Konten dari Pengguna

18 Bulan Tanpa Suami, tentang Menjadi Istri Prajurit, Ibu, dan Mahasiswi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Citra Rosika SAP MAP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi pribadi, diambil dari akun Instagram pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi pribadi, diambil dari akun Instagram pribadi.

Menuju tiga tahun pernikahan kami, kehidupan saya terasa semakin penuh. Kami telah dikaruniai seorang putri yang usianya belum genap dua tahun. Di saat yang sama, saya tengah mengandung anak kedua yang sebentar lagi akan lahir ke dunia. Saya juga sedang menjalani pendidikan sebagai seorang calon Magister.

Di tengah berbagai peran dan waktu yang harus saya bagi, terdengar kabar bahwa nama suami saya termasuk dalam daftar prajurit yang akan diberangkatkan untuk melaksanakan tugas ke Tanah Mutiara Hitam di timur Indonesia.

Saat itu, yang pertama kali hadir bukanlah rasa bangga, melainkan kecemasan.

Apakah saya mampu menjalankan semua ini dengan baik tanpa didampingi suami?

Bagaimana dengan anak-anak?

Bagaimana dengan pendidikan yang sedang saya jalani?

Bagaimana pula dengan berbagai kegiatan sebagai seorang ibu di lingkungan satuan?

Haruskah saya memilih? Fokus kepada anak-anak dan keluarga, kemudian mengorbankan pendidikan yang sudah berjalan setengah perjalanan? Atau tetap melanjutkan kuliah sambil menjalani kehidupan sebagai seorang istri prajurit dan ibu dari dua orang anak?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala saya.

Dua Bulan Sebelum Keberangkatan

Dua bulan sebelum keberangkatan suami, anak kedua kami lahir.

Alhamdulillah, persalinan berjalan dengan baik dan putri kecil kami lahir dengan selamat. Di saat yang sama, saya mengambil keputusan untuk cuti kuliah selama satu semester.

Bukan karena saya menyerah pada pendidikan, tetapi saat itu saya merasa kedua putri kami lebih membutuhkan kehadiran saya.

Saya ingin menikmati masa-masa awal bersama bayi kami. Saya ingin memastikan kakaknya tetap mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Saya juga ingin mempersiapkan diri sebelum akhirnya harus menjalani hari-hari tanpa pendampingan suami di rumah.

Setelah masa cuti selesai, saya kembali melanjutkan kuliah. Kehidupan kemudian berjalan dengan ritmenya sendiri.

Siang hari saya mengurus anak-anak. Di sela-sela itu saya berusaha mengikuti perkuliahan. Ketika malam tiba dan anak-anak mulai tidur, saya baru mempunyai waktu untuk membuka laptop dan mengerjakan tugas-tugas dari dosen.

Tidak jarang saya harus menyicil tugas dalam keadaan mengantuk.

Ada malam ketika tubuh sudah meminta istirahat, tetapi tugas belum selesai. Ada pula malam ketika saya baru bisa belajar setelah memastikan kedua anak tertidur.

Saya menjalani semuanya sebisa saya. Sampai akhirnya tubuh mulai memberikan peringatan. Karena terlalu sering tidur larut dan kurang menjaga pola makan, lambung saya pun bermasalah. Saya tersenyum ketika mengingatnya. Di tengah kesibukan itu, ternyata tubuh juga meminta untuk diperhatikan.

Namun, di balik semua kelelahan tersebut, ada satu hal yang baru saya sadari. Orang mungkin mengira kuliah adalah tambahan beban bagi seorang ibu yang harus mengurus dua anak, terlebih ketika suami sedang menjalankan tugas jauh.

Namun bagi saya, justru sebaliknya. Kuliah menjadi semacam imunitas untuk menjalani hidup. Dengan kuliah, saya mempunyai sesuatu yang harus saya perjuangkan. Ada jadwal yang harus saya ikuti, tugas yang harus diselesaikan, penelitian yang harus dikerjakan, dan sebuah tujuan yang harus saya capai.

Kesibukan itu membuat saya tidak terus-menerus larut dalam rasa sepi karena ditinggal suami.

Bukan berarti saya tidak rindu. Saya sangat rindu. Ada banyak momen ketika saya ingin bercerita kepada suami tentang anak-anak. Tentang perkembangan mereka, tingkah lucu mereka, atau sekadar tentang bagaimana hari saya berjalan.

Namun keadaan mengajarkan saya untuk belajar menjalani sebagian hal seorang diri.

Dua Belas Bulan yang Menjadi Delapan Belas

Awalnya kami memperkirakan tugas suami akan berlangsung sekitar 12 bulan. Ternyata waktu berkata lain. Kami harus menjalani jarak itu kurang lebih selama 18 bulan.

Enam bulan tambahan mungkin terdengar sederhana ketika hanya ditulis sebagai angka. Tetapi bagi keluarga yang sedang menunggu, enam bulan bukanlah waktu yang sebentar. Ada banyak hal yang berubah selama 18 bulan itu.

Anak-anak bertumbuh. Saya menyelesaikan tahapan demi tahapan pendidikan. Ada penelitian yang harus diselesaikan. Ada seminar yang harus dilewati. Ada ujian komprehensif yang akhirnya saya hadapi. Dan di tengah semua proses itu, saya tetap menjalani peran sebagai ibu.

Saya tidak selalu berhasil melakukan semuanya dengan sempurna. Ada hari ketika saya merasa sangat lelah. Ada hari ketika saya menangis. Ada hari ketika saya bertanya dalam hati, Sampai kapan saya harus sekuat ini?

Tetapi ternyata menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Menjadi kuat mungkin hanya berarti tetap bangun keesokan harinya dan kembali menjalani apa yang memang harus dijalani.

Ketika Akhirnya Kami Bertemu Kembali

Saat saya berhasil menyelesaikan penelitian, seminar, hingga ujian komprehensif, suami sedang dalam perjalanan pulang menuju Pulau Sumatera.

Rasanya seperti dua perjalanan yang akhirnya bertemu di satu titik. Saya sedang menyelesaikan perjalanan pendidikan saya. Sementara suami sedang menyelesaikan perjalanan tugasnya.

Kemudian tibalah hari wisuda. Hari yang selama ini saya perjuangkan. Dan Alhamdulillah, pada momen itu kami dapat berkumpul kembali. Saya melihat kembali perjalanan yang sudah kami lewati.

Tiga tahun pernikahan.

Dua orang putri.

Kehamilan.

Kelahiran.

Kuliah.

Tugas-tugas yang dikerjakan tengah malam.

Rasa lelah.

Rasa rindu.

Dan 18 bulan penantian.

Ternyata saya sampai juga di titik ini.

Bukan karena saya selalu kuat.

Bukan pula karena semuanya berjalan mudah.

Saya hanya belajar untuk terus berjalan meskipun dalam beberapa keadaan saya harus berjalan sendirian.

Hari ini saya memahami bahwa menjadi istri seorang prajurit bukan hanya tentang menunggu suami pulang.

Ada banyak hal yang harus dipelajari: belajar mandiri, belajar mengelola rasa khawatir, belajar menjadi ibu ketika hati sedang lelah, belajar tetap mendukung suami dari kejauhan, dan belajar bahwa setiap keluarga mempunyai bentuk perjuangannya masing-masing.

Saya tidak selalu kuat. Saya hanya belajar menjadi istri seorang prajurit. Dan mungkin, itulah bentuk cinta yang selama ini diam-diam kami perjuangkan bersama.

Momen kebersamaan bersama keluarga yang menjadi bagian dari perjalanan saya sebagai seorang pendamping prajurit sekaligus ibu dari dua putri kami