, kata Jokowi pada acara yang bertempat di obyek wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK), Badung, Bali, Jumat (19/10) itu, kalau ingin melihat sesuatu secara utuh, perlu melihat dari jauh, dan juga perlu melihatnya dari dekat.
"Kita tak akan memperoleh gambaran besarnya secara utuh. Jika kita tidak melihat dari jauh. Namun kita tak akan memperoleh gambaran yang detail, gambaran yang rinci, tanpa kita melihat dari dekat secara teliti," ungkapnya.
" Jadi kita kadang harus Zoom Out dari jauh tetapi kadang kita harus Zoom In, melihat dari jarak yang dekat," tegas dia.
karena itu ia sering turun ke daerah-daerah, mulai dari desa, ke kampung atau ke pulau-pulau di Indonesia. Karena ingin melihat sendiri keadaan rillnya seperti apa.
BACA JUGA : Konferensi Dunia tentang Ekonomi Kreatif Bakal Digelar di Bali
"Persoalannya seperti apa, masalahnya apa, akan kelihatan kalau kita melihat langsung ke bawah. Banyak sekali, kebijakan tidak berjalan karena permasalahan detail di lapangan, permasalahan kecil, yang bisa mengakibatkan gagalnya sebuah pencapaian tujuan besar," ujarnya.
Presiden Jokowi, juga menceritakan bahwa banyak selama ini proyek jalan tol yang sudah berhenti atau mangkrak mulai dari 26 tahun sampai 15 tahun. Ternyata persoalannya jalur tersebut harus melewati Taman Nasional.
"Ternyata itu harus melewati taman Nasional, ternyata lahan itu miliknya Kodam, sehingga tidak ada yang berani. Kalau kita masuk, baru kita mengerti persolannya gampang. Tananhya kodam saya telpon Panglima-nya, tolong diselesaikan, nggak ada seminggu rampung," ungkapnya, disambut ribuan tepuk tangan peserta.
Presiden Jokowi, juga bercerita saat kunjuangannya ke Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) terkait korban gempa, bantuan rehabilitasi dan kontruksi rumah sudah diberikan dalam bentuk tabungan. Namun tidak jalan di lapangan.
Ternyata faktanya uangnya belum bisa cair, padahal uangnya sudah ditransfer dari Menteri keuangan dari BNBP ke daerah dan ke Bank..
"Ternyata, prosedur pengambilan itu ada 17 dan yang membuat harus rakyat. Saya cek, iya mana bisa, membuat laporan seperti itu untuk mencairkan dana. Kita rapat sebentar, kita putuskan dari 17 hanya menjadi 1 prosedur. Yang paling penting akuntabilitas itu bisa dipertanggungjawabkan. Bukan laporannya yang tinggi-tinggi dan banyak, untuk apa,? dibaca juga tidak," ujarnya.
Sementara itu acara dihadiri temu karya nasional gelar Teknologi Tempat Guna (TTG) XX dan Pekan Inovasi Perkembangan Desa dan Kelurahan (PINDEsKeL) dihadiri ribuan peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.(kanalbali/KAD)
