News
·
14 Agustus 2019 16:05

Lumba-lumba di Buleleng, Bali Mati Karena Gangguan Pencernaan

Konten ini diproduksi oleh Kanal Bali
Lumba-lumba di Buleleng, Bali Mati Karena Gangguan Pencernaan (529575)
Lumba=lumba saat dievakuasi dari Hotel melka setelah kematian 1 ekor di hotel itu (kanalbali/dok)
DENPASAR, kanalbali - Penyebab matinya seekor lumba-lumba di Hotel Melka, Kabupaten Buleleng, Bali, ternyata karena masalah gangguan pencernaan.
ADVERTISEMENT
"Kita baru terima hasil visumnya di situ memang ada indikator-indikator bahwa lumba-lumba itu mengalami ganguan pencernaan berarti dicoba untuk diselidiki lagi apa penyebabnya. (Penyebabnya) bisa kondisi air dan kondisi pakan," kata Budhy Kurniawan , Kepala Balai Konservasi Sumber Daya (BKSDA) Bali. di Denpasar, Bali, Rabu (14/8).
Ia juga menjelaskan, dengan hasil visum tersebut nantinya menjadi petunjuk dan alat untuk mengambil keterangan dari pihak pengelola. Mengenai adanya kelalaian terkait kematian pada Sabtu (3/8) lalu, sekitar pukul 09.00 Wita itu, pihaknya belum bisa memastikan namun jika mengarah ke hal tersebut ada mekanisme hukum sampai pencabutan izin konservasi di CV Melka Satwa.
"Nanti kita lihat, ada mekanismenya, ada mekanisme hukum ada mekanisme sanksi dan adimantrasi, ini petunjuk dan itu harus dikembangkan," ujarnya.
ADVERTISEMENT
"Iya izin lembaga konservasi. Ada mekanismenya, kayak misalnya pemegang izin yang melanggar dan ada mekanisme tahapan dari surat peringatan sampai kepada pencabutan izin," sambung Budy.
Lumba-lumba di Buleleng, Bali Mati Karena Gangguan Pencernaan (529576)
Budhy Kurniawan, Kepala BKSDA Bali (kanalbali/KAD)
Sementara terkait dua lumba-lumba yang masih berada di Hotel Melka yang belum dievakuasi. Pihaknya masih memantau kondisi dua lumba-lumba tersebut. Jika nanti kondisinya membaik tentu akan relokasi ke lembaga konservasi yang fasilitas lebih baik dan kemudian dilepas liarkan.
Selain itu, Budy juga membenarkan salah satu diantara dua lumba-lumba yang belum dievakuasi tersebut, ada yang buta di mata sebelah kanannya.
"Kita intens setiap hari ada dokter yang ngecek kesana (Hotel Melka) dengan intens. Yang satu (Buta) tapi sebelahnya kanan saja. Pasti nanti kita titipkan yang punya kapasitas yang memadai. Satwa yang lama tinggal itu kemampuan survive kan masih perlu tritmen," ujar Budy.
ADVERTISEMENT
Seperti yang diberitakan, satu ekor Lumba-lumba jenis hidung botol ditemukan mati di Hotel Melka pada Sabtu (3/8) lalu. Kini lumba-lumba tersebut tinggal 4 ekor.
Kemudian, dua ekor Lumba-lumba direlokasi Lembaga Khusus (LK) Konservasi Lumba-lumba di Pantai Mertasari, Sanur Denpasar, pada Selasa (6/8) lalu, oleh petugas BKSD Bali dan tim JakartaAnimal Aid Network (JAAN). Saat ini, sisa dua ekor yang masih berada di Hotel Melka yang belum direlokasi karena menjalani perawatan. (kanalbali/KAD)