Konten dari Pengguna

Kerja Tak Sesuai Jurusan Kuliah: Apakah Ada Yang Salah Dengan Perencanaan SDM?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kartika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena lulusan yang bekerja di luar bidang pendidikannya menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi, kebutuhan kerja, dan perencanaan SDM. (sumber: Generate AI)
zoom-in-whitePerbesar
Fenomena lulusan yang bekerja di luar bidang pendidikannya menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi, kebutuhan kerja, dan perencanaan SDM. (sumber: Generate AI)

Lulusan Manajemen, tapi kerja di bidang customer service, lulusan Sastra, tapi sekarang menjadi digital marketer. Pemandangan seperti ini mungkin sudah tidak asing lagi. Tidak sedikit anak muda yang akhirnya bekerja di bidang yang berbeda dari jurusan kuliahnya. Bahkan, sebagian harus menerima pekerjaan yang sebenarnya berada di bawah tingkat pendidikan yang mereka miliki karena tuntutan untuk segera mendapatkan penghasilan.

Bekerja tidak sesuai jurusan sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Dunia kerja memang tidak selalu berjalan lurus seperti yang direncanakan ketika seseorang memilih jurusan kuliah. Seorang lulusan Manajemen bisa saja menjadi content creator, lulusan Teknik dapat bekerja di bidang marketing, dan lulusan Komunikasi bisa berkarier di dunia sumber daya manusia.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika ketidaksesuaian tersebut terjadi dalam skala besar.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasinya mengenai education-employment mismatch pada pemuda Indonesia menyebutkan bahwa lebih dari sepertiga pemuda yang bekerja mengalami vertical mismatch, yaitu ketika tingkat pendidikan seseorang tidak sesuai dengan tingkat pendidikan yang dibutuhkan oleh pekerjaannya. BPS juga mencatat bahwa kondisi overeducation dan undereducation dapat berkaitan dengan penalti upah dan inefisiensi ekonomi.

Artinya, persoalan ini bukan hanya tentang seseorang bekerja tidak sesuai dengan jurusan kuliahnya. Ada persoalan yang lebih besar mengenai apakah pendidikan, kebutuhan industri, dan ketersediaan tenaga kerja sudah benar-benar saling terhubung.

Istilah education-job mismatch mungkin terdengar seperti istilah akademis yang rumit. Sederhananya, istilah ini menggambarkan kondisi ketika pendidikan atau keterampilan seseorang tidak sesuai dengan pekerjaan yang dijalaninya, ada dua bentuk yang perlu dipahami. Pertama, seseorang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi daripada yang dibutuhkan pekerjaannya, kondisi ini dikenal sebagai overeducation. Misalnya, seseorang memiliki gelar sarjana, tetapi bekerja pada posisi yang sebenarnya tidak membutuhkan pendidikan hingga tingkat sarjana.

Kedua, ada undereducation, yaitu ketika seseorang bekerja pada posisi yang sebenarnya membutuhkan tingkat pendidikan lebih tinggi daripada yang dimilikinya. Sementara itu, ada pula kondisi ketika bidang pendidikan seseorang berbeda dengan bidang pekerjaannya. Misalnya, lulusan Akuntansi bekerja sebagai desainer grafis. Kondisi ini lebih dekat dengan istilah horizontal mismatch.

Penelitian mengenai pekerja lulusan pendidikan tinggi di Indonesia berdasarkan Sakernas Februari 2022 menemukan bahwa 33,50 persen mengalami horizontal mismatch. Faktor yang berkaitan dengan kondisi tersebut antara lain tingkat pendidikan, bidang studi, pengalaman kerja sebelum lulus, dan keikutsertaan dalam pelatihan. Dengan kata lain, persoalannya bukan sekadar “kuliah jurusan apa?”, tetapi juga “memiliki keterampilan apa?” dan “keterampilan tersebut dibutuhkan di mana?”

Ketika membicarakan lulusan yang bekerja tidak sesuai pendidikan, kita sering terburu-buru menyalahkan individu.

“Makanya, pilih jurusan jangan asal.”

“Harusnya dari awal lihat prospek kerja.”

“Kalau mau cepat kerja, ambil jurusan yang sedang dibutuhkan.”

Nasihat tersebut mungkin ada benarnya. Namun, jika masalah mismatch terjadi pada banyak orang, rasanya kurang tepat jika seluruh beban kesalahan diberikan kepada individu.

Bayangkan seorang mahasiswa memilih jurusan yang dianggap memiliki prospek bagus ketika masuk kuliah. Empat tahun kemudian, kondisi industri berubah, teknologi berkembang, jenis pekerjaan baru bermunculan, sementara beberapa pekerjaan lama mulai berkurang kebutuhannya. Apakah keputusan mahasiswa tersebut sepenuhnya salah?

Di sinilah persoalan menjadi lebih kompleks, dunia pendidikan membutuhkan waktu untuk beradaptasi, sementara dunia kerja bergerak jauh lebih cepat.

Karena itu, hubungan antara institusi pendidikan dan dunia industri menjadi penting. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dalam jumlah besar. Lulusan juga perlu memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Penelitian mengenai education-job mismatch di Indonesia juga menunjukkan bahwa karakteristik pendidikan dan wilayah turut memengaruhi kemungkinan seseorang mengalami mismatch.

Di sinilah pembahasan mengenai education-job mismatch bertemu dengan perencanaan sumber daya manusia. Selama ini, perencanaan SDM sering dipahami secara sederhana sebagai kegiatan menentukan berapa banyak karyawan yang dibutuhkan perusahaan. Padahal, pertanyaannya tidak berhenti di “berapa orang yang dibutuhkan?”.

Perusahaan juga perlu bertanya:

Kompetensi apa yang dibutuhkan?

Pekerjaan seperti apa yang akan muncul dalam beberapa tahun ke depan?

Apakah talenta yang tersedia memiliki kompetensi tersebut?

Jika belum tersedia, apakah perusahaan dapat mengembangkan kompetensi mereka?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian penting dari perencanaan SDM. Artinya, perencanaan SDM seharusnya tidak hanya berbicara mengenai jumlah tenaga kerja, tetapi juga mengenai kualitas, kompetensi, dan kesesuaian antara manusia dengan pekerjaan.

Jika perusahaan hanya mencari kandidat berdasarkan gelar pendidikan tanpa melihat kemampuan yang sebenarnya dibutuhkan, mismatch akan lebih sulit diatasi. Sebaliknya, perusahaan yang mampu memetakan kebutuhan kompetensi sejak awal dapat memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai talenta yang perlu direkrut, dikembangkan, atau dipersiapkan.

Persoalan mismatch tidak bisa diselesaikan hanya dengan meminta mahasiswa memilih jurusan yang aman, perusahaan juga memiliki peran. Dalam proses rekrutmen, perusahaan dapat mulai melihat kandidat berdasarkan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan daripada sekadar melihat kesesuaian nama jurusan.

Misalnya, sebuah perusahaan membutuhkan digital marketer. Kandidat tidak selalu harus berasal dari jurusan pemasaran. Bisa saja kandidat berasal dari Komunikasi, Manajemen, Desain, bahkan bidang lain, selama memiliki kemampuan yang relevan seperti analisis data, pembuatan konten, komunikasi, dan pemahaman terhadap perilaku konsumen. Pendekatan seperti ini membuat perusahaan lebih terbuka terhadap keberagaman latar belakang pendidikan.

Di sisi lain, perusahaan juga perlu melakukan upskilling dan reskilling. Tidak semua kebutuhan kompetensi harus dipenuhi dengan merekrut orang baru. Sebagian dapat dikembangkan dari karyawan yang sudah ada.

Penelitian tentang education-occupation mismatch di Indonesia menunjukkan bahwa pengalaman mismatch sebelumnya dapat memengaruhi perjalanan seseorang menuju pekerjaan yang lebih sesuai. Studi tersebut juga menemukan adanya perbedaan upah pada transisi tertentu dan merekomendasikan pelatihan untuk membantu pekerja beradaptasi dengan lingkungan kerja.

Dari sisi pendidikan, tantangannya juga bukan berarti semua perguruan tinggi harus mengubah jurusannya mengikuti tren industri setiap saat. Yang lebih penting adalah memastikan mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat digunakan ketika memasuki dunia kerja. Magang, proyek nyata, sertifikasi, pelatihan, organisasi, dan pengalaman bekerja dalam tim dapat menjadi bagian dari proses tersebut.

BPS sendiri menyoroti peningkatan keterampilan digital, sertifikasi kompetensi, dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri sebagai beberapa upaya untuk mengurangi risiko mismatch pada pemuda. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya membawa ijazah ketika lulus, tetapi juga membawa kompetensi yang dapat dibuktikan.

Pada akhirnya, bekerja tidak sesuai jurusan bukanlah sebuah kegagalan. Justru banyak orang menemukan kariernya setelah mencoba berbagai bidang. Jurusan kuliah juga bukan satu-satunya penentu masa depan seseorang.

Yang perlu menjadi perhatian adalah ketika ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan terjadi secara luas dan berlangsung terus-menerus. Jika seseorang bekerja tidak sesuai jurusan karena menemukan minat dan peluang yang lebih baik, itu adalah pilihan pribadi.

Tetapi jika seseorang bekerja pada posisi yang tidak sesuai karena tidak menemukan pekerjaan yang membutuhkan kompetensinya, sementara perusahaan juga kesulitan mendapatkan talenta yang sesuai, maka persoalannya sudah lebih besar daripada sekadar pilihan karier individu.

Di titik inilah perencanaan SDM menjadi penting.

Perusahaan perlu merencanakan kompetensi yang dibutuhkan. Institusi pendidikan perlu memahami perubahan dunia kerja. Pemerintah perlu memperkuat hubungan antara pendidikan dan pasar kerja. Sementara mahasiswa dan pencari kerja perlu terus mengembangkan keterampilan yang relevan. Sebab, persoalan dunia kerja bukan hanya tentang berapa banyak orang yang bekerja?

Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah:

Apakah orang yang bekerja berada pada pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki?

Jika jawabannya masih sering tidak, mungkin sudah waktunya kita tidak hanya memperbanyak lulusan, tetapi juga mulai serius merencanakan bagaimana kompetensi mereka akan bertemu dengan kebutuhan dunia kerja.

Karena pada akhirnya, pendidikan seharusnya tidak berhenti ketika seseorang menerima ijazah. Pendidikan harus menjadi jembatan menuju pekerjaan yang memungkinkan seseorang menggunakan kemampuan, berkembang, dan menciptakan nilai.