Satu Terduga Teroris Tertangkap di Bali Ternyata Tinggal di Denpasar

DENPASAR, kanalbali - Terduga teroris berinisial AT jaringan Abu Rara tinggal di sebuah indekos di Jalan Sedap Malam, Nomor 132, Denpasar Timur, Bali. Ia adalah satu dari 2 anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang ditangkap Densus 88
Kabid Humas Polda Bali Kombes Hengky Widjaja membenarkan, bahwa AT memang tinggal di alamat yang disebutkan di atas. “Iya” singkat Hengky saat dikonfirmasi, Sabtu (12/10) malam.
AT diduga menyewa dua indekos untuk istri dan anaknya. Saat mendatangi indekosnya di teras indekos AT terlihat berantakan dan banyak potongan besi-besi untuk dibuat kerajinan kerangka lampu. Indekos tersebut memiliki lima kamar dan AT menempati kamar di paling barat.
Tetangganya yang bernama Yoga yang tinggal tak jauh dari Indekosnya AT menyampaikan, bahwa dirinya mengenal sosok AT. Karena anaknya suka bermain dengan anak AT. Ia juga menjelaskan, bahwa AT sekitar 1,5 tahun tinggal di indekos tersebut.
"Orangnya tertutup sekali, dia (kerja) tukang las sampai malam biasanya kerja. Kadang sampai jam 11 malam. Saya tidak curiga malah kaget saya ini," kata Yoga saat ditemui di lokasi, Sabtu (12/10) .
Yoga juga menjelaskan, bahwa dirinya jarang bertemu dengan AT, yang ia tahu AT tingal bersama istri dan 3 anaknya"Saya jarang ketemu, anak saya yang (sering) main sama anaknya (AT). Yang saya tau anaknya cowok dua. Kalau orangnya biasa-biasa saja, orangnya kurus," ujarnya.
Yoga juga menjelaskan, bahwa AT kadang juga sering menerbangkan drone di atas indekosnya. "Dia sering nerbangin drone. kadang-kadang (waktu) sore," ujar Yoga.
Sementara dari keterangan Ketut Juliani yang merupakan tetangga AT di indekos tersebut menyampaikan, bahwa AT dikenalnya sebagai Bapak Taufik dan istrinya bernama Ibu Umi. Ia juga menjelaskan, bahwa AT lebih dulu menempati indekos tersebut dan perkiraan sudah sekitar 2 tahun dan berkerja sebagai tukang las kap lampu.
“Kalau mengakunya (AT) aslinya Banyuwangi (Jawa Timur). Iya kerjanya sehari-hari bikin las kerajinan kerangka lampu,” ujar Juliani. Dia menjelaskan, bahwa AT atau Bapak Taufik yang dia kenal memiliki tiga orang anak. Diantaranya anak pertama yang sudah menikah, kemudian anak kedua berumur 14 tahun dan anak ketiga 8 tahun.
Ia juga menjelaskan, dalam interaksinya berjalan dengan normal dan biasa saja tidak ada yang aneh. Kadang istrinya juga membantu AT bekerja las-nya dan keluarga tersebut juga punya pelanggan yang memesan kerajinannya.“Mereka juga sudah punya pelanggan yang datang ke sini,” ujar Juliani.
Juliani juga menjelaskan, bahwa selama bertetangga dengan AT tidak ada yang aneh. Namun, ia juga menjelaskan bahwa pada Kamis (10/10) lalu malam hari. Keluarga Taufik pamit pulang kampung dan bilang ada Paman Taufik yang meninggal dunia sehingga seluruh keluarga terpaksa pulang kampung ke Banyuwangi, Jawa Timur.
“Dia pulang kampung dan menitip rumah, dan bilang pulang kampung, bawa motor berempat. Katanya jengguk pamannya meninggal,” ujar Juliani.
Seperti yang diberitakan, Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) Polri dan tim dari Counter Transnational and Organize Crime (CTOC) Polda Bali menangkap dua orang terduga teroris yang diduga jaringan Jamaah Anshorut Daulah (JAD) dan ditangkap di Kabupaten Jembarana, Bali, Kamis (10/10) lalu. (kanalbali/KAD)
