kumparan
KONTEN PUBLISHER
28 Agustus 2018 14:54

Sanggar Seni Catur Muka Swara, Menggali Suara Emas Anak Muda Bali

PENAMPILAN Sanggar seni Catur Muka Swara di Art Centre Denpasar, Senin malam lalu (kanalbali/RLS)
ADVERTISEMENT
DENPASAR, kanalbali.com -- Meramu insan yang gemar akan dunia tarik suara bukanlah hal asing bagi Sanggar Seni Catur Muka Swara.
Hal tersebut dibuktikan melalui penampilan anak didik sanggar pada gelar Bali Mandara Mahalango 5 yang berlangusung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, Senin malam (27/8). “Sanggar ini sudah ada sejak tahun 2013, awalnya dimiliki oleh Kota Denpasar untuk mencari anak-anak yang berminat sungguh-sungguh dalam mennyanyi,” tutur I Komang Astita selalu pemimpin Sanggar Seni Catur Muka Swara.
Para penyanyi maupun musisi yang tergabung dalam sanggar adalah anak-anak pilihan dengan mengambil langkah seleksi sebelumnya. “Misalnya itu seperti Deva (salah satu anggota Sanggar Seni Catur Muka Swara-red) dia dari kecil ikut seleksi sampai kuliah seperti saat ini pun dia tetap gabung,” tambah Astita.
ADVERTISEMENT
Malam itu, instrumen yang menjadi persembahan pertama adalah Uma Sadina yang digarap oleh I Komang Astita pada tahun 1980. Garapan tersebut ditampilkan oleh Catur Muka Swara bersama Deva, Dena Ersafira, Mahalini Raharja, Meiska Adinda, Cening Wijaya, Angling, Saly, Diva, dan Wimas.
Tak hanya instrument dengan nuansa tradisional, para penyanyi pun turut mebawakan beberapa lagu kekinian, salah satunya yang dibawakan oleh Meiska Adinda, Mahalini Raharja, dan Dena Ersafira dengan lagu bertajuk All I Ask dari Adele. Lagu sendu ini pun sukses membawa penonton ke dalam haru birunya kisah friend zone yang memelit anak muda.
Setelah dibawa pada lagu kekinian, sebagai pamungkas lagu-lagu Bali pun bermunculan. Seperti Jempiring Putih sebagai lagu maskot Kota Denpasar, Ni Diah Tantri, dan Tat Twam Asi. Ketiga lagu tersebut kembali dibawakan oleh trio Meiska, Mahalini, dan Dena dengan suara merdunya kembali membalut penonton dalam suasana lagu. Ditambah dengan alunan musik yang apik semakin membuat lagu yang dibawakan kian sempurna.
ADVERTISEMENT
Menurut I Made Bandem (pengamat seni dalam Bali Mandara Mahalango 5-red) ada keharmonisan dalam garapan dari Sanggar Seni Catur Muka Swara. “Music barat dan tradisional lagu yang diaransemen bagus saling mengisi,” jelas Bandem. Namun, Bandem pun tetap memberi masukan bahwa pada garapan Astita yang bertajuk Uma Sadina sejatinya lebih cocok hanya dengan gamelan Bali saja. “Lebih cocok dengan gamelan Bali saja, tapi karena ini suatu eksperiman itu tidak boleh dilarang,” kritik Bandem. (kanalbali/RLS)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan