Warga Bali Mulai Siapkan Ogoh-Ogoh Jelang Hari Raya Nyepi

Pemuda di sejumlah balai banjar di Denpasar terlihat sibuk membuat ogoh-ogoh. Kegiatan ini menandai akan datangnya Hari Raya Nyepi pada 25 Maret 2020 nanti.
Salah satunya di Banjar Tatasan Kaja, Jl Ratna, Denpasar. Puluhan pemuda terlihat saling bahu membahu untuk menyelesaikan ogoh-ogoh. "Kami sudah mulai mengerjakannya sejak pertengahan Januari lalu," ujar Wantara Putra, salah satu pemuda banjar, Jumat (13/3)."Targetnya sebelum tanggal 18 Maret ini sudah selesai,"tambahnya.
Pembuatan ogoh-ogoh di Bajar Tatasan Kaja dilakukan pada malam hari. "Hal itu dikarenakan para pemuda punya banyak waktu lenggang di malam hari, siangnya mereka sibuk kerja atau sekolah,"imbuhnya
Ogoh-ogoh memang memiliki bentuk dan kerumitan yang beragam. Terlebih, dalam pembuatannya memiliki pesan yang terkandung. Tak ayal, membuat ogoh-ogoh menjadi luapan ekspresi bagi para pemuda atas berbagai hal yang ada.
"Kali ini tema untuk ogoh-ogoh banjar Tatasan Kaja ialah Gong Wesi,"ujarnya "Ini menceritakan tentang kemurkaan dewa lantaran lingkungan hancur karena ulah manusia," jelasnya. Selain itu, Ogoh-ogoh di Banjar Tatasan Kaja juga dilombakan se-kota Denpasar. "Harapannya semoga kami bisa dapat juara,"harapnya.
Perayaan Nyepi yang akan jatuh pada 25 Maret mendatang memiliki beberapa rangkaian. Sehari sebelum Nyepi dilaksanakan upacara Tawur Kesanga. Gelaran ini bertujuan untuk mengsucikan alam semesta.
Pada malamnya, dilakukan pengerupukan. Biasanya ogoh-oggoh yang sudah dibuat akan dibakar pada gelaran ini. Hal itu dilakukan karena ogoh-ogoh merupakan perlambang kekuatan jahat dari Bhuta kala.
Ogoh-ogoh berbentuk seperti boneka besar atau patung dengan bentuk yang menyeramkan. Bhuta Kala merupakan sosok yang mengganggu ketentraman dan kedamaian manusia yang ada di muka bumi. Sebab itu saat perayaannya, dibutuhkan tradisi dalam bentuk boneka Ogoh-Ogoh untuk diarak lalu dibakar.
Kekuatan jahat ini bukan hanya terlihat dari fisik yang menyeramkan, tapi juga sifat buruk dan kejahatan. Pembakaran ini dilakukan guna menghilangkan sisi negatif dari Bhuta Kala tersebut. (KR 14)
