Konten Media Partner

Pelestarian Lontar Bali Terhambat karena Masih Sering Disakralkan

Kanal Baliverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pelestarian lontar Bali di desa Bongkasa, Badung - WIB
zoom-in-whitePerbesar
Pelestarian lontar Bali di desa Bongkasa, Badung - WIB

DENPASAR, kanalbali.com - Lontar merupakan warisan leluhur yang amat berarti bagi masyarakat di Bali. Tak hanya sebagai tradisi, namun juga penopang historis dalam dunia kesusastraan sebagai wujud intelektualitas peradaban Bali.

Namun, bagi orang Bali sendiri masih ada polemik dalam upaya konservasi lontar. "Ada yang masih menganggap lontar sebagai barang yang disakralkan dan tidak sembarangan bisa dipelajari," kata I Putu Eka Mudiartikayasa, seorang Penyuluh Bahasa Bali di Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Jumat (28/10/2022).

"Secara umum sebenarnya keadaannya memprihatinkan karena masih banyak masyarakat yang memiliki lontar, tidak mau memberikan ke penyuluh bahasa Bali untuk mengkonservasikan lontarnya. Mereka masih 'nengetin' (mensakralkan-red) lontar. Padahal kan jika tidak diberi perawatan yang semestinya bisa dimakan rayap, bahkan rusak," ungkapnya.

Peralatan untuk merawat lontar Bali - IST

Di desa Bongkasa, tempat Mudiartikayasa memberikan penyuluhan bahasa Bali, diungkapkan terdapat 40 lontar warisan leluhur yang tersebar di masyarakat. Lontar-lontar itu berisikan usada (ilmu pengobatan), Banten (ilmu tentang sarana upacara), hingga kawisesan (ilmu mengenai pertahanan diri).

Ia mengungkapkan tim penyuluh bahasa Bali sebagai institusi yang dibentuk pemerintah, telah berupaya melakukan sosialisasi dan edukasi ke masyarakat mengenai cara untuk konservasi lontar yang masih tersimpan, mulai dari penyimpanan hingga perawatannya.

Tak hanya itu pihaknya juga mengajarkan anak-anak di Abiansemal untuk nyerat atau menulis lontar juga bahasa Bali.

"Kini banyak anak-anak muda di Bali khusunya bermunculan perduli dan memiliki kesadaran menulis aksara Bali dan membaca aksara Bali," jelasnya.

Agaknya menjadikan lontar sebagai salah satu warisan UNESCO merupakan perjalanan panjang. Mudiartika yasa pun tak menampik hal itu." Terkait pengakuan UNESCO, kami di Bali Masih berproses untuk menunjukan ini loh milik kita, menunjukan bahwa kita memiliki lontar dan kita dilihat (oleh UNESCO). Sebelum di klaim orang lain tentu kita berusaha untuk menunjukan bahwa kita yang memiliki tradisi lontar ini," tegasnya.

Ini perjuangan yang cukup berliku, terlebih kata dia, tantangan terbesarnya yakni anggapan masyarakat yang cenderung tergiur budaya luar." Masih ada pandangan 'ngudyang melajah basa Bali' tidak menghasilkan uang, padahal lumayan juga sebenernya kita menghasilkan dari jalan ini," ungkapnya.

Meski demikian ia tetap berjuang untuk membudayakan lontar di masyarakat. "Memang agak sulit tapi kita tetep berjuang mewariskan budaya leluhur," tandasnya. (Kanalbali/WIB)