Konten Media Partner

Populasi Makin Meningkat, Begini Kondisi Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat

Kanal Baliverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto Jalak Bali di TNBB - dok. TNBB
zoom-in-whitePerbesar
Foto Jalak Bali di TNBB - dok. TNBB

BULELENG, kanalbali.com - Burung Jalak Bali atau Curik yang mempunya habitat asli di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) saat ini masih masuk dalam kategori critical endanger alias kritis. Ini gara-gara pada tahun 2006 tidak ditemukan satu pun di kawasan itu.

Namun, kondisi itu telah berubah seiring dengan keberhasilan melakuka penangkaran dilanjutkan dengan pelepasliaran. "Sekarang terpantau sudah ada 452 ekor di alam," kata Agus Ngurah Krisna selaku Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat, saat dihubungi Sabtu (20/7/2022). .

embed from external kumparan

Konservasi dilakukan olehUnit Suaka Satwa. Berawal pada tahun 2009, sejumlah penangkar menyerahkan burung Jalak Bali dan dilakukan upaya konservasi dan dikembangkan anakannya.

Foto Jalak Bali di TNBB - dok. TNBB

Pada tahun 2018, jumlah populasi Jalak Bali telah melonjak mencapai 184 ekor. Sebelum dilakukan pelepasliaran, pihak TNBB menyiapkan habituasi. Penangkaran juga dibantu oleh Asosiasi Pelestari Curik Bali (APCB).

Jalak Bali pertamakali dilaporkan penemuannya oleh Dr. Baron Stressmann seorang ahli burung, Kebangsaan Inggris pada tanggal 24 Maret, tahun 1911.

Lalu, atas rekomendasi Stressmann, Dr. Baron Victor Von Plesienn mengadakan penelitian lanjutan pada tahun 1925 dan menemukan penyebaran burung Jalak Bali mulai dari Desa Bubunan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali, sampai dengan kawasan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, dengan perkiraan luas penyebaran 320 km.

Foto Jalak Bali di TNBB - dok. TNBB

Sebaran awal populasi berasal dari pesisir utara dan selatan Bali bagian barat menempati wilayah sekitar 300 km. Perkiraan populasi awal 300 hingga 900 ekor dan di tahun 1990 habitat Jalak Bali hanya menempati wilayah seluas 25 (hingga) 3 km di Teluk Kelor dan Berumbun, Kawasan TNBB.

Lalu, pada tahun 2001 hanya tersisa enam ekor. Lama kelamaan, populasi hanya di area TNBB menghilang karena meningkatnya pembangunan dan perburuan liar. "Kami berharap statusnya akan lepas dari critical endanger ," kata Agus. (kanalbali/KAD)