Konten Media Partner

Kenalkan Pembuatan Film, Minikino Masuk ke Desa Pedawa

Kanal Baliverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga desa pun berperan dalam fim ini. Termasukdengan menjadi aktornya (RLS)
zoom-in-whitePerbesar
Warga desa pun berperan dalam fim ini. Termasukdengan menjadi aktornya (RLS)

Kesan desa Pedawa di Buleleng yang pernah identik dengan tindak kekerasan kini kian memudar, tergantikan keramah-tamahan namun tetap dibarengi kreatifitas yang semakin berani dan eksperimental. Ini

Ini dibuktikan dari hasil workshop pembuatan film yang dilakukan oleh para remaja desa Pedawa. "Workshop dilaksanakan dua hari berturut-turut dari tanggal 1-2 Juni 2019, dalam waktu total 30 jam semuanya berlangsung lancar dan menarik," kata Fransiska Prihadi selaku direktur program Minikino , Jum'at (7/6).

Workshop pembuatan film ini dilaksanakan secara swadaya oleh Minikino dengan menggandeng Kelompok Pencinta Alam Kayoman Pedawa, kelompok setempat yang aktif mendorong kegiatan-kegiatan kreatif di desa mereka.

Edo Wulia saat emberikan materi wokshop (IST)

Kegiatan ini bertempat di rumah adat Bandung Rangki, Desa Pedawa, Buleleng, Bali. Lebih lanjut, workshop ini juga bukanlah sembarang workshop film. Minikino mengajak remaja Pedawa berkenalan dengan produksi film pendek dengan menggunakan teknik one-shot.

One-shot adalah sebuah teknik produksi film dengan cara sekali rekam sampai akhir film. Walaupun terkesan sederhana, namun menggunakan teknik ini para peserta benar-benar ditantang untuk merencanakan dan mempersiapkan dirinya dengan ide cerita, rencana blocking, serta hal-hal teknis lainnya dengan selengkap-lengkapnya.

Karena, kalau terjadi kesalahan ketika proses rekam berjalan, maka adegan terpaksa diulang kembali secara keseluruhan. Proses pengeditannya pun akan mengedepankan teknik ini tanpa ada pemotongan, sehingga penonton dapat menyaksikan dan mengagumi kesinambungannya.

One-shot adalah sebuah teknik yang sulit dan menantang tenaga dan kreatifitas semua yang terlibat. Mulai pengembangan cerita, kamera, perekam audio, serta kelihaian semua tim untuk mengatur adegan-adegannya. Semua peserta harus benar-benar memahami posisi mereka dan selalu bersiap untuk spontan mengatasi kendala yang tidak terkira sebelumnya.

“Tema one-shot ini memang secara sadar kami pilih, karena ingin menempa peserta untuk lebih serius, terutama di proses perencanaan dan persiapannya. Kalau ada yang cuma setengah-setengah, pasti merasakan akibatnya pada saat produksi,” kata Fransiska.

Workshop hari pertama diawali dengan pembekalan materi oleh Edo Wulia selaku direktur Minikino, menjelaskan tentang sejarah film pendek dan dasar elemen-­elemen di dalam film. Peserta juga diberikan informasi perkembangan film pendek di dunia saat ini, agar peserta menyadari apa yang mereka bisa lakukan dengan karya film pendek, dengan pemahaman yang lebih mendalam.

Edo juga menyampaikan elemen-elemen dasar film, menekankan bagaimana elemen audio sangat berpengaruh di dalam film. Dalam sesi ini diperagakan bagaimana nuansa musik mampu mengubah persepsi penonton terhadap visual yang tampil di layar, bahkan sampai mempengaruhi jalan cerita di kepala penonton.

Setelah itu, workshop dilanjutkan dengan pemberian materi dari Made Birus selaku direktur eksekutif Minikino. Made Birus menyampaikan teknik produksi one shot serta memutarkan beberapa film hasil workshop Minikino terdahulu, yang juga menggunakan teknik one-shot.

Hal ini memberikan referensi kepada para peserta tentang bagaimana teknik one-shot di dalam film, dan hasil yang ingin didapatkan. Para peserta juga diajak melakukan simulasi produksi untuk memahami tugas masing-masing dan blocking adegan. Sebelum istirahat, diskusi pengembangan penulisan cerita juga disambut dengan antusias. Setiap peserta saling menanggapi untuk memasukkan idenya ke dalam rencana cerita film.

Gede Patra Santika, salah satu peserta one-shot filmmaking workshop menyatakan semangatnya, “Saya senang sekali bisa ikut karena selain menambah wawasan saya juga mendapat banyak hal baru, apalagi ini workshop film yang pertama kali pernah saya ikuti.”

Workshop hari pertama ditutup dengan menonton layar tancap bersama. Setelah matahari terbenam, layar tancap ini digelar untuk umum. Lebih dari dua ratus warga desa Pedawa dan desa-desa tetangganya berduyun-duyun hadir, menikmati film-film pendek pilihan. (kanalbali/RLS)