Konten Media Partner

Terobsesi Bangkitkan Tinju, Pengusaha Pariwisata Bali Ini Buat Wake Boxing Camp

Kanal Baliverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketut Purnama (berdiri, 3 dari kanan) bersama para petinju di Wake Boxing Camp, Gianyar, Bali - IST
zoom-in-whitePerbesar
Ketut Purnama (berdiri, 3 dari kanan) bersama para petinju di Wake Boxing Camp, Gianyar, Bali - IST

Sejumlah petinju Indonesia sempat menikmati manisnya gelar juara tinju dunia. Sebagai seorang penggemar olahraga ini, I Ketut Purnama pun selalu merasakan kebanggaan saat para petarung itu berlaga dan memenangkan gelar juara.

Namun, pengusaha pariwisata di Bali ini pun menjadi sangat prihatin karena saat ini tak satupun petinju Indonesia yang cukup bersinar namanya. "Itu alasan saya terjun di dunia pembinaan tinju dengan mendirikan Wake Boxing Camp," katanya, Minggu (14/11/2021).

Sasana yang berlokasi di Desa Keramas Gianyar kini menampung 12 orang petinju muda. Sepuluh orang berasal dari Nusa Tenggara Timur, satu diantaranya wanita. Kehadiran para petinju muda dari NTT, memicu minat 2 pemuda lokal Bali untuk ikut bergabung.

embed from external kumparan

Ia pun merekrut Julio Bria, petinju sarat prestasi di tingkat nasional dan regional untuk menjadi pelatih tinju di sasananya. Julio Bria bukan nama sembarangan. Ia memenangi medali emas Sea Games dan juara Piala Presiden yang diikuti petinju kenamaan berbagai negara.

Ketut Purnama - IST

Sedangkan di tingkat nasional, Bria adalah langganan peraih medali emas PON dan kejuaraan tinju nasional. Dalam pelatihan sehari-hari, Julio Bria dibantu asistennya, Ariyanto, petinju asal Sumba NTT.

Tekad besar itu mendapat ujian berat saat pandemi meluluhlantakkan dunia dan negeri ini. Sejumlah usahanya di bidang pariwisata bangkrut. m Padahal usahanya itulah yang membiayai operasional sasana Wake Boxing Camp. Untuk jangka pendek, ia masih bisa membiayai dari sisa-sisa tabungan.

Berhari-hari, ia mengaku dilanda kegundahan. Akhirnya, ia memutuskan sasana tinjunya tetap berjalan seperti biasa. Para petinju harus berlatih rutin setiap hari. Ia pun mencari sumber pemasukan untuk jangka menengah dan jangka panjang.

Dari hasil pemikiran, ia terinspirasi menjadi peternak kambing. "Ternak kambing memiliki peluang besar dalam jangka menengah dan jangka panjang," paparnya.

Ia lalu merogoh tabungannya termasuk mencairkan asuransi. Ia dalam tahap pertama mendatangkan 10 biang kambing dan di susul 50 berikutnya. Kambing didatangkan dari Purbalingga Jawa Tengah.

Di sela latihan, para petinju diajak memelihara kambing - IST

Bersama sejumlah petinjunya, ia belajar beternak kambing. Kandang kambing ia dirikan di tengah sawah berjarak sekitar 300 meter dari sasana tinju. Jika sasana tinju bernama Wake Boxing Camp, untuk ternak kambing, ia namai Wake Farm House.

Setelah setahun berjalan, 60 kambing tersebut beranak pinak hingga saat ini menjadi 125 ekor kambing. "Setidaknya setelah berjumlah 1.000 kambing, keuntungan sudah mulai didapat untuk membantu membiayai sasana, petinju, dan pelatihan," ujar pria beranak 4 ini.

Ternak kambing sendiri bukan persoalan mudah. Penyediaan pakan adalah hal paling berat, sebesar 80 persen biaya ternak kambing adalah di bagian pakan kambing. Ia lalu menyewa sawah untuk ditanami jagung. Daun jagungnya dimanfaatkan untuk pakan kambing setelah terlebih dulu difermentasi. Semuanya ia lakukan bersama para petinjunya disela-sela latihan tinju. (kanalbali/IST/RFH)