UNESCO Tegur Bali Terkait Ancaman terhadap Keberadaan Subak
·waktu baca 3 menit

DENPASAR – Akademisi Unud Sumiyati mengungkap, UNESCO telah memberikan teguran terkait adanya ancaman akan keberadaan subak di Bali yang sudah dijadikan warisan budaya dunia.
Hal itu diungkapkannya dalam “Obrolan Santai: Peranan Subak dalam Konservasi Sumber Daya Air” yang diadakan Bali Water Protection pada Jumat, 27 Agustus 2021.
Sumiyati pun mengungkap, beberapa hal yang menjadi menjadi perhatian terkait konservasi subak, antara lain, program-program pembangunan di Kawasan subak Jatiluwih, Tabanan yang lebih ditujukan untuk pariwisata dan mengorbankan sawah untuk fasilitas infrastruktur, termasuk pembangunan helipad.
Kemudian, subak juga terancam kondisinya karena adanya pembangunan jalan tol Gilimanuk Mengwi yang menghantam 188,8 ha sawah, 50 ha hutan lindung, dan 67,5 ha hutan di Taman Nasional Bali Barat. Ketiga, soal aktivitas di hulu yang telah merusak sumber air ke hilir.
Lebih jauh dalam rilis dari panitia diskusi, Sumiyati menyebut, berdasarkan penelitian yang ia lakukan, telah terjadi gangguan di hulu sebagai daerah resapan air, sehingga berdampak pada saluran irigasi.
Gangguan terbesarnya adalah pembangunan industri akomodasi pariwisata dan hunian yang sangat masif serta kehadiran perusahaan air minum di daerah resapan air. “Ketika hulu terganggu dan tidak bisa menyerap air, maka sumber mata air juga akan terganggu, contohnya musim hujan bisa banjir dan musim kemarau sangat kering,” ungkap peneliti yang memfokuskan kajiannya mengenai subak itu.
Disamping air yang sangat berperan pada kelangsungan subak dan pangan di Bali. Subak juga memiliki peranan penting dalam upayanya melindungi sumber daya air. “Subak memiliki peran besar sebagai tampungan air, dimana sawah menawarkan lapisan tanah yang mudah menyerap air masuk ke dalam lapisan akuifer,” jelasnya.
Kemudian subak berperan dalam memfilter air masuk ke dalam tanah karena sistem hidrologis subak dengan batuan-batuannya. Selain air, subak juga berfungsi dalam upaya konservasi udara dan ekosistem. Sistem yang tercatat dalam prasasti sejak abad ke-11 ini juga berperan untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat.
Keprihatinan atas kondisi Subak juga diungkapkan Kadek Suardika, seorang mantan Pekaseh (pengelola-red) Subak. “Setelah tahun 2015, di daerah saya [Subak Uma Lebah, Desa Petulu, Gianyar] debit air mulai menurun dan lahan kering bertambah satu hektar setiap tahunnya,” ungkapnya.
Berdasarkan pengamatan Kadek, hingga tahun ini [2021] ada 10 hektar lahan yang sudah tidak produktif karena tidak ada lagi aliran air kesana. Akhirnya masyarakat pun mengalihfungsikan lahannya ke hal-hal lain, seperti mengontrakan atau menjual tanahnya untuk dibangun hotel.
Pembangunan pariwisata dan hunian menurut Kadek telah berdampak pada debit air yang semakin berkurang dan tidak sebaik dahulu. Sampah di aliran sungai pun turut andil dalam masalah ini. Kadek juga bercerita tentang pengalamannya mengolah lahan, “setelah hujan, saya coba menggali sawah, ternyata di bagian bawah tanah sudah mengeras, sehingga air tidak bisa masuk ke dalam.”
Kadek menyadari bahwa tanah yang sehat sangat berpengaruh terhadap penyerapan air dan keberlangsungan subak itu sendiri. “Saat ini kondisi tanah di Bali sudah mulai menurun, karena penggunaan pestisida dan herbisida yang menghilangkan kehidupan dalam tanah,” jelas pria yang saat ini aktif di Yayasan Emas Hitam dengan gerakan Mari Berkebun.
Penggunaan bahan-bahan kimia dalam pertanian telah berdampak pada kondisi tanah. Lambat laun kualitas tanah akan menurun dan tidak produktif lagi, sehingga menjadi kering dan air tidak lagi terserap dengan baik. (kanalbali/RLS/RFH)
