Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten Media Partner
Suara Gaib Kulkul Terdengar Lagi, Ratusan Warga Bali Datangi Puri Klungkung
27 Maret 2020 16:14 WIB

ADVERTISEMENT
Ratusan warga, Jumat (27/3) mendatangi Puri Klungkung, Bali setelah beredar kabar berbunyinya kembali Kulkul (kentongan-red) Pajenengan secara gaib karena tidak ada yang memukulnya.
ADVERTISEMENT
Sejak pagi-pagi buta, mereka yang datang dari sejumlah kota di Bali telah mengantri untuk melakukan sembahyang. Bahkan pecalang Kota Semarapura, Klungkung terpaksa menutup jalur umum sebagai area parkir dan terus menjaga agar mereka tidak berdesak-desakan.
Semakin siang, warga semakin banyak hingga akhirnya pihak kepolisian datang dengan pasukan lengkap dan bersenjata turun bersama pihak pemerintah Kabupaten Klungkung. Mereka meminta warga tidak berkerumun dalam jumlah banyak karena situasi wabah corona dan melaksanakan upacara di rumah saja, tanpa harus datang langsung.
Setelah masyarakat Bubar dan pintu masuk ke Pura Pejenengan dalam lingkungan puri juga ditutup, kemudian dilakukan penyemprotan di areal Puri Klungkung dan areal Pura Pajenengan dengan cairan disinfektan.
ADVERTISEMENT
Salah-satu pemangku di Pura Pejenengan, Jro Mangku Suta, tidak mempersoalkan langkah yang diambil Polres Klungkung. Karena menurut dia, warga tidak harus tangkil (menghadap-red) dan nunas tirta (meminta air suci-red) ke Pura Pejenengan. Warga dikatakan cukup ngayeng (memohon-red) di merajan (tempat sembahyang) masing-masing untuk meminta keselamatan dan terhindar dari virus COVID-19. “Warga bisa ngayeng di merajan masing-masing dan minta keselamatan dan doa kepada Ida Betara di Pura Pejenengan,” katanya.
Berbunyinya kulkul pajenengan yang terdiri dari 2 buah dan diyakini sebagai pasangan lanang-wadon (lelaki-perempuan-red) itu secara gaib disebut sebagai pertanda adanya musibah besar.Kabarnya, sudah satu minggu terakhir, kentongan beberapa kali berbunyi yang didengar oleh warga luar Kota Semparapura, seperti dari Sidemen dan Dawan (Karangasem), warga di Denpasar, Kintamani (Bangli) dan sebagian warga Klungkung.
Yang paling santer terdengar adalah pada malam pangrupukan (sehari jelang Nyepi), Selasa sekitar pukul. 20.20 WITA dan pada dinihari sekitar pukul 1.30 wita kembali terdengar.
ADVERTISEMENT
Terkait hal ini, Panglingsir Puri atau juga disebut Raja Klungkung, Ida Dalem Smaraputra, mengaku sudah banyak warga yang datang ke Puri menanyakan hal tersebut. “Banyak biasanya didengar dari luar, dan itu tidak sembarangan didengar dan kami percaya itu benar,” ujarnya.
Dengan kejadian ini Ida Dalem memberikan petunjuk, agar warga Bali yang percaya agar memasang tiga daun pandan yang diikat dengan benang tridatu (tiga warna merah putih dan hitam) yang diselipi bawang putih, bawang merah dan cabai yang ditusuk.
Dan sarana ini ditempatkan menjadi satu dipasang di keluar masuk rumah sisi kanan dan isi colek pamor dengan tujuan sebagai tolak Bala. “Kulkul maswara tidak sembarangan, ada tanda marabahaya yang terjadi dan sedang mengintai kita semua, untuk itu lakukan penjagan diri dengan sarana tadi dan bersembahyanglah dan berdoa dari rumah masing-masing ditengah kondisi COVID-19 yang sedang melanda saat ini,” harapnya.
Ida Dalem juga menyebutkan, berdasarkan pengalaman sebelum-sebelumnya, jika ada mendengar pajenengan bersuara, maka akan terjadi musibah. Itu sempat terjadi sebelum bom Bali 2002 dan 2005. Pajenengan suara ini semacam alarm agar masyarakat tetap waspada secara sekala maupun niskala. “Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa,” harapnya.
ADVERTISEMENT
Pada sebelum Gunung Agung meletus kemarin juga kentongan berbunyi, musibah grubug jaman perang puputan Klungkung 1908 juga berbunyi. “Tidak hanya niskala, kegiatan besar di Puri Klungkungpun juga bunyikan kulkul ini, dan pada saat abiseka tiang juga dibunyikan,” sebutnya.
Dalem juga menyebutkan Kulkul ini sudah ada jaman Kerajaan Klungkung sebagai sarana kegiatan di kerajaan masa lampau dan diselamatkan pada saat Perang Puputan tahun 1908. (kanalbali/ KR7)