Konten Media Partner

Potret Kuta, Denyut Jantung Pariwisata yang Berhenti Akibat Pendemi Corona

Kanal Baliverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pintu masuk utama Pantai Kuta yang ditutup sejak terjadinya pandemi corona - ZTE
zoom-in-whitePerbesar
Pintu masuk utama Pantai Kuta yang ditutup sejak terjadinya pandemi corona - ZTE

Ke Bali belum lengkap rasanya bila belum ke kawasan Kuta. Di masa kolonial, kawasan ini sebenarnya adalah daerah perdagangan. Namun, para surfer dan backpaker kemudian menjadikannya sebagai daerah wisata yang melegenda.

Para turis yang tersisa hanya bisa menatap pantai Kuta dari luar pagar - ZTE
zoom-in-whitePerbesar
Para turis yang tersisa hanya bisa menatap pantai Kuta dari luar pagar - ZTE

Ikon utamanya tentu adalah pantia Kuta, tempat berjemur yang ideal karena sangat landai dengan pasir putihnya. Tempat belajar yang tepat pula untuk menjajal surfing, khususnya bagi para pemula.

Paddys Pub salah-satu iko kehidupan malam di Kuta - ZTE

Di malam hari, hingar-bingar Kuta terasa melenakan. Bar, kafe dan diskotik selalu dilengkapi dengan live music. Dentaman suara mengiringi tingkah para bule, khususnya yang telah menyesap aroma alkohol.

Gang Poppies di Kuta yang sangat terkenal karena kepadatan kunjungan turis saat situasi masih normal - ZTE

Suasana itu kini terhenti sementara. Dalam masa pandemi virus COVID-19, hanya sedikit turis yang mau bertahan di Bali dan khususnya di Kuta. Kadang mereka begitu nekat karena justru memanfaatkan situasi untuk mengelilingi pulau ini.

Sejumlah turis masih terlihat berkeliaran di Kuta - ZTE

Suasana Kuta bak kota mati sejak 3 bulan terakhir. Terasa seperti saat Nyepi. Dampaknya pandemi bahkan lebih hebat dari tragedi bom Bali pada 2002 dan 2005. ( ZTE)