Pencarian populer
Lembu Putih di Taro Gianyar, Kotoran dan Urinenya Dipercaya Jadi Obat

GIANYAR, kanalbali.com - Lembu Putih yang dipelihara dan disakralkan di Bali hanya ada di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar. Lembu putih ini telah menempati habitatnya di selatan Desa Taro sejak ratusan tahun silam.
Mereka selain menjadi pelestarian plasma nuftah, lembu ini juga bermanfaat untuk sarana upakara tertentu pada upacara Agama Hindu. Beberapa warga mempercayai, kotoran lembu dan urinenya sebagai obat alternatif.
Kelian Adat Taro Kaja, Made Tagil Kumaranatha beberapa waktu lalu membenarkan, banyak masyarakat dari berbagai daerah datang ke lokasi pelestarian Lembu Taro ini.
“Bahkan ada yang datang dari luar Bali datang hanya untuk mencari sarana obat kesembuhan penyakit yang diderita,” jelas Tagil Kumaranatha, Minggu (10/2). Masyarakat yang datang dengan berbagai keluhan penyakit, ada yang datang karena mendapat petunjuk niskala (gaib).
Baca juga : Foto : Romantisnya Kisah Cinta Dua Dunia dari Kintamani

Ada juga yang datang karena mendengar cerita, kotoran, keringat, air kencing bahkan air liur lembu Taro bisa menyembuhkan penyakit. Kotoran atau air kencingnya dicampur dengan ramuan tertentu untuk sarana obat alternative.
Tagil Kumaranatha menjelaskan ada warga yang datang memohon air kencing lembu untuk obat, untuk loloh (obat alternatif yang diminum). Ada juga yang mencari kotorannya untuk boreh(obat lulur), bahkan keringat dan air liur juga ada yang mencari untuk obat alternatif.
“Setelah memohon obat di sini kami tak tahu, apakah sembuh atau tidak. Faktanya banyak yang datang untuk membayar sesangi (kaul) karena berkat obat alternatif dari kotoran atau air kencing lembu bisa sembuh,” katanya.
Dijelaskannya, permohonan kotoran, air kencing bahkan air liur lembu terus ada. Hal ini mungkin karena kepercayaan dan keyakinan yang tinggi para penderita terhadap tuah lembu Taro yang keramat dan disucikan ini bisa menyembuhkan. “Kami tak pernah mempromosikan. Tapi memang banyak yang datang ke sini memohon obat dari lembu ini,” ujarnya.
Bagi warga yang memohon kotoran atau lainnya, tidak ada tarif tertentu. Masyarakat yang datang sebelum mencari bahan obat, terlebih dahulu memohon di sebuah palinggih Dalem Nandini, yang berlokasi tidak jauh dari kandang lembu (utara kandang), dengan sarana upakara seadanya.
Mereka bersembahyang memohon kesembuhan di pelinggih tersebut. Selanjutnya kotoran, air kencing, bahkan air liur lembu diambil di kandang lembu, digunakan sebagai sarana obat. “Biasanya kotorannya untuk boreh, sedangkan air kencing dan air liur untuk loloh,” ungkapnya.
Jumlah pupolasi lembu Taro sekarang 51 ekor. Lembu ini disakralkan oleh masyarakat Desa Taro. Lembu-lembu ini sekarang dipelihara Yayasan Lembu Taro, yang bernaung di bawah Desa Pakraman Taro. Beberapa waktu lalu, Desa Taro mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah pusat, terkait plasma nuftah dan pelestarian Lembu Putih. Tempat penangkaran lembu ini juga menjadi obyek wisata andalan di Desa Taro. (kanalbali/KR11)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: