Talas Beneng Jadi Komoditi Ekspor, Petani di Bali Raup Rp 20 Juta per Minggu
·waktu baca 2 menit

DENPASAR-- Andrie Permana, (49), petani asal Kabupaten Buleleng, Bali, ini berhasil memperoleh omzet Rp 20 juta setiap minggu dengan mengekspor daun kering talas beneng.
"Permintaan ekspor talas beneng sebagian besar datang dari Australia, India, dan Turki. Adapun bagian talas beneng yang diekspor yakni daun yang sudah dicacah dan dikeringkan. Serta bagian umbi dalam bentuk tepung," kata dia, Senin, (16/8/2021).
Andrie mengungkapkan setiap minggunya, ia dapat mengirimkan 1 ton daun kering talas beneng dengan harga Rp15.000 sampai Rp20.000 per Kg, atau mencapai Rp20 juta per ton. Sedangkan untuk tepung dari umbinya senilai Rp1.000 per Kg.
"Meski umbi harganya lebih rendah, tapi kami anggap sebagai bonus saja. Karena umbi bisa dipanen pada umur 1,5 tahun hingga 2 tahun," tambahnya.
Dalam jangka waktu tersebut, imbuhnya, berat umbi talas beneng dapat mencapai minimal 20 kg. Sehingga harga satu umbi per pohon mencapai Rp20.000.
"Jika luas lahan budidaya satu hektar, dengan jumlah tanaman yang idealnya 10.000 pohon. Maka dalam satu kali panen umbi petani berpotensi memperoleh hasil Rp200 juta," ungkapnya.
Saat ini karena keterbatasan lahan dan baru mulai membudidayakan talas beneng, Andrie baru bisa mengirim 1 ton daun kering yang dikumpulkan kepada eksportir di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Ke depannya, Ia berharap agar lebih banyak lagi petani di Pulau Dewata yang membudidayakan talas beneng, dan membuka peluang bagi Bali untuk mengekspor sendiri komoditas ini.
Selain itu, membudidayakan talas beneng juga bukan satu hal yang sulit. Sebab tanaman ini tidak memerlukan perawatan khusus, dan jarang terserang hama. "Apalagi bila ada lahan tidur bisa dimanfaatkan oleh para petani di Bali, karena perawatannya mudah dan hama minim," jelasnya.
Menurut Andrie talas beneng saat ini dimanfaatkan sebagai campuran obat herbal, kompos, dan untuk tembakau di sejumlah negara. Sehingga peluang ekspor masih tetap terbuka bagi petani yang ingin serius membudidayakannya. (kanalbali/LSU)
