Munculnya Tren Masker Tie Dye di Era Pandemi

Mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Tulisan dari Kaniya Annisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pandemi Covid-19 yang menyerang Indonesia bahkan seluruh dunia mengakibatkan adaptasi baru bagi masyarakatnya, baik adaptasi berperilaku, pola hidup, bahkan cara berpakaian. Pada awal pandemi banyak dari masyarakat yang mengalami kepanikan dalam membeli atau membeli suatu kebutuhan secara berlebihan lalu menimbunnya dalam jumlah banyak, biasanya itu terjadi di situasi tertentu.
Banyaknya berita yang bermunculan dan belum pasti akan kebenarannya mengakibatkan masyarakat panik. Padahal, belum pasti juga akan kebenaranya. Misalnya terdapat berita mengenai cara-cara mencegah Covid-19 atau menguatkan imun tubuh yang bahkan sumbernya saja tidak jelas berasal dari mana. Kepanikan dalam membeli merupakan salah satu dampak dari adanya berita hoax mengenai Covid-19 yang beredar dan pemerintah belum bisa mengatasi sepenuhnya, sementara masyarakat sudah ketakutan terhadap virus tersebut.
Penggunaan masker yang sudah menjadi kewajiban adalah suatu usaha seseorang untuk melindungi diri dari terpaparnya virus korona. Saat awal pandemi masker merupakan sesuatu yang sangat sulit dan langka untuk didapatkan karena banyaknya oknum yang memanfaatkan situasi dengan cara menimbun masker untuk dijual kembali dengan harga mahal. Mereka menjual bisa dengan harga tiga kali lipat atau bahkan lima kali lipat. Karena itu masyarakat berinovasi dengan membuat masker berbahan kain.
Masyarakat berkreasi dengan membuat bermacam-macam motif dan model masker. Masker kain ini dapat dikategorikan sebagai masker yang ramah lingkungan karena dapat digunakan kembali secara berulang bukan masker yang hanya sekali pakai. Efektivitas masker kain memang tidak sebagus masker medis yang hanya sekali pakai, namun disarankan jika memakai masker kain dapat dengan melapisinya dengan tisu atau memakai dua lapis masker. Hal tersebut dilakukan agar dapat meningkatkan perlindungan terhadap kemungkinan kurangnya kerapatan dan penyaring masker kain. Sebenarnya masker kain dapat dipakai untuk melindungi diri dari ancaman penularan virus korona, namun juga harus mematuhi protokol kesehatan lainnya seperti menjaga jarak, menghindari kerumunan, rajin cuci tangan dengan sabun, dan selalu menjaga kebersihan.
Munculnya model dan motif masker kain yang berkembang, sehingga tren motif tie dye menjadi incaran banyak orang. Tie dye dapat dikatakan sebagai teknik pewarnaan kain dengan cara melipat, memutar, dan mengikat kain. Teknik ini juga menggunakan pewarnaan yang menarik untuk memunculkan warna yang artistik. Karena kebutuhan masker yang meningkat signifikan selama pandemi Covid-19, masker dengan motif tie dye mulai berkembang dan digemari masyarakat. Tak sedikit juga orang yang berkreasi sendiri dengan membuat masker ataupun pakaian dengan teknik tie dye. Karena saat itu orang-orang mencari kegiatan yang dapat mengisi kegiatannya selama dirumah saja dan pembatasan sosial. Motif tie dye juga banyak dicari karena banyak orang ingin merasakan warna baru untuk pakaian dan maskernya yang selama ini hanya monoton dan itu-itu saja.
Kesempatan untuk membuka bisnis pun terbuka lebar. Banyak masyarakat yang memanfaatkan situasi dan tren ini untuk menjadi penjual masker tie dye secara dadakan. Inovasi kreatif ini merupakan peluang usaha yang menjanjikan sebab masyarakat akan lebih tertarik pada hal-hal yang tidak monoton. Memanfaatkan peluang dalam keadaan saat ini sangat diperlukan apalagi sejak pandemi Covid-19 banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaannya dan mau tidak mau harus mencari cara untuk bertahan hidup.
Menurut saya, dengan adanya sosial media saat ini sangat berpengaruh terhadap budaya populer yang berkembang. Mulai dari Instagram, twitter, apalagi sejak adanya TikTok yang di mana banyak sekali penggunanya yang mengunggah tentang motif tie dye. Mulai dari cara pembuatan, macam-macam motif, bahkan sampai bagaimana cara berpakaian dengan berbagai motif tie dye. Banyak remaja yang menggunakan motif tie dye sebagai tren lalu mengunggahnya di sosial media sehingga banyak orang yang terpengaruh lalu ingin mencobanya. Tidak sedikit juga selebgram dan publik figur yang mengikuti tren tie dye ini. Salah satunya adalah selebgram Tasya Farasya yang mengunggah lewat kanal youtube nya saat dia membuat motif tie dye dengan kaos.
Namun sayangnya, bisnis masker tie dye ini tidak bisa dijamin akan bertahan lama. Karena tren tie dye hanya sesaat dan masyarakat biasanya hanya penasaran lalu membelinya. Setelah mendapatkan barang tersebut biasanya hanya akan memakainya beberapa kali lalu setelah itu tidak akan membelinya lagi. Masyarakat hanya sekadar ingin mengikuti tren dan bagi mereka jika sudah mempunyai dan pernah memakainya maka sudah cukup.
