Upaya 'Menyambung' Nyawa Bayi Kembar Siam di Denpasar

DENPASAR, kanalbali.com - Putu Ayu Sumadi (18) melahirkan anak kembar hasil buah cintanya dengan sang suami, Kadek Redita (24), lewat operasi bedah caesar di RS Santi Graha, Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali, sekitar pukul 16.00 WITA, Rabu (3/7). Beratnya normal, 4,2 kilogram, dan memiliki panjang 49 sentimeter.
Namun, kondisi anak kembar Putu dan Kadek tidak seperti pada umumnya. Keduanya lahir dalam keadaan kembar siam atau kembar dempet. Akhirnya, untuk mendapatkan penanganan lebih intensif, sekitar pukul 17.00 WITA, Kamis (4/7), bayi kembar siam itu dirujuk ke RSUP Sanglah, Denpasar. Kini, keduanya masih ditempatkan di NICU Ruang Cempaka, RSUP Sanglah.
Lantas, bagaimanakah kondisi bayi kembar siam tersebut?
Menurut Tim RSUP Sanglah, hingga kini pihaknya masih terus melakukan observasi kepada buah hati Putu dan Kadek. Ia juga membantah anggapan umum terkait tindakan pemisahan yang harus segera dilakukan kepada bayi kembar siam.
"Anggapan (bayi kembar siam) begitu lahir harus cepat dipisahkan, itu stigma yang salah. Untuk sampai pada tahap pemisahan itu diperlukan proses," kata I Made Darmajaya, dokter spesialis bedah anak RSUP Sanglah, saat menggelar konferensi pers di RSUP Sanglah, Jumat (5/7).
Darmajaya juga mengungkapkan, tidak ada dokter yang melakukan operasi pemisahan kembar siam ketika kondisi bayinya baru beberapa hari setelah dilahirkan.
"Malah ada yang dempet kepala setelah umur 25 tahun baru dipisahkan. Malah ada rata-rata umur 1 dan 2 tahun dipisah. Karena apa? Hal itu untuk menentukan bahwa dia bisa hidup dulu. Tidak semua kasus kembar siam bisa survive," ujarnya.
Darmajaya mengatakan, kasus kembar siam di RSUP Sanglah bukanlah yang pertama kali. Untuk kasus kembar siam yang dempet di bagian perut, menurutnya, harapan hidup bayi bisa lebih tinggi, tergantung dari hasil pengamatan, misalnya organ-organnya apakah masih berfungsi dengan baik atau tidak.
"Nah sekarang ini, kemungkinannya survival karena di hari 3 (kondisi bayi) masih baik. Tetapi masih terlalu dini mengatakan bahwa ini masih hidup. Tetapi, minimal kita bisa memberikan penjelasan, hari ketiga dia masih survival dengan tanda-tanda vital yang baik dengan fungsi pencernaan yang baik," ujarnya.
"Nanti kita tinggal walk up kalau dia bisa minum bagus, anaknya stabil kita bisa dengan tenang melakukan pemeriksaan apa pun. Untuk menentukan, apakah ini kasus yang bisa dipisah atau tidak," tambah Darmajaya.
Menurut Darmajaya, dilihat dari pengamatan luar, kondisi bayi kembar siam pasangan Putu-Kadek dalam keadaan baik. Sementara, untuk pengamatan di dalam tubuh butuh pemeriksaan lewat USG.
"Kita lihat anusnya bagus kalau dia berfungsi membuang kotoran berarti 'kan berfungsi bagus ususnya. (Kalau) jantung (kedua bayi) bisa didengar tapi jantungnya normal itu 'kan perlu pemeriksaan dan nanti USG yang menentukan itu. Kalau kondisinya semuanya baik-baik saja," ujarnya.
Nantinya, kata Darmajaya ada tim lain yang akan melakukan pemeriksaan secara berkelanjutan terhadap bayi, dengan memeriksa bagian dalam tubuh bayi kembar siam tersebut.
"Nanti akan ada yang akan mengerjakan USG melihat levernya. Foto rontgen-nya bisa diulang melihat komposisi ususnya di sebelah mana. Nanti, dokter jantung akan memastikan, kalau dua jantung normal apa tidak. Bisa saja dengan dua jantung tapi kelainan," ujarnya.
Darmajaya juga menjelaskan, untuk operasi pemisahan kedua bayi tersebut masih butuh waktu yang lama. Ia mengatakan, kedua bayi itu berdempet pada dinding dada dan dinding perut.
"Jadi di dinding dada dan di dinding perut. Kalau tiba nanti saatnya kita melakukan operasi. Perlu waktu dan masih terlalu jauh. Sebaiknya kita berdoa semoga anak ini survive dan diagnosa yang menjadi survival dan menjadi kasus yang bisa dipisah," ujarnya.
Darmajaya menerangkan, terkait proses operasi nantinya tentu akan dilakukan di RSUP Sanglah. Tetapi, bila nanti ditemukan kelainan, maka pihak RSUP Sanglah akan mendatangkan dokter ahli dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo, Surabaya, Jawa Timur.
"Tapi pasti nanti kita akan kerjakan di sini, tapi tergantung kelainannya. Kalau kelainan perlu mendatangkan ahli lain dari luar yang punya pengalaman. Yang berpengalaman adalah RSUD Soetomo. Karena kita pun dalam wilayah supervisi dia dalam hal penanganan kembar Siam," ujarnya.
"Dia (ahli) yang kita datangkan bukan untuk mengerjakan, untuk melihat kita bekerja kalau ada hal-hal yang di luar teori dia akan menyampaikan kita lebih awal," ujarnya.
Di tempat yang sama, I Wayan Sudana selaku Direktur Utama RSUP Sanglah Denpasar menyampaikan, untuk persoalan biaya pasien sudah dipastikan ter-cover BPJS. Jadi, orang tua bayi tersebut tidak perlu memikirkannya.
"Namun, untuk biaya operasional, tidak bisa dipastikan karena banyak tahapan-tahapan yang nanti belum diketahui selanjutnya. Dan berapa dokter spesialis yang akan diterjunkan," ujarnya.
(kanalbali/KAD)
