Konten Media Partner

Kaligrafi Jepang Karya Made Wianta Dipamerkan di Sudakara Art Space Sanur

31 Agustus 2023 11:50 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Intan Wianta bersama dua lukisan karya almarhum Made Wianta- IST
zoom-in-whitePerbesar
Intan Wianta bersama dua lukisan karya almarhum Made Wianta- IST
ADVERTISEMENT
DENPASAR, kanalbali.com - Sudakara ArtSpace berkolaborasi dengan keluarga Alm. Made Wianta menghadirkan pameran lukisan kolaborasi “Whispering Calligraphy”. Pameran bakal berlangsung dari tanggal 28 Agustus hingga 30 September 2023, di Sudakara ArtSpace, Sudamala Resort, Sanur.
ADVERTISEMENT
"Karya-karya ini terinspirasi saat Made Wianta berkunjung ke Fukuoka, Jepang pada 1985," kata Intan Wianta, istri almarhum, dalam rilis Kamis (31/8/2023).
Disana Made Wianta, terkesima melihat istana Edo dengan lukisan lukisan kaligrafi Jepang. Pada saat ini berkunjung ke Zen Caligrapher dan mencoba mengekspresikan kaligrafi dengan kuas, tinta dan kertas, hasilnya mendapat pujian dari Master Zen Calligrapher.
Bahkan sang master mengira Made Wianta memiliki darah Jepang. Sejak saat itu, Made Wianta melatih tangan dan konsentrasinya agar tercipta kaligrafi yang tidak hanya tulisan, tetapi lukisan.
Pengunjung pameran menikmati karya Made Wianta - IST
Wianta merasa bahwa setiap huruf-huruf yang indah bisa mengeluarkan bunyi seperti tanda-tanda dalam nada lagu. Sehingga sebelum dia mencoretkan kuas diatas kanvas, Wianta selalu bermeditasi pada adukan kuas dalam tinta seperti yang diajarkan Master Zen Calligrapher.
ADVERTISEMENT
Disaat hening itu Wianta mendengar bisikan kaligrafi (whispering calligraphy) seperti bisikan angin, udara, air yang kemudian menjadi ritme indah yang tertuang di kanvas dari bisikan kaligrafi.
Karya kaligrafi Wianta dengan teknik brush struck dan cipratan warna-warna yang menakjubkan terlihat sangat kompromi ketika membangun ruang dalam medium dua dimensi.
Huruf-huruf kanji Jepang katagana hiragana adalah mula inspirasi yang tidak bisa dipisahkan. Sebagai spirit asia, Wianta seolah merasa terpanggil untuk mengolah keindahan kaligrafi Jepang dalam sebentuk karya seni rupa.
Pameran lukisan itu menampilkan 18 karya Made Wianta. Seniman yang lahir pada 20 Desember 1949, menempuh pendidikan di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Denpasar, berlanjut ke Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) ‘ASRI’ yang saat ini merupakan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Selain belajar gaya klasik wayang pada lukisan Bali di Kamasan, Klungkung, Made Wianta juga memperdalam kemampuan melukisnya di Brussels, Belgia pada sekitar tahun 1970-an.
ADVERTISEMENT
“Sudakara merasa terhormat dapat memamerkan karya seni dari Alm. Bapak Made Wianta, karya-karya beliau diakui di dunia Internasional. Gaya lukis beliau selalu berkembang, dan bisa diterima oleh berbagai kalangan usia," kata Ricky Putra, COO of Sudamala Resort.
Sejak dibuka 2012, Sudakara Artspace telah memantapkan dirinya sebagai galeria terkemuka di Bali dan Indonesia. Artspace ini telah menyelenggarakan pameran kelas dunia yang menampilkan seniman Bambang Juliarta, Made Gunawan, Putu Edy Asmara Putra, Uuk Paramahita, Paul Trinidad, I Wayan Sujana Suklu, Lie Fei, Tjandra Kirana dan masih ada beberapa nama besar seniman lainnya.
Sudakara Arspace tidak hanya memamerkan karya buatan manusia, tetapi juga menyelipkan unsur-unsur pendidikan. “Sudakara Artspace konsepnya holistic, bebas plastik, kami tidak hanya slogan tapi memberikan contoh," kata Wayan Suwastana, Commercial Director of Sudamala Resorts.
ADVERTISEMENT
"Misalkan saat ini, kita sudah mulai mengurangi produksi katalog cetak, untuk pertama kali nya, pada pameran lukisan Alm. Made Wianta, kami mulai menggunakan QR code yang berisikan semua detail informasi mengenai Sudakara Artspace dan biografi lengkap seniman," katanya. (kanalbali/RLS)