Konten dari Pengguna

Kenapa Takut Bicara Politik?

karina nur zalika

karina nur zalika

mahasiswa pgsd universitas pamulang

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari karina nur zalika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar dihasilkan menggunakan AI (OpenAI DALL·E, 2025)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dihasilkan menggunakan AI (OpenAI DALL·E, 2025)

Meski hidup di negara demokrasi, banyak orang masih enggan membahas politik. Takut salah bicara, takut disalahpahami. Tapi, sampai kapan kita memilih diam?

“Ngomongin politik? Duh, males deh ribet, sensitif, takut salah.”

Kalimat ini sering kita dengar. Padahal, politik bukan cuma urusan elite. Ia menyentuh hidup kita dari harga beras sampai kebebasan berpendapat.

Indonesia sudah demokratis, tapi banyak dari kita masih memilih diam saat bicara politik muncul. Kenapa ya? Apakah karena trauma, takut debat, atau karena kita merasa tak berdaya?

Di grup WhatsApp keluarga, topik politik sering langsung sepi. Di tongkrongan, diskusi hangat mendadak sunyi begitu nama tokoh politik disebut. Bahkan di media sosial, banyak yang memilih scroll cepat saat ada unggahan soal pemerintahan, undang-undang, atau pemilu.

“Gue takut diserang,”

“Takut salah ngomong,”

“Gak mau cari ribut.”

Padahal, kita hidup di negara demokrasi, yang katanya menjamin kebebasan berpendapat. Jadi, kenapa masih banyak yang takut bicara politik?

1.Warisan Ketakutan dari Masa Lalu

Indonesia punya sejarah kelam soal kebebasan bicara. Di masa Orde Baru, orang bisa hilang hanya karena diskusi politik. Orang tua kita dulu terbiasa ‘diam agar selamat’. Mereka jarang mengajak anak-anaknya berdiskusi tentang negara, dan ini secara tak sadar diturunkan ke generasi kita.

Kita tumbuh dalam pola pikir: “politik itu urusan bahaya.”

“Dulu ayah saya selalu bilang, jangan ngomongin politik di luar. Saya kebawa sampai sekarang,” kata Nisa (24), pekerja kreatif.

2. Takut Salah Bicara, Takut Dicap

Di era digital, opini yang beda sedikit bisa langsung viral. Ada yang dijuluki ‘cebong’, ‘kampret’, ‘kadrun’, atau ‘buzzer’. Semua serba cepat dihakimi.

Akhirnya, orang-orang lebih memilih diam, daripada menghadapi debat panjang, ad hominem, atau bahkan doxing.

“Saya pernah hanya komentar soal pemilu di Twitter, eh, akun saya dibanjiri komentar kasar,” kata Rio (21), mahasiswa.

3. Politik Dianggap Kotor dan Tidak Relevan

Banyak yang menganggap politik itu penuh intrik, korupsi, atau cuma urusan elite. Di sisi lain, generasi muda lebih nyaman membahas self-healing, karier, atau tren lifestyle yang terasa lebih dekat dan aman.

Padahal, semua itu juga ditentukan oleh kebijakan politik: dari biaya pendidikan, kebebasan berekspresi, sampai akses kesehatan mental.

Politik bukan soal partai dan kursi kekuasaan. Ia soal hidup sehari-hari.

4. Tidak Ada Ruang Aman untuk Diskusi

Banyak yang sebenarnya ingin belajar dan bicara soal politik, tapi tidak tahu harus ke mana. Diskusi di kelas sering terlalu formal, debat di medsos terlalu bising, dan di keluarga terlalu sensitif.

Maka banyak dari kita menyimpan pendapat dalam hati, tanpa tempat untuk diluapkan dengan sehat.

Penutup: Diam Juga Sikap Politik

Politik adalah tentang suara. Kalau kita diam, yang bersuara adalah mereka yang berani entah demi kebaikan, atau demi kepentingan sendiri.

Diam bukan berarti netral. Diam adalah bentuk sikap. Maka pertanyaannya:

“Apakah kamu rela dikuasai oleh mereka yang lantang tapi tidak bijak?”

Demokrasi butuh kita semua. Bukan hanya yang berani teriak, tapi juga yang mau berpikir, mendengar, dan berdialog.

#KenapaTakutBicaraPolitik

#BudayaDiam

#SuaraAnakMuda

#PolitikItuDekat

#DemokrasiKita

#JanganTakutBersuara

#BeraniBicara

#PolitikBukanTabu

#IndonesiaBersuara

#AnakMudaBicara