Konten dari Pengguna

Laba Besar, Dividen Kecil: Pelit atau Sedang Menyiapkan Masa Depan?

Karina Mustika Sari

Karina Mustika Sari

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Karina Mustika Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perencanaan keuangan perusahaan dalam menentukan pembagian dividen. (Sumber: Pexels)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perencanaan keuangan perusahaan dalam menentukan pembagian dividen. (Sumber: Pexels)

Perusahaan mencatat laba besar, tetapi dividen yang dibagikan justru tidak sebesar harapan. Bagi pemegang saham yang menantikan hasil investasi, keputusan seperti ini tentu bisa menimbulkan pertanyaan: ke mana keuntungan perusahaan digunakan?

Sekilas, membagikan laba sebanyak mungkin terdengar menyenangkan bagi investor. Namun, perusahaan juga perlu menyiapkan dana untuk menjalankan usaha, memenuhi kewajiban, dan membiayai pengembangan bisnis. Membagikan keuntungan hari ini dan menjaga pertumbuhan untuk esok hari ternyata tidak selalu mudah dilakukan bersamaan.

Di antara dua kebutuhan itulah kebijakan dividen berperan.

Tidak Semua Laba Harus Dibagikan

Menurut Samrotun (2015), kebijakan dividen merupakan keputusan mengenai apakah laba perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham atau ditahan untuk membiayai investasi pada masa mendatang. Artinya, laba yang tidak dibagikan bukan otomatis hilang dari kepentingan investor, melainkan dapat digunakan kembali untuk mendukung kegiatan perusahaan.

Sebagai ilustrasi, sebuah perusahaan memperoleh laba bersih Rp10 miliar. Manajemen kemudian mengalokasikan Rp4 miliar untuk dividen dan menahan Rp6 miliar untuk pengembangan usaha. Dalam contoh ini, rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio mencapai 40 persen.

Apakah angka tersebut terlalu kecil? Belum tentu. Penilaiannya perlu melihat kebutuhan dan rencana perusahaan. Menahan laba untuk investasi yang terencana tentu berbeda dengan menahan laba tanpa penjelasan yang memadai.

Hatta (2002) membahas persoalan kebijakan dividen dalam kaitannya dengan pilihan perusahaan antara membagikan laba dan menggunakannya kembali untuk investasi. Dengan demikian, keputusan dividen tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan kebutuhan pendanaan perusahaan.

Mengapa Pola Pembayarannya Berbeda?

Tidak semua perusahaan membagikan dividen dengan pola yang sama. Samrotun (2015), dengan merujuk Sundjaja dan Barlin, menjelaskan tiga pola kebijakan dividen, yaitu pembayaran dengan rasio konstan, dividen teratur, serta dividen teratur dalam jumlah rendah yang dapat ditambah dividen ekstra.

Pada pola rasio konstan, perusahaan mempertahankan persentase laba yang dibagikan. Akibatnya, jumlah dividen dapat naik atau turun mengikuti laba. Sementara itu, pola dividen teratur berupaya menjaga pembayaran relatif konsisten. Adapun dividen ekstra memberikan tambahan di luar pembayaran rutin ketika kondisi perusahaan memungkinkan.

Perbedaan pola ini menunjukkan bahwa kebijakan dividen perlu disesuaikan dengan kemampuan perusahaan. Dividen yang besar pada satu periode belum tentu dapat dipertahankan pada periode berikutnya. Karena itu, pertimbangannya bukan hanya seberapa besar laba yang diperoleh, tetapi juga kondisi keuangan, kebutuhan pendanaan, peluang investasi, dan kemampuan membayar dividen secara berkelanjutan. Faktor-faktor tersebut menjadi bagian penting dalam pembahasan kebijakan dividen.

Investor Tidak Selalu Menginginkan Hal yang Sama

Ada investor yang menyukai penerimaan dividen secara berkala. Ada pula yang bersedia menunggu karena lebih tertarik pada potensi pertumbuhan perusahaan.

Perbedaan tersebut dijelaskan melalui clientele effect. Dalam pembahasan Anindya dan Muzakir (2023), investor cenderung memilih perusahaan dengan kebijakan dividen yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensinya. Karena itu, kebijakan yang menarik bagi satu kelompok investor belum tentu menjadi pilihan utama kelompok lainnya.

Pandangan lain muncul melalui bird in the hand theory yang dibahas Lakoni dan Hidayati (2022). Teori ini menjelaskan preferensi investor terhadap penerimaan dividen saat ini dibandingkan keuntungan dari kenaikan harga saham yang masih diharapkan pada masa mendatang. Namun, pandangan tersebut bukan berarti saham pembagi dividen selalu bebas risiko.

Perbedaan preferensi ini membantu menjelaskan mengapa keputusan dividen dapat disambut dengan respons yang beragam. Sebagian investor mungkin puas menerima pembayaran rutin, sementara yang lain ingin mengetahui bagaimana laba ditahan dapat mendukung perkembangan bisnis.

Dividen Bisa Menjadi Sinyal, Bukan Jaminan

Pembagian dividen juga dapat membawa pesan kepada pasar. Melalui signalling theory, keputusan tersebut dapat dibaca sebagai informasi mengenai kondisi dan prospek perusahaan, terutama karena manajemen memiliki informasi internal yang tidak seluruhnya diketahui investor.

Meski demikian, Anindya dan Muzakir (2023) juga membahas bahwa hubungan antara dividen dan sinyal keuntungan tidak selalu menunjukkan temuan yang seragam. Artinya, dividen tidak cukup dijadikan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa masa depan perusahaan pasti cerah.

Menurut saya, hal yang patut diperhatikan justru keterbukaan alasan di balik keputusan tersebut. Ketika laba ditahan, pemegang saham perlu memahami rencana penggunaannya. Ketika dividen dibagikan, perusahaan tetap perlu menjelaskan bagaimana kebutuhan usahanya akan terpenuhi.

Melihat Lebih Jauh daripada Nominal

Dividen kecil tidak otomatis berarti perusahaan pelit. Sebaliknya, dividen besar juga tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh kondisi perusahaan baik-baik saja. Penilaian perlu mempertimbangkan kondisi keuangan, prospek usaha, serta kebijakan perusahaan secara lebih menyeluruh, sebagaimana ditekankan dalam pembahasan dan saran mengenai keputusan investasi, investor tetap perlu melihat kondisi keuangan, prospek usaha, dan alasan perusahaan menentukan besarnya dividen.

Bagi saya, inti kebijakan dividen terletak pada keseimbangan: menghargai pemegang saham tanpa mengabaikan keberlanjutan usaha. Laba yang dibagikan memberi hasil saat ini, sedangkan laba yang ditahan membutuhkan alasan dan arah penggunaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jadi, ketika perusahaan mengumumkan dividen, pertanyaannya tidak perlu berhenti pada satu hal: “Berapa yang dibagikan?” Pertanyaan berikutnya justru lebih penting: “Apa yang sedang disiapkan perusahaan dengan laba yang tersisa?”.