Lomba Ogoh-ogoh Mini Jadi Ajang Kreatifitas Anak Muda di Denpasar, Bali
·waktu baca 3 menit

DENPASAR, kanalbali.com - Suasana Bale Banjar Kedaton, Kesiman, Denpasar nampak berbeda pada Minggu (20/3). Kemeriahan terasa karena Sekaa Teruna-Teruni (STT) menggelar lomba Ogoh-ogoh mini memperebutkan Piala Wali Kota Denpasar.
Puluhan karya ditata dengan rapi di atas meja yang telah disiapkan panitia. Peserta lomba yang didukung Oxygen.id ini berasal dari Denpasar dan Gianyar. Adapun pengunjung selian warga sekitar yang datang bersama keluarga, ada juga yang sekedar singgah saat melintas di jalan depan banjar.
Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara dan Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede dan sejumlah tokoh masyarakat juga hadir di acara ini. “Pemerintah Kota Denpasar tentu mendukung setiap kreativitas orang muda terutama di masa pandemi ini,” kata Jaya Negara.
Selain dukungan moril, pemerintah Kota Denpasar juga memberikan dukungan berupa bantuan materi kepada anak-anak muda yang mengembangkan kreasi dan menggelar lomba.
Salah satu peserta dari Sumerta Klod Nyoman Yogi Iswara Jelantik mengaku senang dengan adanya lomba-lomba ogoh tersebut. Menurutnya dengan adanya lomba anak muda merasa kreativitas mereka diapresiasi.
“Yang jelas senang yang dengan adanya lomba seperti ini, kreatifitas anak muda jadi terus berkembang. Selain itu ini juga sebagai ‘pelampiasan’ karena Ogoh-ogoh besar agak susah sekarang,” kata Yogi.
Dia mengatakan untuk mengikuti lomba ini dia bersama timnya bekerja selama tiga bulan. Mulai dari penyiapan konsep, mengumpulkan bahan, pembuatan sampai finishing. Mereka membuat ogoh-ogoh dengan tema “Sanggara”.
Tema ini mengisahkan tentang kondisi di jaman Kaliyuga. Dimana manusia dikuasai sifat dan prilaku buruk. Oran-orang bertengkar, korupsi, tamak dan rakyat tidak mendapat perlindungan dari pemerintah.
Lalu menjelang berakhirnya masa kali Dewa Wisnu akan muncul dalam reinkarnasinya ke 22 sebagai penghukum tertinggi yang disebut kalki. Dengan mengendarai seekor kuda kalki akan membinasakan semua orang-orang licik, egois dan tidak beradab di muka bumi. “Ogoh-ogoh ini menceritakan bagaimana Kalki turun ke bumi untuk membersihkan bumi dari sifat-sifat jahat,” kata Yogi.
Ditambahkan Yogi ogoh-ogoh ini menggunakan mesin agar bisa bergerak. Karena itu timnya harus bekerja dan mengeluarkan biaya ekstra. Sehingga pola gerak sesuai yang diinginkan. Selain itu, kerumitan membuat mini ogoh-ogoh adalah pada detail-detail kecil seperti jari tangan dan kaki.
Kerumitannya di gerak kaki manusia biar stabil karena posisi miring, detail yang kecil-kecil juga sulit. Yang garap ada 5 orang, pembagian tugasnya ada yg cek tekstur, ada yg dasar, ada juga yang garap payasan,” ujar Yogi.
Salah satu dewan juri Ida Bagus Nyoman Surya Wigenem mengatakan tantangan penentuan cukup berat karena pesertanya cukup banyak. Apalagi digarap dengan serius. Walau demikian, setidaknya ada tiga kriteria yang menjadi perhatian utama juri.
Yaitu, anatomi, keserasian dan inovasi. “Yang penting menampilkan karakter dan ide baru, baik ide cerita maupun visual. Ide cerita bebas, biasanya dari mitologi Bali,” kata pria yang akrab disapa Gusman Surya ini.
Dalam hal visualisasi yang paling penting adalah menampilkan sifatnya. Ia mengambil contoh konsepnya tentang korupsi. Yang ditampilkan bukan figur tersangka korupsi, tapi lebih ke sifat-sifat korupsi.
“Misalnya ada orang bernama A misalnya terlibat korupsi, bukan visualisasi wajah si A yang ditampilkan tapi bagaimana perwujudan buruknya sifat-sifat korupsi,” ujar Gusman Surya. (KanalBali/ROB)
