Respons Hasil KTT G20, Komunitas LSM Buat Maklumat Bersama Warga Sipil
·waktu baca 3 menit

DENPASAR, kanalbali.com - Pesta UMKM “Apa Kabar Kita” yang digelar di Denpasar ditutup dengan maklumat bersama (komunike) masyarakat sipil pada Minggu (20/11) malam. Maklumat terdiri dari tujuh poin yang merupakan rangkuman diskusi coffetalk yang digelar enam sesi dalam dua hari.
Komunike ini merupakan sikap bersama sejumlah LSM penggagas Pesta UMKM "Apa Kabar Kita”. Terdiri dari Walhi Bali, Frontier, Yayasan IDEP,TEMANMU, Yayasan Madani berkelanjutan, Yayasan Huma, Pikul, Kekal Bali dan debtWATCH Indonesia.
Juru Bicara debtWATCH Indonesia Arimbi Heraputri mengatakan komunike ini merupakan rumusan bersama kelompok masyarakat sipil dan seniman yang mengambil bagian dalam apa kabar kita.
“Dari obrolan selama acara kemudian melahirkan rumusan komunike sebagai maklumat bersama masyarakat sipil, warga dan seniman yang terlibat,” kata Bimbi.
Adapun tujuh poin Komunike adalah, Pertama, mendorong adanya kemandirian warga negara Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energinya sendiri , tanpa didikte oleh kekuatan luar negeri.
Kedua, mendorong negara untuk melindungi dan mendukung inisiatif-inisiatif untuk perlindungan lingkungan hidup, pemenuhan kebutuhan pangan dan energinya sendiri.
Ketiga, kepada masyarakat umum agar bersedia membuka ruang dialog antar warga secara berkala. Keempat, mendorong pemerintah menjamin kehadiran ruang dialog, baik yang diinisiasi warga maupun pemerintah agar partisipasi yang luas yang bebas dari tekanan dan intimidasi.
Kelima, mengadopsi kearifan tradisional dalam pengelolaan lingkungan. Keenam, agar pemerintah menghormati warga /rakyat sebagai tuan rumah di tanahnya , serta menjadikan warga/ rakyat sebagai mitra kerja perlindungan lingkungan hidup dan pembangunan. Ketujuh, mendorong adanya pemerintah yang bersih dan akuntabel.
Ditambahkan Bimbi lahirnya poin-poin ini tidak lepas dari situasi sosial yang dihadapi warga. Mulai dari tantangan ekonomi global akibat pandemi, ketergantungan pada produk pangan import, ancaman terhadap lingkungan akibat eksploitasi berlebihan, tersingkirnya kearifan lokal sampai terganggunya relasi manusia dengan alam akibat pembangunan infrastruktur yang cenderung destruktif pada alam.
“Kondisi kita tidak sedang baik – baik saja, solusinya adalah mandiri, swadaya dan saling bersolidaritas. Apa Yang kita lihat selam pandemic adalah warga punya daya sendiri untuk survive dan beradaptasi dengan kondisi yang ada,” ucap Bimbi.
Sementara itu penggiat lingkungan dari Yayasan Pikul Pantoro Tri Kuswardono mengatakan dari perbincangan pengalaman kondisi warga bisa baik-baik saja atau bahkan lebih baik jika saling peduli, bersolidaritas dan bangun agenda bersama. Saling bantu dengan bahagia. “Dan kita akan terus bahagia dan dilindungi alam Asal kreatifitas tak dilucuti berbagai aturan,” ucap pria yang akrab disapa Tory ini.
Bahwa setiap orang menurut Tory punya solusi atas masalahnya asal punya kebebasan. Bukan hanya mereka yang berkuasa yang bisa merumuskan solusi. “Saya ingin ucapkan kita semua bisa berpartisipasi dan turut serta menemukan solusi atas masalah yang kita hadapi,” ucap Tory. (kanalbali/ROB)
