Walhi Sebut Banjir dan Longsor di Bali akibat Alih Fungsi Lahan

Konten Media Partner
18 Oktober 2022 15:55 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Kayu-kayu besar yang terbawa arus air saat banjir di Jembrana, Bali - IST
zoom-in-whitePerbesar
Kayu-kayu besar yang terbawa arus air saat banjir di Jembrana, Bali - IST
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
DENPASAR, Kanalbali.com - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Wahli) Provinsi Bali menilai, bencana alam yang terjadi berkaitan dengan adanya alih fungsi lahan untuk pembangunan infrastruktur.
ADVERTISEMENT
"Bencana alam yang menimpa Bali disebabkan oleh adanya efek domino dari perubahan iklim karena peningkatan suhu permukaan bumi. Lalu sambut alih fungsi lahan akibat pembangunan infrastruktur yang massif di Bali," jelas Direktur Walhi Bali, Made Krisna Dinata, Selasa, (18/10/2022).
Walhi mengutip penelitian ahli Subak Universitas Udayana, Prof I Wayan Windia menyebutkan bahwa setiap 1 Hektar sawah mampu menampung 3000 ton air apabila tinggi airnya 7 cm.
Sementara itu, jumlah sawah pada tahun 2014 mencapai 80.506 hektar dan menyusut menjadi 69.066 hektar di tahun 2018.
Tidak cukup dengan adanya bencana banjir dan tanah longsong yang sudah menimpa Bali akibat alih fungsi lahan pertanian. WALHI menyebut masih banyak rencana pembangunan infrastruktur yang mengancam lahan hijau sebagai penyangga Pulau Bali.
ADVERTISEMENT
Pertama, rencana pembangunan Terminal LNG di kawasan Mangrove dan pesisir Sanur dinilai akan mengurangi daya dukung Bali dalam mitigasi bencana.
Sebab dalam pembangunan ini sedikitnya akan menghilangkan 14,5 hektar mangrove di kawasan Tahura Ngurah Rai.
Kedua, proyek lain yang disoroti Walhi Bali yakni pembangunan Jalan Tol Gilimanuk.
Disebutkan bahwa dalam dokumen KA Jalan Tol Gilimanuk Mengwi terdapat 488,3 hektar perkebunan, kawasan hutan lindung Bali Barat seluas 75,14 hektar, Taman Nasional Bali Barat 20,36 hektar, menerabas sungai 22,7 hektar, pemukiman 20 hektar, dan kebun milik Pemprov 49,6 hektar.
"Dalam data tersebut dikatakan jika ada lahan pertanian yang terkena 188,31 hektar merupakan area sawah irigasi. Tapi berdasarkan data kami berbeda, yakni tercatat 480,6 hektar persawahan yang terkena trase tol. Maka totalnya ada 1300 an hektar yang beralih fungsi jadi jalan tol," kata dia.
ADVERTISEMENT
Akibat tinggi potensi bencana yang akan melanda Bali kedepannya, WALHI Bali berharap pemerintah berhati-hati dalam merancang pembangunan Bali ke depan. (kanalbali/LSU)