Konten dari Pengguna

Bungkam Suara: Ketika Kebebasan Berbicara Berubah Menjadi Ancaman

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Citra Rosika SAP MAP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: [J.S. Khairin]

Kebebasan berbicara sering kali dipahami sebagai salah satu tanda utama masyarakat demokratis. Setiap warga negara berhak menyampaikan kritik, pendapat, bahkan ketidaksetujuan terhadap penguasa. Namun, apakah kebebasan berbicara akan selalu membawa kebaikan apabila digunakan tanpa tanggung jawab? Pertanyaan inilah yang menjadi inti dari novel Bungkam Suara karya J.S. Khairen.

Sumber Foto: Dokumentasi pribadi buku yang ditandatangani oleh J.S. Khairen di Pustaka Steva, Siteba, Kota Padang, Sumatera Barat.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Dokumentasi pribadi buku yang ditandatangani oleh J.S. Khairen di Pustaka Steva, Siteba, Kota Padang, Sumatera Barat.

Novel yang terbit pada 2023 ini mengajak pembaca memasuki Negara Kesatuan Adat Lawaknesia (NAKAL), sebuah negara fiktif yang tidak terdeteksi dalam peta dunia. NAKAL memiliki sistem pemerintahan unik: terdapat Raja Utama yang dipilih secara bergilir oleh kerajaan-kerajaan serta Pemangku Adat yang dipilih langsung oleh rakyat. Sistem dua pusat kekuasaan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar munculnya konflik politik dan sosial dalam cerita. Gramedia

Hal pertama yang membuat novel ini menarik adalah permainan bahasa J.S. Khairen dalam menciptakan nama negara, wilayah, lembaga, serta berbagai istilah di dalam cerita. Singkatan seperti NAKAL dan penamaan tempat yang terdengar jenaka tidak hanya berfungsi sebagai pemanis. Humor tersebut menjadi strategi satiris: pembaca dibuat tertawa terlebih dahulu, lalu perlahan menyadari bahwa dunia fiksi yang tampak absurd itu menyimpan persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan nyata.

Dunia Fantasi yang Berpijak pada Persoalan Kontemporer

Secara genre, Bungkam Suara tidak mudah ditempatkan hanya sebagai novel fantasi. J.S. Khairen membangun dunia imajinatif dengan struktur sosial, sistem politik, adat, dan teknologi yang khas. NAKAL digambarkan sebagai negara yang maju dalam beberapa bidang, tetapi tertinggal dalam bidang lain. Kontras ini memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan demokrasi dan perlindungan terhadap hak warga negara.

Dunia fantasi dalam novel ini tidak hadir sebagai bentuk pelarian dari realitas, melainkan sebagai cermin realitas. Dengan menciptakan negara rekaan, penulis memperoleh ruang yang lebih bebas untuk mengkritik persoalan kekuasaan, propaganda, konflik antarmasyarakat, dan pembatasan suara rakyat. Cara ini membuat kritik sosial-politik terasa lebih tajam tanpa harus menunjuk langsung pada negara atau peristiwa tertentu.

Kehadiran teknologi tinggi dalam cerita juga memberi lapisan penting. Teknologi tidak diposisikan sepenuhnya sebagai alat kemajuan, melainkan sebagai instrumen yang dapat mendukung pengawasan, pengendalian informasi, dan perebutan pengaruh. Dalam konteks ini, novel mengingatkan pembaca bahwa masalah utama bukan hanya terletak pada teknologinya, tetapi pada pihak yang memiliki kuasa untuk menggunakannya.

Hari Bebas Bicara dan Paradoks Kebebasan

Konflik utama novel berhubungan dengan Hari Bebas Bicara, sebuah hari ketika rakyat NAKAL diperbolehkan menyampaikan apa pun tanpa takut terhadap konsekuensi hukum. Pada awalnya, kebijakan tersebut terdengar ideal. Masyarakat dapat membongkar penipuan, mengkritik pemimpin, dan mengungkapkan ketidakadilan yang selama ini disembunyikan.

Namun, kebebasan itu kemudian berubah menjadi ruang bagi fitnah, perundungan, kebencian, dan konflik antarmanusia. Rakyat tidak hanya berbicara kepada penguasa, tetapi juga saling menyerang satu sama lain. Hubungan keluarga, persahabatan, pekerjaan, hingga kehidupan bertetangga ikut retak akibat kata-kata yang dilepaskan tanpa pertimbangan. Premis ini juga tercantum dalam sinopsis katalog Perpustakaan Kota Yogyakarta. Perpustakaan Kota Yogyakarta

Di sinilah kekuatan utama Bungkam Suara. Novel ini tidak menyederhanakan kebebasan berbicara sebagai sesuatu yang mutlak baik ataupun mutlak buruk. J.S. Khairen justru menunjukkan paradoksnya: masyarakat membutuhkan kebebasan untuk mengawasi kekuasaan, tetapi kebebasan yang tidak disertai tanggung jawab dapat berubah menjadi kekerasan verbal.

Persoalan tersebut sangat relevan dengan kehidupan digital hari ini. Media sosial memungkinkan seseorang menyampaikan opini dalam hitungan detik. Di satu sisi, ruang digital memberi kesempatan bagi masyarakat untuk bersuara. Di sisi lain, ruang yang sama dapat digunakan untuk menyebarkan informasi palsu, mempermalukan orang lain, dan membangun kebencian secara massal. Dengan demikian, Hari Bebas Bicara dalam novel dapat dibaca sebagai metafora terhadap budaya komunikasi di era media sosial.

Kritik terhadap Demokrasi yang Kehilangan Substansi

Meskipun NAKAL memiliki mekanisme pemilihan pemimpin, kehidupan rakyatnya tidak serta-merta bebas. Dalam novel ini, demokrasi tidak hanya dipahami sebagai proses memilih pemimpin, melainkan juga sebagai adanya jaminan bagi warga untuk memperoleh informasi, mengemukakan pendapat, dan mengawasi kekuasaan.

Ketika rakyat dibatasi untuk bersuara, demokrasi kehilangan salah satu unsur terpentingnya: partisipasi warga. Pembatasan suara dapat membuat masyarakat takut menyampaikan kritik, sementara kekuasaan menjadi semakin sulit diawasi. Dalam kondisi seperti ini, demokrasi hanya tersisa sebagai prosedur formal, bukan sebagai praktik yang benar-benar melindungi rakyat.

Novel ini juga menunjukkan bahwa pembungkaman tidak selalu dilakukan secara terang-terangan. Ketakutan dapat tumbuh melalui aturan, tekanan sosial, ancaman, pengawasan, atau budaya saling curiga. Akibatnya, warga memilih diam bukan karena tidak memiliki pendapat, tetapi karena merasa berbicara terlalu berisiko.

Kajian akademik mengenai novel ini juga membaca Bungkam Suara sebagai karya yang memuat kritik sosial dan politik, khususnya terkait pembatasan kebebasan politik serta pengawasan represif terhadap warga.

Humor sebagai Cara Menyampaikan Kritik

Keunikan lain dari Bungkam Suara terletak pada gaya penceritaannya yang ringan dan jenaka. Nama-nama tempat dan singkatan yang lucu membuat dunia NAKAL terasa hidup sekaligus mudah diingat. Akan tetapi, humor dalam novel ini bukan sekadar hiburan.

Dalam tradisi satire, kelucuan sering digunakan untuk menyampaikan kritik terhadap hal-hal serius. Pembaca mungkin tertawa saat menemukan istilah yang aneh atau absurd, tetapi kemudian menyadari adanya sindiran terhadap birokrasi, perebutan kekuasaan, fanatisme, hingga kebiasaan masyarakat dalam menyebarkan informasi tanpa verifikasi.

Dengan kata lain, humor menjadi pintu masuk menuju refleksi. J.S. Khairen tidak menggurui pembaca melalui ceramah politik yang panjang. Ia memilih menghadirkan cerita yang menghibur, tetapi tetap memancing pembaca untuk mempertanyakan relasi antara negara, teknologi, kebebasan, dan tanggung jawab.

Penutup

Bungkam Suara adalah novel yang menarik karena berhasil memadukan fantasi, teknologi, humor, dan kritik sosial-politik dalam satu cerita. Di balik dunia NAKAL yang unik dan nama-nama tempat yang jenaka, terdapat pertanyaan serius mengenai kehidupan demokratis: apakah rakyat benar-benar bebas bersuara, dan bagaimana kebebasan itu seharusnya digunakan?

Novel ini mengingatkan bahwa kebebasan berbicara bukan hanya hak, tetapi juga tanggung jawab. Ketika suara rakyat dibungkam, kekuasaan berpotensi menjadi semakin tidak terkendali. Namun, ketika kebebasan digunakan untuk menyebarkan fitnah dan kebencian, masyarakat pun dapat saling menghancurkan.

Karena itu, Bungkam Suara layak dibaca bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai refleksi atas cara kita berbicara, menggunakan teknologi, dan menjalani demokrasi di kehidupan sehari-hari.

Sumber Foto: Dokumentasi pribadi buku yang ditandatangani oleh J.S. Khairen di Pustaka Steva, Siteba, Kota Padang, Sumatera Barat.