Di Balik Dinding Dingin: Menyingkap Bahasa Cinta yang Gagal Terucap

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Karina Hafni Febriana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cerpen “Daftar Belanja Mamak” karya Fri Yanti menawarkan sebuah potret domestik yang sangat dekat dengan realitas keluarga di Indonesia, Komunikasi yang kaku antara orang tua dan anak. Kisah ini berfokus pada Arini yang menemukan catatan belanja peninggalan almarhumah ibunya (Mamak). Melalui buku lusuh tersebut, Arini menyadari bahwa di balik figure ibu yang keras, terdapat cinta yang bekerja dalam diam.
Keterkaitan antarunsur emosional dan dinamika karakter inilah yang membuat pesan moral mengenai ketulusan kasih sayang dalam fiksi ini tersampaikan dengan sangat mendalam kepada pembaca. Hal ini sejalan dengan pandangan Burhan Nurgiyantoro yang menegaskan bahwa keutuhan sebuah fiksi justru terletak pada keterjalinannya yang erat antar berbagai unsur pembangunnya sehingga unsur-sunsur tersebut dapat saling mengisi dan melengkapi.
Dibalik Karakter yang Menggerakkan Pesan Cerita
Dalam sebuah fiksi, kehadiran tokoh bukan sekedar pengisi latar tempat. Burhan Nurgiyantoro menegaskan bahwa “penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita”. Lebih jauh lagi, ia menambahkan bahwa “Tokoh cerita menempati posisi strategis sebgai pembawa dan penyampai pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca”.
Dalam cerpen ini, Fri Yanti tidak menceramahi pembaca tentang bagaimana anak seharusnya berbakti atau bagaimana orang tua berkorban. Ia justru meletakkan amanat tersebut secara tersirat di dalam dinamika karakter Mamak dan Arini. Melalui interaksi dan konflik batin tokoh-tokoh inilah nilai-nilai kasih sayang keluarga tersampaikan secara organik.
Watak Mamak yang Penuh Sisi Tak Terduga
Konstruksi watak Mamak adalah salah satu daya tarik terbesar dalam cerpen ini. Ia tidak digambarkan hitam-putih sebagai ibu peri yang sempurna. Di awal cerita, ingatan Arini dipenuhi oleh kekakuan dan ketegasan Mamak saat berdebat tentang pilihan masa depan
“Terserah kau! Tidak akan kubayar uang sekolahmu kalau kau bersikeras mengambil UGM”
Mamak dalam perspektif Nurgiyantoro dapat dikategorikan sebagai tokoh bulat. Berbeda dengan tokoh sederhana yang berwatak datar, tokoh bulat menurut Nurgiyantoro adalah “tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupan, sisi kepribadian dan jati dirinya. Ia dapat saja memiliki watak tertentu yang dapat diformulasikan, namun ia pun dapat pula menampilkan watak dan tingkah laku bermacam-macam, bahkan mungkin seperti bertentangan dan sulit diduga”.
Sifat Mamak yang tampak bertentangan dan sulit di duga inilah yang membalikkan logika cerita. Secara lisan, Mamak bersikap dingin dan menentang keras hobi mendaki Arini. Namun dibalik layar, ia justru memastikan keselamatan anaknya secara sembunyi-sembunyi melalui pihak ketiga.
“Pastikan Krisman tidak bilang ke Arini kalau Ikan Mas Arsik itu bikinanku. Pastikan juga sepatu gunung untuk Arini sudah dia pakai.”
Kontradiksi antara tindakan verbal (keras) dan tindakan nyata (penuh perhatian) menunjukkan betapa dinamis dan manusiawinya penokohan Mamak yang dirancang oleh pengarang.
Ketika Penyesalan Menyingkap Ironi Bahasa Kasih
Dinamika karakter ini juga berkelindan erat dengan perkembangan alur dan penyingkapan tema utama. Nurgiyantoro mengutip Henry James yang menyatakan "What is character but the determination of incident? What is incident but the illustration of character?"
Hubungan timbal balik ini terlihat saat Arini pulang ke rumah masa kecilnya yang sunyi pasca-kematian Mamak. Kepulangan tersebut menjadi incident (peristiwa) yang menguji sekaligus mengilustrasikan karakter Arini yang dipenuhi penyesalan. Ketika ia menemukan buku daftar belanja yang mencatat alokasi uang saku, sepatu, hingga baju kuliah untuk dirinya runtuhlah ego Arini.
Perubahan psikologis Arini dari membenci menjadi meratapi ketidakmampuannya memahami sang ibu adalah katarsis cerita. Penokohan yang solid berhasil mengantarkan tema universal, bahwa bahasa kasih sayang tidak selalu berupa kata-kata manis, melainkan kerap mewujud dalam peluh dan penghematan domestik yang sunyi.
Pada akhirnya, cerpen “Daftar Belanja Mamak” berhasil menjadi karya fiksi yang serius dan mendalam karena kekuatan penokohannya. Dengan menghadirkan Mamak sebagai "tokoh bulat" yang kompleks, Fri Yanti sukses menyentil realitas psikologis hubungan orang tua-anak di Indonesia, sekaligus mengingatkan kita untuk belajar membaca bahasa cinta yang sering kali tersembunyi di tempat-tempat tak terduga.
Daftar Pustaka
Nurgiyantoro, B. (2013). Teori pengkajian fiksi. Gadjah Mada University Press.
Yanti, F. (2026, 20 Maret). Daftar belanja mamak. Kompas.id.https://www.kompas.id/artikel/daftar-belanja-mamak
