Konten Media Partner

Ramaikan Bulan Bahasa, Disbud Pamerkan 89 Lontar Prasi Karya Seniman Bali

Kanal Baliverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Salah-satu lontar prasi yang dipamerkan Disbud Bali - IST
zoom-in-whitePerbesar
Salah-satu lontar prasi yang dipamerkan Disbud Bali - IST

DENPASAR - Sebanyak 89 karya lontar prasi dipamerkan di Gedung pameran Kriya Hall Art Center selama sebulan penuh dari Selasa kemarin (01/02/21) hingga penghujung Februari mendatang.

Pameran bertajuk 'Prasikala Nukilan Taru Mahottama' ini digelar oleh Dinas Kebudayaan Disbud Provinsi Bali untuk memeriahkan Bulan Bahasa 2021. "Ini merupakan pameran seni prasi terbesar dan terlengkap di Bali," kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan 'Kun' Adnyana.

Kata dia, berbagai lintas generasi dilibatkan dalam pameran ini. "Seniman yang terlibat yakni sebanyak 60 orang," ungkapnya. Prasi merupakan suatu teknik seni lukis lontar tradisi di Bali. Sementara Prasikala dalam pameran ini, dalam arti luas yaitu melihat pentingnya perubahan lontar prasi abad lalu sampai masa kini baik bentuk, konsep serta konteks.

Kurator pameran, I Wayan Sujana Suklu mengatakan, berbagai karya yang ditampilkan diantaranya koleksi Taman Budaya dan Pusat Dokumentasi Lontar Disbud Provinsi Bali.

“Dinas Kebudayaan Provinsi Bali melalui event Bulan Bahasa Bali sangat tepat mengambil langkah memuliakan, mengembangkan dan menjangkar lontar prasi melalui presentasi ke ruang publik, serta makna lontar prasi juga akan dibincangkan melalui seminar dan workshop yang akan digelar serangkaian pameran,” ungkapnya.

Selain menampilkan lontar prasi juga menghadirkan dua karya instalasi berjudul “Taru Manah” karya Made Ruta dan “Pula Kerti Anyar” karya Made Suparta.

Lontar telah mengalami perubahan selama beberapa genarasi. Sehingga dalam peran ini turut menghadirkan karya dari setidaknya generasi mewakili jamannya, salah satunya Gusti Bagus Sudiasta dari Bungkulan Buleleng.

Selanjutnya hadir karya Wayan Mudita Adnyana dari Tenganan, Karangasem. Juga perupa yang lebih senior Made Ruta dan Made Suparta. Mereka menampilkan karya instalasi daun ental.

Generasi baru dari komunitas pengembang lontar prasi yakni Komunitas Operasi dan komunitas Amarasi, yang mana anggotanya merupakan mahasiswa. 14 anggota komunitas operasi berasal dari alumni Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja. Sementara Amarasi beranggotakan mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Menurut Suklu, sebagian besar perupa akademis ini mengembangkan berbagai gagasannya dalam upaya menjawab tantangan masa kini. "Mereka melihat tradisi sebagai sejarah yang terus berkembang, sehingga menemukan bahasa ekspresi lebih dinamis dengan meminjam pola lontar prasi," tambahnya.

Pameran ini dilengkapi dengan tayangan video virtual yang disebar melalui media sosial. Sehingga masyarakat dapat menyaksikan pameran ini dengan protokol kesehatan Covid-19 dan melalui media virtual di kanal Youtube DisbudProv Bali. (Kanalbali/WIB)