Memahami Melasti, Ritual Penyucian Menjelang Hari Raya Nyepi

DENPASAR - Sebelum melaksanakan ritual Catur Brata penyepian, Minggu (14/03) mendatang, umat Hindu di Nusantara dan khususnya di Bali menggelar upacara pembersihan atau disebut juga Melasti atau Mekiyis.
Umat hindu datang ke sumber mata air baik pantai, danau dan juga sumber air di masing-masing desa untuk menyucikan pratima (patung yang disakralkan), alat-alat upacara serta mengambil tirta untuk dipakai dalam ritual tawur kesanga.
Ketua PHDI Bali, I Gusti Ngurah Sudiana menjelaskan, pelaksanaan melasti tahun 2021 ini, masih digelar terbatas untuk mencegah adanya kluster penyebaran virus corona.
"Sesuai surat edaran bersama parisadha Hindu Darma Indonesia (PHDI) Bali bersama Majelis Desa Adat (MDA) Bali terkait pelaksanaan Hari Raya Nyepi tahun Baru Saka 1943 pelaksanaannya dibatasi," ungkapnya Kamis (11/03/21).
Kata 'melasti' terdiri dari kata mala dan asti atau astiti. Mala berarti kotoran dan astiti yaitu memuja atau mendoakan atau mendoakan. Maknanya melakukan pembersihan alam manusia (bhuana alit), serta kebersihan alam semesta (bhuana agung), sehingga menjadi tenang dan damai tidak ada Panca Baya atau dijauhkan dari marabahaya.
Ia menjelaskan, dalam lontar Sundarigama dan Sanghyang Aji Swamandala disebutkan, Melasti merupakan proses meningkatkan Sradha dan Bhakti pada para Dewata dan manifestasi Tuhan, yang bertujuan untuk menghilangkan malam atau penderitaan.
Tujuannya, agar dapat mengikuti tuntunan para dewa sebagai manifestasi Tuhan. Dengan mengikuti tuntunan Tuhan, manusia akan mendapatkan kekuatan suci untuk mengelola kehidupan di dunia.
Saat upacara, para dewa yang disimbolkan pratima hadir menyaksikan ritual itu. Saat berkeliling desa, para pemangku berkeliling dan memercikan air suci kepada seluruh warga yang datang serta perangkat-perangkat peribadatan dan menebarkan asap dupa sebagai wujud kesucian.
"Melasti mengandung muatan nilai-nilai kehidupan, dipercaya dapat meminimalisir lima sifat buruk manusia," terang Sudiana.
Terdapat lima sifat buruk itu yang menjadi penyebab manusia menderita, yaitu Asmita yang berarti keegoisan, Awidya adalah kegelapan, Raga yaitu hawa nafsu, Dwesa merupakan sifat pemarah dan pendendam, dan Adhiniwesa yang merupakan rasa takut tanpa sebab.
"Kelima sifat tersebut ada dalam diri tiap individu, sehingga Melasti akan melebur semua sifat buruk manusia sebelum melaksanakan catur brata penyepian," jelasnya. (Kanalbali/WIB)
