Video Porno 'Kebaya Merah' Sempat Diduga di Bali, Ini Tanggapan Seksolog Unud

Konten Media Partner
10 November 2022 13:32
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Screenshot video 'Kebaya Merah'' yang awalnya diduga dibuat di Bali - IST
zoom-in-whitePerbesar
Screenshot video 'Kebaya Merah'' yang awalnya diduga dibuat di Bali - IST
DENPASAR, kanalbali.com - Dosen Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Unud, Dr Oka Negara menyebut, pembuatan video porno yang sering dikaitkan dengan Bali adalah upaya meningkatkan nilai jual.
"Kalau misalnya dikaitkan dengan tempat lain mungkin belum tentu akan sama nilainya," ungkapnya, Kamis (10/11). Seperti pada konten video porno kebaya merah memiliki nilai komersil yang tinggi ketika mencuat di media sosial. Meski kebaya bukanlah identitas utama budaya di pulau Dewata, saat melihat video orang akan tergiring pada opini bahwa adegan di video itu dilakukan di Bali.
Di sisi lain, saat viral di media sosial, Dr Oka melihat, yang paling ramai membicarakan konten itu pun orang Bali sendiri.
"Citra Bali dengan segenap identitas budaya hingga masyarakatnya menjadikan pulau itu memiliki ciri khas tersendiri di benak banyak orang," katanya.
Dosen Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Unud, Dr Oka Negara - IST
zoom-in-whitePerbesar
Dosen Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Unud, Dr Oka Negara - IST
Menurut Dr Oka, persepsi bahwa video dilakukan di Bali, mengarah kepada penggiringan opini publik oleh pihak yang menyebarkan konten itu di media sosial.
Namun dia mengingatkan, mau dibuat di Bali atau tidak, tak perlu diambil serius. Apalagi konten komersil bisa dibuat edisi yang lain. Si pemesan video memiliki fantasi tersendiri sehingga meminta AH dan AC membuat konten itu.
Dr Oka berpendapat, pelaku AH dan AC tak memiliki niat untuk menciptakan citra buruk bagi Bali, apalagi menimbulkan kegaduhan. Apa yang mereka lakukan hanyalah memenuhi permintaan untuk membuat video dengan memakai kebaya dan suasana di hotel.
"Kalau yang buat video tidak sampai kesana niatnya. Mereka hanya membuat edisi itu. Untuk makin konten lebih tepat dengan judulnya, gak mikir sampai menghancurkan masyarakat Bali," jelasnya.
Ia meminta masyarakat tak perlu menanggapi fenomena itu dengan serius. Terlebih para pelaku telah berkali-kali membuat konten porno dengan tujuan untuk dijual. Jadi jangan membuat itu terlalu serius, karena ini ada nilai fantasional, asal bijak melihatnya," tambahnya lagi.
Seperti diberitakan, Ditreskrimsus Polda Jatim menemukan 92 video mesum yang diproduksi pemeran video wanita kebaya merah. Kedua tersangka, AH dan ACS, mengaku kerap mendapat pesanan video mesum dengan berbagai tema sesuai pesanan pembeli.
Kedua pelaku sendiri telah ditangkap oleh aparat kepolisian di Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu. Selain itu diungkapkan video asusila Kebaya Merah ternyata dibuat delapan bulan lalu berdasarkan pesanan dari sebuah akun Twitter. Para pemeran mendapatkan bayaran Rp 750.000 atas pesanan pembuatan konten itu. (Kanalbali/WIB)