Konten Media Partner

Tolak Aliran Hare Krishna, Ratusan Warga Bali Gelar Aksi Budaya

Kanal Baliverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aksi budaya diawali dengan tradisi mecaru atau penyucian - WIB
zoom-in-whitePerbesar
Aksi budaya diawali dengan tradisi mecaru atau penyucian - WIB

Halaman depan museum Bajra Sandhi, Denpasar siang itu, Senin (3/8/2020) nampak riuh. Teriknya mentari tak menyurutkan semangat ratusan orang dari berbagai kalangan, tua hingga muda untuk melancarkan aksi damai parade budaya, dan penolakan aliran Hare Krishna di Bali.

Masa yang tergabung dalam forum komunikasi Taksu Bali itu mengenakan pakaian adat dan menampilkan berbagai kesenian budaya. Drama Calon arang, Joged Bumbung, Bleganjur, hingga Ngurek tak luput ditampilkan dalam gelaran ini.

Sebelum dimulai, dilakukan ritual mecaru (penyucian), kemudian digelar pentas calon arang, yang diiringi tabuhan bleganjur. Ditengah tengah aksi itu, para orator menyisipkan orasi untuk tetap mempertahankan budaya tradisi pulau dewata.

Penari barong ikut memeriahkan pawai budaya - WIB

"Kami hari ini melaksanakan parade seni budaya Bali, sebagai penolakan terhadap ajaran Hare Krishna dan ISKCON," ujar Koordinator Aksi, I Putu Agus Yudiawan."Kalau dari kami ada sekitar tujuh ratus orang yang ikut, ini juga pasti bertambah dari orang yang tergerak hatinya untuk melestarikan budaya dan tradisi Bali," katanya.

Gelaran ini merupakan kelanjutan atas polemik atas ajaran Prabupadha, pendiri International Society for Krishna Conciousnes atau Masyarakat Kesadaran Krishna. Bhagavad Gita yang diterjemahkan olehnya, dianggap berbeda dari Bhagavad Gita yang lainya. Hare Khrisna dianggap tidak sesuai dengan budaya Bali dan lebih mengesankan budaya India.

Menanggapi aksi itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Gusti Ngurah Sudiana mengatakan sah-sah saja digelar sebagai salah satu upaya menyampaikan aspirasi."Kita sudah lakukan semuanya mulai pembahasan internal pengurus harian tim walaka hingga rapat gabungan PHDI se-Bali memunculkan tim advokasi atas polemik ISCKON dan HK,"ungkpnya.

Ketua PHDI Bali IGN Sudiana - WIB

"Kita sudah panggil baik dari HK dan ISCKON ataupun masyarakat yang menolak, masukannya sudah kita bawakan dan diterima PHDI pusat,"tegasnya. Meski begitu, hingga kini belum ada jawaban resmi dari PHDI pusat atas polemik ini. Menurut penuturan Sudiana, hal itu dikarenakan masih menunggu tahapan koordinasi Sabha Walaka dan Sabha Pandita yang letaknya berjauhan. "Letaknya berjauhan, ada yang di Lampung, Jawa dan tempat-tempat lain,"katanya.

Lantaran pusat belum memberikan jawaban, PHDI Bali melakukan pernyataan atas polemik ini. "Kami membuat pernyataan supaya ISCKON tidak berada dibawah pengayoman PHDI,"ungkapnya.

Selain itu, kata dia, PHDI telah melakukan negosiasi dengan pihak Hare Krishna supaya tidak melakukan aktivitas kepercayaannya di pura-pura seluruh Bali. "Supaya mealkukan aktivitasnya di asramnya saja,"terangnya. "Hasil negosiasi dengan pihhak ISKCON, mereka telah membuat pernyataan bahwa tidak akan menggelar kegiatan kepercayaan di luar asram,"pungkasnya.

( kanalbali/WIB)