Kisah Emak-emak di Bali Bertahan Hidup dari Emas Bodong

DENPASAR, kanalbali.com - Hari menjelang senja. Namun, di sisi kanan sepanjang Jalan Diponegoro Denpasar masih terlihat sejumlah perempuan yang duduk di trotoar menggunakan kursi atum, lengkap dengan tas kecil dipangkuannya.
Mereka adalah ibu-ibu yang punya spesialisasi sebagai pembeli emas. Salah satunya, Ketut Sukeni (43). "Perhiasan yang saya beli hanya emas, biasanya warga menjual ke sini karena perhiasannya tidak memiliki surat-surat," tuturnya, Senin (13/5).
Perempuan asal Sukawati ini mengatakan sudah 16 tahun berprofesi sebagai pembeli emas. Ia mengaku, penghasilannya sebulan berkisar Rp 500.000-700.000.
"Saya biasanya ke sini pukul 10.00 WITA hingga pukul 16.00 WITA," ujarnya.
Ketut mengatakan, pekerjaan menjadi pembeli emas sudah menjadi rutinitas hariannya dan sudah menjadi sebuah kebiasaan yang sulit untuk dialihkan lagi.
Modal awalnya berasal dari dana pribadi dan dana yang kumpulkan Ketut bersama tiga orang rekannya sesama pembeli emas.
"Misalnya membeli emas dari penjual seharga Rp 2.000.000, modalnya dari kita berempat dan nanti untungnya juga dibagi berempat," jelasnya. Selanjutnya, emas tersebut akan dijual kepada pelebur emas di daerah Denpasar.
Menjadi pembeli emas di trotoar ini tidak gratis. Ketut harus membayar uang keamanan kepada pecalang setempat senilai Rp 30.000 per bulan.
Menjelang Hari Raya, biasanya banyak orang yang menjual emasnya. Putu Adit, salah satu warga yang mencoba menjual emas miliknya, mengatakan emas yang ia miliki seberat 450 gram berbentuk gelang. Rencana awalnya, emas itu akan dijual seharga Rp 425.000 per gram, sementara pembeli hanya menghargai Rp 375.000 per gram.
"Tidak jadi saya jual, karena teralu murah. Niat awal hanya mencoba untuk menjual di tempat ini, karena kebetulan lewat," jelasnya. Keinginan mencoba karena dia tak mau ruwet dengan urusan surat bila menjual di toko resmi. (kanalbali/LSU)
