Polda Bali Resmikan Museum Penanggulangan Terorisme

Dua patung perunggu petugas anti teror Densus 88 menyambut di pintu masuk. Memasuki dalam ruangan, terpajang rapi berbagai benda-benda berkaitan dengan operasi penanggulangan terorisme yang selama ini terjadi di Indonesia.
Misalnya, perangkat yang digunakan oleh para petugas anti teror dalam membasmi teroris, piranti yang digunakan oleh teroris dalam menjalankan aksinya, serta dokumentasi dari operasi yang dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia sejak tahun 2002.
Begitulah sekilas isi dari Museum Penanggulangan Terorisme yang diresmikan Kapolda Bali Irjen. Pol. Petrus Reinhard Golose, Rabu (27/11). Gedung yang diberi nama Prakasa Rucira Garjita bertempat di Jl WR Supratman, Tohpati, bisa menjadi sarana pembelajaran.
"Ini untuk memberikan edukasi bagi masyarakat bahwa aksi terorisme adalah suatu hal yang harus kita waspadai. Ini juga bagian dari rekam jejak upaya penanggulangan terorisme di Indonesia," ujar Golose.
Lanjut Golose, berbagai piranti itu didapatkan dari setiap penangkapan ataupun pembasmian teroris di berbagi tempat. Komputer, robot pemantau bom, senjata penangkapan, piranti pengamanan, alat-alat pemantau, pelacak hingga berita acara pemeriksaan teroris terpajang dalam museum ini.
Menariknya, museum ini juga memajang satu unit motor yang digunakan oleh terpidana seumur hidup Ali Imron ketika menjalankan aksi saat tragedi bom Bali I pada 2002 silam. Selain itu foto sidik jadi Dr. Azhari, otak tragedi itu terpampang di sana.
Foto tragedi bom Bali I dan II, penangkapan teroris seperti Santoso, Ali Imron, Ali Gufron, Amrozi, jaringan Noordin M Toop, hingga penangkapan Abu Bakar Baasyir pun terpajang disana.
Selain museum, di kompleks ini juga terdapat sport center. "Sport center ini menjadi ruang untuk para anggota Polda Bali untuk olah tubuh serta melatih kemampuan fisik," ujar Golose. Ada beberapa spot olah raga di sport Center diantaranya tenis meja, lapangan tembak, serta pusat beladiri Kempo. (kanalbali/KR14)
