Pengurus Mayat COVID-19 di Klungkung: Kerja Berat, Disindir Warga Banyak Uangnya
·waktu baca 2 menit

KLUNGKUNG - Berbekal semangat ngayah (gotong royong) dan niat tulus ikhlas, 20 relawan pemulasaran jenazah COVID-19 di Kabupaten Klungkung, Bali terus bekerja.
Tak ada tambahan honor atau bayaran lebih dari tugas keseharian mereka. Tapi di masyarakat khususnya di media sosial, ada warga yang nyinyir dan menganggap mereka panen rejeki saat pandemi.
Kepala BPBD Klungkung, I Putu Widiada, yang menjadi penanggung jawab pemulasaran jenazah dengan protokol COVID-19, Kamis (19/8) mengaku pada awalnya sulit mencari tim.
“Mungkin di awal pada takut karena masalah APD yang belum lengkap dan banyak hujatan dari masyarakat. Ada yang bilang disini ada bagi-bagi uang korban COVID-19, sehingga banyak yang enggan bertugas di bagian pemulasaraan,” katanya.
Tugas tim sendiri lumayan berat. Apalagi prosesi di Bali kerap dibarengi dengan kegiatan pengabenan dimana saat upacara atau pembakaran tetap dilakukan petugas dengan memakai baju asmat atau ber APD lengkap.
Tim pemulasaran Klungkung yang terdiri dari unsur petugas rumah sakit, BPBD, Satpol PP, TNI Polri secara bergiliran bertugas atau membagi diri jika yang akan di kremasi atau dikubur banyak pada hari bersamaan. Saat bertugas tim akan dibagi. Jika kremasi atau ngaben cukup 4 orang saja, namun jika dikubur jadi lebih banyak mencapai 10 orang.
Tugas biasanya menjadi lebih berat jika ada korban yang harus diseberangkan ke Pulau Nusa Penida. “Untungnya, saat ini kami sudah buat tim di Nusa Penida, sehingga jika ada pengiriman petugas disana yang akan melakukannya, dengan APD level tiga,” sebutnya.
Kabar baiknya lagi, dari 20 anggota petugas pemulasaran Klungkung, belum ada satu pun yang pernah terkonfirmasi positif COVID-19. Mereka rutin melakukan swab test untuk memastikan keselamatan saat bertugas terlebih bertemu masyarakat adat saat prosesi upacara.
Salah satu petugas relawan pemulasaran jenazah, I Made Susila yang merupakan anggota polisi Polres Klungkung mengaku dari awal adanya pandemi dan awal penguburan jenazah korban Covid-19 dirinya bertugas di bagian itu.
“Saat itu hanya beberapa orang saja yang berani, namun kini sudah ada dua puluh orang bersama dirinya bertugas,” sebutnya.
Dia mengaku suka duka sangat dialaminya, mulai ejekan disebut-sebut bagi-bagi uang setelah pemulasaran dan hal-hal lain di lokasi pemulasaran.
Namun ada kebahagiaan yang didapatkan yakni, bisa membantu para keluarga yang sedih karena salah satu anggota keluarganya menjadi korban keganasan virus ini. “Semoga menjadi karma baik saya,” ujarnya. (kanalbali/KR7)
