Konten Media Partner

Masih Pandemi, Tradisi Omed-omedan di Denpasar Hanya Diikuti 3 Pasangan

Kanal Baliverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pelaksanaan Omed-omedan di Denpasar pada 2018 - IST
zoom-in-whitePerbesar
Pelaksanaan Omed-omedan di Denpasar pada 2018 - IST

DENPASAR - Gelaran tradisi Omed-omedan di Banjar Kaja, Sesetan Denpasar akan tetap digelar di tengah situasi pandemi COVID-19. Hanya saja, omed-omedan yang dilakukan tanggal Senin 15 Maret mendatang itu, akan dilakukan dengan sangat terbatas dan tertutup.

Kelian Adat Banjar Kaja, I Made Sudama mengatakan, keputusan itu ditetapkan setelah melakukan pembahasan dengan pihak adat.

"Berhubung pandemi COVID-19 belum berakhir, untuk tahun 2021, Sesetan Heritage Omed-omedan Festival ( SHOOF) ditiadakan, akan tetapi untuk tradisi Omedan-omedan tetap diaksanakan, itupun sangat singkat karena kami lebih mengutamakan prosesi ritualnya seperti tahun sebelumnya dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan yang sangat ketat," ujarnya saat diwawancarai Rabu (10/03/21).

Pelaksanaan Omed-omedan pada 2018 - IST

“Prosesinya hanya diikuti tiga pasangan, yakni 3 orang laki-laki dan 3 perempuan yang ditunjuk mengikuti prosesi," tambahnya.

Selain tiga orang pasangan tadi, beberapa pihak juga dilibatkan diantraanya Prajuru (pengurus) banjar, Kepala lingkungan, Jro mangku, anak sekaa truna (karang taruna) yang sudah dipilih , para penabuh yang terbatas, serta tenaga medis.

Omed-omedan digelar di dalam banjar tepatnya di depan merajan banjar. "Kita tidak ingin terjadi cluster COVID-19 akibat omed-omedan ini," ujarnya.

Sudama menjelaskan, sebelum acara berlangsung para peserta akan dicek dulu kondisi tubuhnya untuk memastikan kesehatan. Gelaran itu akan dikawal ketat dijaga pecalang dan dan pihak keamanan. "Kami juga tidak ada mengundang karena acara ini tertutup untuk umum, bahkan warga banjarpun kami harapkan tidak datang menonton," tegasnya

Barong babi biasnaya ditampilkan dalam tradisi Omed-omedan - IST

Pihaknya menekankan esensi ritual. Hal itu lantaran, pada mulanya tradisi yang dilakukan sehari setelah Nyepi saat Ngembak Geni itu digelar sebagai wujud tolak bala. Sebelum pandemi COVID-19 mewabah, tradisi ini merupakan momentum yang ditunggu-tunggu. Bahkan dijadikan semacam gelaran festival.

“Ada kepercayaan di wilayah kami, bagaimanapun kondisinya harus tetap digelar, kami tidak berani meniadakannya,” ucap Sudama.

Sebab, jika tidak digelar, dikhawatirkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Walau sejarahnya belum pasti, namun disebutkan bahwa omed-omedan ini berasal dari abad ke-17. Lalu, pada tahun 1979, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) meminta acara omed-omedan yang awalnya digelar tepat saat Nyepi, dipindahkan ke hari Ngembak Geni atau sehari setelah Nyepi. (Kanalbali/WIB)