Konten dari Pengguna

Teknologi “AI Art” Ternyata Membawa Banyak Dampak Negatif!

karen tasman

karen tasman

pelajar SMA di SMAK Ipeka Tomang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari karen tasman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto diambil dari FREEPIK https://www.freepik.com/
zoom-in-whitePerbesar
foto diambil dari FREEPIK https://www.freepik.com/

mengapa para seniman sangat menentang penggunaan teknologi AI Art?

Alasannya adalah karena sistem komputer yang menghasilkan karya tersebut sebenarnya mengambil referensi dari hasil karya yang sudah ada dan mencampurnya untuk menciptakan karya yang baru. Menurut bagian fitur Pembuat Gambar Canva, "Untuk membuat gambar yang dihasilkan AI, model pembelajaran mesin memindai jutaan gambar di internet beserta teks yang terkait dengannya. Algoritma menentukan trend dalam gambar dan teks dan akhirnya mulai menebak gambar dan teks mana yang cocok.”

Komputer mengambil berbagai ilustrasi yang diciptakan oleh seniman lain tanpa kredit. Dalam kata lain, banyak seniman yang berpendapat bahwa penggunaan AI untuk menciptakan karya dan mengklaim bahwa karya tersebut merupakan ciptaannya sendiri, sama saja dengan melakukan plagiarisme.

Seringkali perusahaan-perusahaan besar menggunakan AI Art untuk membuat poster atau promosi. Mereka lebih memilih menggunakan AI Art dibandingkan memesan komisi kepada seorang seniman. Hal ini dilakukan untuk mengurangi pengeluaran data, karena AI dapat digunakan dengan gratis. Hal ini sangat merugikan para seniman, karena pekerjaan mereka terancam dengan adanya AI.

“Isu pentingnya adalah bukan kemampuan sebagai elemen tunggal, tetapi kemampuan dalam mengelola keinginan, hasrat dan ketekunan. Bakat tanpa hal-hal tersebut akan lenyap dan bahkan bakat sederhana dengan karakteristik tersebut akan tumbuh.” (Milton Glaser, 2012)

Keindahan terbesar suatu karya seni tidak terletak pada daya tarik estetika yang dimiliki, tetapi juga hasrat serta ketekunan seorang seniman yang dapat ia tuangkan dan maknakan ke dalam karyanya. Hal-hal tersebut tidak kita temukan pada karya-karya yang dihasilkan oleh komputer, lalu mengapa karya indah mereka dapat terbayangi oleh gambar yang ‘diciptakan’ oleh mesin komputer?

Jadi, bisa kita simpulkan bahwa penggunaan AI Art yang berlebihan sangat merugikan untuk para seniman, apalagi jika kita menggunakannya dengan tujuan komersial. Keberadaan AI Art tidak hanya merampas oportunitas kerja bagi seniman, tetapi juga merupakan sebuah hinaan bagi para seniman yang sudah meluangkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk menghasilkan karya yang bergairah dan penuh emosi.