Konten Media Partner

Usai Hilang Ingatan hingga Gagal Ginjal, Ketua Panwascam di Bali Wafat

Kanal Baliverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
I Gede Artana saat dirawat di RS Sanjiwani, Gianyar (kanalbali/IST)
zoom-in-whitePerbesar
I Gede Artana saat dirawat di RS Sanjiwani, Gianyar (kanalbali/IST)

DENPASAR, kanalbali.com - Setelah hampir satu pekan dirawat di rumah sakit, Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Kecamatan (Panwascam) di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, I Gede Artana (52), meninggal dunia pada sekitar pukul 14.00 WITA, Minggu (12/5).

"Teman-teman di Kabupaten Karangasem sudah ke sana. Saya besok ke sana mungkin pagi rencananya sekitar jam 10," kata Ketut Ariyani, Ketua Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) Bali, Minggu (12/5).

Almarhum sebelumnya sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Sanjiwani, Kabupaten Gianyar, Bali, selama satu pekan. Adapun, saat itu ia dirawat karena sakit gagal ginjal. Hari ini, jenazah almarhum sudah dibawa ke rumah duka.

Ariyani juga menjelaskan, mengenai santunan, pihaknya sudah menyampaikan kepada Bawaslu RI terkait adanya para petugas yang meninggal dunia maupun sakit saat menjalani tugas di hari Pemilu pada 17 April 2019.

"Kita sudah sampaikan ke langsung (Bawaslu) RI. Nanti kalau realisasi sumbangannya itu seperti apa, ketentuannya yang menentukan adalah dari Pusat. Jadi kalau nanti, distribusikan kepada yang meninggal mungkin melalui Bawaslu Provinsi. Kita akan akan undang pihak keluarga apabila santunannya sudah turun," tutupnya.

Seperti yang diberitakan, almarhum I Gede Artana sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Sanjiwani pada Selasa (7/5). Awalnya, Artana tiba-tiba hilang ingatan saat melaksanakan tugas mengawal tahapan rekapitulasi di tingkat kecamatan beberapa waktu lalu. Ia lantas dirawat jalan di Puskesmas setempat, tapi karena kondisinya terus menurun, akhirnya di rujuk ke Rumah Sakit Sanjiwani pada Senin (6/5).

Sementara rekan kerja almarhum, yakni Wayan Sudarma, menjelaskan bahwa rekannya itu memang sudah mengalami sakit sejak tahapan distribusi logistik.

"Beliau memang agak sakit saat pengawasan distribusi logistik. Tanggal 16 April saya bersama beliau sempat patroli menemui teman-teman pengawas TPS hingga pukul 03.00 dini hari (WITA). Lanjut tanggal 17 April, satu hari penuh sampai tanggal 18 April mengawal tahapan pemungutan dan penghitungan," ujarnya Selasa (7/5).

Sudarma juga menegaskan bahwa dari tanggal 18 hingga 26 April, almarhum bekerja keras mengawal rekapitulasi suara.

"Saat pengawasan rekapitulasi di kecamatan itulah saya melihat beliau sangat kelelahan. Saya sarankan agar istirahat, tapi tetap ngotot bertahan dengan alasan biar tuntas. Akhirnya tanggal 2 Mei benar-benar drop," cerita Sudarma.

(kanalbali/KAD)