Konten Media Partner

Peneliti UNUD Soal Sampah di Kuta: Dibawa Alur Sungai, Lebih Cepat saat Hujan

Kanal Baliverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tumpukan sampah musiman di Pantai Kuta yang selalu terjadi di musim hujan - IST
zoom-in-whitePerbesar
Tumpukan sampah musiman di Pantai Kuta yang selalu terjadi di musim hujan - IST

BADUNG - Keberadaan sampah musiman di Pantai Kuta, kabupaten Badung, Bali menjadi fenomena tahunan. Berton-ton sampah itu selalu datang saat musim hujan dan ada yang menduga adalah sampah kiriman dari luar Bali.

Dr I Gede Hendrawan, seorang peneliti dari Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Universitas Udayana mengemukakan, hal yang berbeda. “Kalau intinya semua sampah itu bersumber dari daratan, yang terbawa ke sungai dan bermuara ke laut. Laut merupakan hilir dari pergerakan sampah dari sungai-sungai di Bali,” katanya.

Sejak tahun 2014, pihaknya telah melakukan pengamatan serta penelitian untuk mengetahui pergerakan sampah yang akhirnya sampai di pantai Kuta dan beberapa pesisir pantai di Bali. Sumber sampah yang memasuki perairan laut berasal dari aliran sungai yang berhadapan langsung dengan Selat Bali di daerah Tabanan dan Jembrana.

Ia melakukan pengamatan selama tiga bulan dari bulan Juli-September, menjelang musim hujan. “Saat musim hujan, sungai telah mengalirkan sampah jauh lebih banyak daripada saat kondisi tidak hujan,” ungkapnya.

Petugas DLHK bekerja keras membersihkan sampah di Kuta, Bali - IST

Pada tahun yang sama, ia melakukan survey di sepanjang pesisir Pantai Kuta untuk mengetahui jenis sampah yang terdampar atau terdeposisi. Hasil survei memperlihatkan sampah yang terdampar di pantai Kuta, didominasi 75% sampah plastik, dengan konsentrasi rata-rata sampah sebesar 0,25/meter persegi.

“Dari jenis sampah yang telah diperoleh dapat diklasifikasikan bahwa sumber sampah yang terdapat di pantai Kuta berasal dari aktifitas di darat mencapai sekitar 52%, aktivitas laut sekitar 14%, dan aktivitas secara umum baik darat maupun laut sebesar 34%,” terangnya.

Tentu, jumlah sampah yang datang, tiap tahunnya berubah-ubah. FKP Universitas Udayana kembali melakukan penelitian pada tahun 2017. Hasilnya peta persebaran sampah tak hanya Kuta didominasi 60 % sampah plastik, dimana 45% merupakan jenis sampah adalah plastik “lunak” atau soft plastic.

Kemudian hard plastics atau plastik keras (15%) dan besi. Lainnya karet, kayu, busa, baju, gelas, dan lainnya. Dari sampah plastik itu, terbanyak adalah plastik kemasan (40%) makanan atau yang berlabel kemudian sedotan (17%), dan kresek (15%).

Sungai-sungai yang berada berhadapan langsung dengan Selat Bali di Pulau Jawa juga memiliki potensi untuk turut menyumbangkan sampah menuju perairan laut. “Namun pergerakan sampah di perairan Selat Bali masih belum dapat ditentukan, sehingga potensi Pantai Kuta menerima sampah yang berasal dari beberapa sungai di Bali lebih besar ,” tandasnya.

Hendrawan mengakui sangat sulit memantau pergerakan sampah yang jumlahnya jutaan, sehingga dibuatlah materi mengapung. Pada penelitian itu dilepas 2 materi mengapung yang dilengkapi dengan GPS dan diikuti.

Dalam jangka waktu satu bulan materi tersebut sampai di pantai Kuta. Akan tetapi pada kondisi angin ekstrim akan mempercepat pergerakan. Sementara dari peta sebaran sampah, terlihat hampir rata di seluruh pesisir. Makin besar bulatan, maka volumenya makin besar. Termasuk pantai-pantai terkenal di Bali Selatan seperti Serangan, Kedonganan, Kuta, Legian, kemudian Bali Utara, dan Bali Barat.

“Dari hasil model, secara umum sampah yang terdeposisi di Pantai Kuta berasal dari Pulau Bali sendiri, seperti dari kabupaten Tabanan dan Jembrana. Namun demikian sampah di Kuta juga disumbangkan oleh pesisir pantai di Banyuwangi dan Samudra Hindia,” ia memperkirakan. (Kanalbali/WIB)