Konten Media Partner

Viral Mesum di Mobil yang Melaju, Seksolog: Fantasi Seks Akibat Pengaruh Medsos

Kanal Baliverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi : video mesum - IST
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi : video mesum - IST

DENPASAR, kanalbali.com - Menanggapi fenomena beredarnya video mesum di dalam mobil yang sedang melaju, dosen dari Departemen Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (Unud), Dr Oka Negara menyebut sebagai wujud fenomena seksual beresiko.

Fantasi ini berkembang seiring perkembangan media sosial yang memberikan berbagai referensi pornografi.

"Akhir-akhir ini memang sering saya temukan video-video adegan seksual pribadi, baik remaja, orang dewasa yang viral di media sosial. Termasuk yang lokasinya di Bali. Saya hampir setiap hari mendapat informasi terbaru," kataKetua Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) Denpasar itu saat diwawancarai, Selasa (13/09).

Menurut Dr Oka Negara, dari segi ilmu seksologi medis, dari segi perilaku ada dua, yaitu perilaku seks yang sehat dan tidak sehat. "Tapi khusus untuk seksual, kita sebutnya sebagai perilaku berisiko dan tidak berisiko atau perilaku yang aman dan tidak aman. Yang berisiko, ini sebetulnya kita ngomongin penyakit," imbuhnya.

Yang berisiko ini, jika pelaku dalam keseharian melakukan hubungan seksual berganti pasangan, atau berhubungan dgn orang yang tidak diketahui status kesehatan seksualnya, tanpa menggunakan proteksi kondom, ini yang berisiko mengundang penyakit yg disebut infeksi menular seksual atau IMS.

embed from external kumparan

Faktor penyebabnya pun banyak, salah satunya adalah banyaknya tayangan video porno yang beredar di medsos.

Saat ini banyak remaja terpengaruh untuk memulai melakukan hubungan seksual berisiko sejak dini.

"Mereka berpikir 'oh itu sudah banyak yang begitu toh' . Jadi mereka punya rekomendasi, ada referensi, artinya untuk melakukan itu tidak dilarang lagi, buktinya beredar. Jika dilihat beredar banyak, mereka akan berpikir wah sudah pada ngelakuin, jangan-jangan aku telat, jangan-jangan aku sendiri yang belum ngelakuin," jelasnya.

Dosen Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Unud, Dr Oka Negara - IST

Saat ini malah hubungan seksual malah menjadi konsumsi publik karena banyak yg mendokumentasikan dengan mudah menggunakan gadget, seperti telepon genggam pribadi. Akhirnya tersebar dan menjadi viral.

embed from external kumparan

Semakin viral, semakin banyak pula orang yang menonton. Jika seseorang sudah memutar video porno dan bisa disimpan, sewaktu-waktu kemungkinan diputar lagi.

Di kamar sendirian, muncul fantasi seksual, mulai bangkit dorongan seksualnya, sehingga berlanjut melakukan aktivitas seksual sendiri, seperti melakukan masturbasi, atau malah mengundang pacar atau pasangan ke rumah untuk melakukan aktivitas seksual.

"Kalau zaman dulu paling nonton video di rumah teman, habis itu pulang ke rumah tidak ada lagi referensinya. Tidak bisa ditonton lagi. Belajar dia lagi. Sekarang kan sudah ada di handphonenya. Di kamar sendirian, sambil berfantasi, mengeluarkan alat kelamin, apalagi perempuan sendiri," ujarnya.

Tak bisa dipungkiri lagi, kehadiran media sosial kerap disalahgunakan, termasuk untuk penyebaran konten kekerasan hingga pornografi.

Sebelumnya, warga Bali digegerkan oleh beredarnya video pasangan mesum di dalam mobil yang sedang melaju. Dalam video berdurasi 29 detik itu, keduanya mengenakan pakaian adat. Saat melakukan perbuatan tak senonoh itu, pihak lelaki itu terlihat sambil menyetir dan bermain handphone dan dapat membahayakan diri sendiri serta pengguna jalan lainnya.

Apakah Ini Perilaku Seksual Menyimpang?

Dr Oka Negara menjelaskan perilaku seksual yang tidak sehat disebut dengan istilah pharapilia. Gejalanya, seseorang akan menikmati aktivitas yang tidak biasa.

Kemudian juga yang suka berhubungan seksual dengan orang yang tidak bernyawa atau dibuat tidak sadar yang disebut dengan Necrophilia Itu semua berkaitan dengan gangguan kejiwaan. Jenis yang lain adalah Sadomasochisme di mana yang satu suka menyakiti, sementara pasangannya suka disakiti.

Misalnya eksibisionis, menakuti orang dengan membuka alat kelamin, atau ngintip orang tapi tidak suka berhubungan seksual. Termasuk juga Pedofilia dengan anak kecil.

"Berapa banyak orang yang suka berhubungan seks beramai-ramai, ternyata ada. Hanya saja tidak terekspos. Keberadaan gadget saat ini yang bisa merekam, itulah yang menjadi promosi," katanya.

Jadi, apa yang dulu menjadi ranah pribadi sekarang menjadi ranah publik dengan berbagai versi, persepsi, dan respons yang berkembang.

"Sama halnya kemarin ketika ada yang masturbasi menggunakan timun yang beredar, tapi ternyata setelah saya survei ke beberapa perempuan, sebagian pernah masturbasi ada yang pakai tangan, pakai ini itu. Begitu masuk ke ranah publik langsung aneh kelihatannya," imbuhnya.

Ia pun berharap anak-anak muda agar hati-hati menggunakan gadget dan merekam hal pribadi. Termasuk jika merekam adegan intim, yang ternyata pasangan yang diajak belum tentu menjadi pasangan hidup.

"Hati-hati, jejak digital itu kejam. Pesan saya kepada remaja, hati-hati mendokumentasikan hal-hal pribadi apalagi saat berhubungan seks. Apalagi dengan pasangan yang belum tentu akan jadi pasangan suami istri. Nanti putus, terus videonya masih disimpan, ada dendam pribadi dan akhirnya tersebar," ujarnya. (Kanalbali/WIB)