Konten dari Pengguna

Seni 'Quiet Thriving': Strategi Menjaga Kesejahteraan Mental di Dunia Kerja

karina nur zalika

karina nur zalika

mahasiswa pgsd universitas pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari karina nur zalika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Dok. Istimewa / AI Generated. Seorang profesional sedang menikmati waktu jeda di sela pekerjaan untuk menjaga kesehatan mental.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dok. Istimewa / AI Generated. Seorang profesional sedang menikmati waktu jeda di sela pekerjaan untuk menjaga kesehatan mental.

Dalam dinamika dunia kerja yang kian kompetitif, fenomena kelelahan kerja atau burnout sering kali menjadi momok bagi para profesional. Fenomena ini kemudian melahirkan tren quiet quitting, ketika seseorang bekerja hanya sebatas memenuhi kewajiban formal. Namun, kini muncul alternatif yang lebih solutif dan positif, yakni Quiet Thriving.

Urgensi Menjaga Kesehatan Mental saat Bekerja ​Berdasarkan tinjauan psikologis, kejenuhan yang berlarut-larut dapat mendegradasi produktivitas dan kualitas hidup seseorang. Mengutip laporan kesehatan global, angka stres di lingkungan profesional mengalami eskalasi yang signifikan dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. ​Oleh karena itu, mengadopsi mekanisme pertahanan diri yang sehat menjadi sangat krusial agar efikasi diri tetap terjaga.

Langkah Praktis Menerapkan 'Quiet Thriving' ​Berikut adalah beberapa strategi yang dapat Anda terapkan untuk meningkatkan kepuasan kerja:

  1. ​Rekonstruksi Tugas (Job Crafting) Anda dapat meninjau kembali deskripsi pekerjaan Anda. Cobalah untuk memberikan atensi lebih pada proyek yang sesuai dengan minat dan kompetensi Anda, sembari meminimalisasi distraksi dari tugas yang kurang relevan secara perlahan.

  2. ​Penetapan Batasan Profesional Disiplin dalam menetapkan batasan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan adalah kunci. Hindari keterikatan dengan gawai untuk urusan kantor setelah jam operasional berakhir agar otak memiliki waktu untuk memulihkan energi (rehabilitasi mental).

  3. Membangun Relasi Sosial yang Berkualitas Memiliki rekan kerja yang suportif dapat berfungsi sebagai penyangga (buffer) terhadap stres. Komunikasi yang baik dengan kolega terpercaya akan menciptakan ekosistem kerja yang lebih hangat dan manusiawi.

  4. ​Praktik Jeda Mikro (Micro-breaks) Alih-alih memaksakan diri bekerja secara repetitif selama berjam-jam, manfaatkanlah waktu jeda selama lima menit. Sekadar melakukan peregangan atau relaksasi mata dapat menjaga stabilitas kognitif Anda.

Kesejahteraan mental di kantor bukanlah sebuah pemberian, melainkan sesuatu yang harus diupayakan secara sadar. Dengan menerapkan prinsip quiet thriving, kita bertransformasi dari sekadar pekerja yang bertahan hidup menjadi individu yang berdaya.

Kalau Anda, bagaimana cara menjaga kesehatan mental di kantor? Tulis pendapat Anda di kolom komentar, ya!