Sacred Rythm Bangkit dengan Triangle

DENPASAR, kanalbali.com -- Sacred Rhythm terlahir kembali pasca tidur panjangnya dan kini telah diambil alih generasi muda diabad ke 21.
Dengan konsep dan tampilan yang baru, Sacred Rhythm benar-benar tampak lebih fresh dan berani mendobrak kesan individualis dari seorang seniman.
Adikara Rachman dari Sacred Bridge selaku penyelenggara mengatakan, Sacred Rhythm ini pun memadukan konsep tri angle yakni spiritualism, musik dan sains.
Menurutnya ketiga hal itu era saat ini lebih condong kepada berdiri sendiri. “Sebenarnya ke tiga hal itu satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan, tapi kenyataan saat ini ketiga itu berdiri sendiri. Nah dengan event ini kami ingin menyatukan ketiganya,”ujarnya saat ditemui seusai event di Grya Santrian Sanur. Senin (13/8).
“Memadukan Gambang, Suling Bali dan Gitar Klasik itu adalah hal nyata dari konsep tri angle. Seorang seniman tidak bisa berdiri pada satu bidang saja, harus menguasai ketiga aspek itu,”ucap Boboo, salahsatu pemusik.
Menurutnya, musik Indonesia saat ini telah mengali banyak perbuhan dan perkembangan yang cukup pesat jika dibandingkan pada tahun ‘90an.
Menurutnya, era sekarang ini musik tanah air lebih berfariatif dan berani tampil dengan memadukan konsep tradisional modern. “Jangan salah, gamelan Indonesia juga memiliki peran penting dalam perkembangan musik salah satunya adalah nada pelog,”ujar pria yang saat ini menetap di London ini.
Ditanya soal kesulitan dalam memadukan musik tradisional dan modern, Booboo mengaku memiliki banyak kesulitan terutama dari sisi penyelarasan nada. “Saya perlu waktu dua bulan untuk proses tuningnya agar benar-benar maksimal, yang kita gunakan ini gambelan jenis pentatonis dengan empat daun tentu ini diperlukan waktu lebih apalagi saya di London dan gambangnya ada di Bali,”pungkasnya. (kanalbali/GAN)
