Konten dari Pengguna

Ketika Penonton Tak Lagi Menunggu: Strategi Programming Televisi di Era Digital

Kanaya Khairunnisa Ismail

Kanaya Khairunnisa Ismail

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kanaya Khairunnisa Ismail tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi oleh AI

Dulu, televisi memiliki satu keunggulan yang sulit digantikan: penonton harus menunggu. Mereka membuka televisi pada waktu tertentu karena ingin mengikuti program yang sudah dijadwalkan. Ada waktu untuk berita pagi, acara anak-anak, sinetron, hingga prime time pada malam hari. Jadwal tayang menjadi bagian penting dalam menentukan kebiasaan menonton.

Kini, situasinya berbeda. Penonton dapat memilih sendiri apa yang ingin ditonton dan kapan mereka ingin menontonnya. Tayangan yang terlewat dapat dicari melalui platform digital, sementara konten baru terus muncul di media sosial dan layanan streaming. Perubahan tersebut membuat televisi tidak hanya menghadapi persaingan antarsaluran, tetapi juga persaingan untuk mendapatkan perhatian audiens di berbagai layar.

Dalam konteks Programming Media, perubahan ini menjadi persoalan penting. Programming bukan hanya kegiatan memilih program, tetapi juga mencakup penjadwalan, evaluasi, promosi, dan upaya memahami audiens. Eastman dan Ferguson menempatkan riset audiens, ratings, pemilihan program, scheduling, dan promosi sebagai bagian penting dalam strategi media programming.

Ketika Jadwal Tidak Lagi Mengikat

Salah satu dasar programming televisi adalah scheduling, yaitu menentukan program apa yang ditayangkan pada waktu tertentu. Strategi ini dibuat berdasarkan kebiasaan dan ketersediaan audiens. Konsep prime time, misalnya, muncul karena terdapat periode ketika jumlah penonton televisi cenderung lebih tinggi.

Dalam model televisi linear, penonton mengikuti jadwal yang dibuat oleh stasiun. Programmer berusaha mempertahankan penonton dari satu program ke program berikutnya melalui strategi seperti lead-in, hammocking, dan tentpoling. Strategi tersebut pada dasarnya berusaha mengatur aliran audiens agar tidak berpindah ke saluran lain.

Namun, perkembangan internet membuat hubungan antara jadwal dan penonton menjadi tidak sesederhana sebelumnya.

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dari 69,21 persen pada 2023. Pada tahun yang sama, 68,65 persen penduduk Indonesia tercatat memiliki telepon seluler.

Data tersebut memang tidak secara langsung menunjukkan bahwa masyarakat berhenti menonton televisi. Namun, meningkatnya akses internet dan penggunaan telepon seluler memperlihatkan bahwa ruang konsumsi media masyarakat semakin luas.

Penonton Sekarang Berada di Banyak Layar

Perubahan tersebut melahirkan kebiasaan multi-screen. Penonton dapat menonton televisi sambil menggunakan ponsel untuk membuka media sosial, mencari informasi mengenai program yang sedang ditonton, atau melihat konten lain.

Nielsen pada 2025 melaporkan bahwa lebih dari 70 persen Gen Z dan Gen Y di Indonesia memiliki smartphone sekaligus televisi. Nielsen juga menemukan bahwa Gen Z di Indonesia 42 persen lebih mungkin dibandingkan rata-rata masyarakat Indonesia untuk menemukan produk melalui aktivitas multi-screen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa televisi masih memiliki tempat dalam kehidupan audiens, tetapi perhatian mereka tidak lagi berada pada satu layar.

Bagi programmer, situasi tersebut menciptakan tantangan sekaligus peluang. Sebuah program tidak harus berhenti ketika siaran televisinya selesai. Cuplikan acara dapat disebarkan melalui media sosial, episode dapat tersedia melalui platform digital, dan percakapan mengenai program dapat terus berlangsung setelah penayangan berakhir.

Dengan kata lain, keberhasilan sebuah program tidak lagi hanya bergantung pada apa yang terjadi selama program tersebut mengudara.

Insert Trans TV dan Strategi Hadir di Banyak Platform

Salah satu contoh yang dapat melihat perubahan tersebut adalah program Insert Trans TV. Program infotainment ini tidak hanya mengandalkan penayangan melalui televisi, tetapi juga mengembangkan distribusi kontennya melalui berbagai platform digital.

Penelitian yang dilakukan pada 2025 mengenai strategi adaptasi Insert Trans TV menemukan bahwa kontennya didistribusikan melalui Insertlive.com, Instagram, YouTube, TikTok, dan X. Meskipun hadir di berbagai platform, program tersebut tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai berita selebriti yang aktual dan kredibel. Evaluasi program juga dilakukan dengan memperhatikan data share dan rating.

Strategi tersebut menunjukkan bahwa satu program televisi kini dapat memiliki lebih dari satu titik pertemuan dengan audiens. Penonton yang tidak mengikuti Insert ketika tayang di televisi tetap dapat menemukan kontennya melalui media sosial atau platform video.

Hal ini menjadi penting karena cara audiens menemukan konten juga sudah berubah. Mereka tidak selalu mencari nama program terlebih dahulu. Sebuah potongan video dapat muncul di feed, kemudian menarik perhatian penonton untuk mencari informasi atau tayangan lain yang berkaitan dengan program tersebut.

Dengan demikian, distribusi multiplatform bukan sekadar memindahkan isi acara dari televisi ke internet. Setiap platform dapat menjadi pintu masuk yang berbeda bagi audiens.

Programming Tidak Lagi Berhenti pada Jadwal

Kasus Insert memperlihatkan bahwa strategi programming perlu mengikuti perubahan perilaku audiens. Jika sebelumnya fokus utama programmer adalah menentukan program yang tepat untuk slot tertentu, kini perhatian juga perlu diarahkan pada bagaimana program tersebut dapat terus ditemukan setelah siaran berakhir.

Hal tersebut sejalan dengan penelitian Edison dan Latifah Putri Ahmad dalam Jurnal Ilmu Komunikasi pada 2025. Mereka menjelaskan bahwa audiens semakin tidak terikat pada jadwal siaran linear dan lebih memilih fleksibilitas dalam mengakses program melalui berbagai platform digital. Kondisi tersebut mendorong televisi untuk mengembangkan strategi programming yang inovatif, berbasis data, dan responsif terhadap kebiasaan audiens.

Dalam konteks ini, televisi tidak harus meninggalkan konsep scheduling. Jadwal tayang tetap penting karena masih menjadi bagian dari identitas dan distribusi utama sebuah program. Namun, jadwal tersebut tidak lagi menjadi satu-satunya cara untuk menjangkau penonton.

Program yang ditayangkan pukul tertentu dapat terus hidup melalui potongan video, unggahan media sosial, atau konten lanjutan di platform digital. Artinya, siklus sebuah program tidak harus berakhir ketika durasi siarannya selesai.

Dari Rating ke Data Audiens yang Lebih Beragam

Perubahan platform juga membawa perubahan dalam cara programmer membaca audiens. Rating dan share tetap menjadi bagian penting dalam mengevaluasi performa program televisi. Namun, kehadiran digital memberikan data lain yang dapat digunakan untuk memahami perilaku penonton.

Interaksi seperti jumlah penayangan, komentar, likes, dan shares dapat menunjukkan respons audiens terhadap konten di platform tertentu. Nielsen menyebut kondisi ini sebagai fragmentasi media, ketika perhatian audiens tersebar di berbagai platform dan perangkat.

Namun, data tersebut tidak dapat dibaca dengan cara yang sama seperti rating televisi. Banyaknya views di TikTok, misalnya, tidak otomatis berarti program tersebut memiliki jumlah penonton televisi yang sama besar. Setiap platform memiliki karakter audiens dan cara pengukuran yang berbeda.

Karena itu, tantangan programmer bukan hanya mengumpulkan sebanyak mungkin data, tetapi memahami data tersebut sesuai konteksnya. Dari sinilah riset audiens menjadi semakin penting dalam menentukan apakah sebuah program perlu dipertahankan, dikembangkan, dipromosikan dengan cara berbeda, atau disesuaikan dengan kebiasaan penonton.

Penonton Tidak Hilang, Mereka Berubah

Perubahan teknologi pada akhirnya tidak berarti televisi kehilangan seluruh penontonnya. Yang berubah adalah cara penonton berhubungan dengan televisi.

Penonton sekarang memiliki lebih banyak pilihan. Mereka dapat menonton program secara langsung, mencari kembali tayangan yang terlewat, menemukan potongannya di media sosial, atau mengikuti pembahasannya melalui platform lain. Dalam situasi seperti ini, televisi tidak lagi sepenuhnya menentukan kapan penonton bertemu dengan sebuah program.

Kasus Insert Trans TV menunjukkan bagaimana sebuah program dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut melalui strategi multiplatform, sambil tetap mempertahankan karakter programnya. Strategi seperti ini memperlihatkan bahwa programming di era digital bukan hanya tentang mengisi jadwal siaran, tetapi juga tentang memahami ke mana perhatian audiens bergerak.

Pada akhirnya, penonton bukan benar-benar berhenti menunggu televisi. Mereka hanya sudah tidak mau menunggu di satu layar. Karena itu, tantangan terbesar programming televisi saat ini bukan sekadar membuat program yang menarik, tetapi memastikan program tersebut tetap dapat ditemukan ketika audiens berpindah dari satu layar ke layar lainnya.